Tiga Murid Baru, SD Semarang Tetap Gelar MPLS Meriah

Eko P. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Tiga Murid Baru, SD Semarang Tetap Gelar MPLS Meriah

Gambar atau konten salah?

Semarang — Tiga anak duduk rapi di dalam kelas. Mereka adalah satu-satunya murid baru di SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, tahun ini. Di belakang mereka, beberapa meja kosong ditumpuk tak terpakai.

Meski jumlahnya sangat sedikit, sekolah tetap menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara meriah pada Senin, 13 Juli 2026. Seluruh guru menyambut para siswa di gerbang sejak pukul 07.00 WIB. Mereka berdiri bersama maskot sekolah tahun ini: Si Badut.

Kepala SDN Purwoyoso 01, Hajar Riatiani, menjelaskan bahwa awalnya ada lima calon siswa yang mendaftar secara online. Namun dua di antaranya tidak melakukan daftar ulang. "Yang mendaftar online ada lima. Tapi dua tidak daftar ulang, jadi yang fix masuk hanya tiga siswa saja," kata Hajar di sekolahnya.

Menurut Hajar, minimnya jumlah siswa baru bukan karena fasilitas sekolah yang buruk. Justru sebaliknya. "SDN Purwoyoso 01 itu lengkap semua untuk kelas terpenuhi ada 6 kelas, masing-masing ada lab komputer tidak dompleng kelas, perpustakaan, ruang UKS, musala, lengkap. Halaman juga ada, Smart TV bantuan pemerintah juga ada, terus fasilitas olahraga," urainya.

Penyebab utamanya adalah kondisi demografi. "Tapi sedikitnya siswa ini karena lingkungan demografi. Di sekitar sekolah ini sudah tidak ada perumahan yang produktif. Rata-rata penduduknya sudah lansia, tidak punya anak usia masuk SD," lanjut Hajar.

Banyak warga, kata Hajar, pindah ke daerah perbatasan seperti Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Di sana banyak perumahan subsidi. Harga rumah di Kota Semarang dinilai sudah terlalu mahal. "Kemudian sekolah sekitar kita juga masih kekurangan siswa. Jadi kita tidak mendapat limpahan dari sekolah sekitarnya," tuturnya.

Pada tahun ajaran sebelumnya, SDN Purwoyoso 01 menerima 11 murid baru. Di tengah tahun ajaran, jumlahnya bertambah satu, sehingga total menjadi 12 siswa baru.

Rangkaian MPLS tahun ini dimulai dengan penyambutan di gerbang. Guru-guru dan maskot badut berdiri menyambut siswa dari kelas 1 hingga 6. Kemudian dilanjutkan upacara pembukaan dan pengalungan cocard untuk peserta didik baru.

Tiga murid baru mendapat perlengkapan sekolah gratis: topi, dasi, atribut kelas, dan tanda pengenal sekolah. Dalam waktu dekat, sekolah juga akan membagikan seragam batik dan seragam olahraga secara gratis.

Setelah itu, ada perkenalan guru dan tenaga pendidik, perkenalan antarsiswa, dan permainan sederhana. "Berikutnya ada tur keliling sekolah, pengenalan fasilitas, menyanyikan Jingle MPLS, dilanjutkan mewarnai gambar lingkungan sekolah dan penyampaian kesan hari pertama," jelas Hajar.

Hajar menegaskan, berapapun jumlah murid baru, sekolah tetap memberikan penyambutan terbaik. "Berapapun muridnya tetap kita sambut dengan meriah. Setiap tahun kita ganti tema. Kali ini temanya sirkus, ada badutnya juga," ucapnya.

"Kita tetap semangat, tidak ngelokro, tidak kendor, pembukaan tetap semeriah mungkin, biar anak-anak semangat untuk kembali belajar," imbuhnya.

Fenomena ini menggambarkan tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah di perkotaan. Bukan karena kualitas atau fasilitas, melainkan perubahan demografi dan perpindahan penduduk ke daerah pinggiran yang lebih terjangkau. Sekolah tetap berusaha memberikan pengalaman terbaik bagi murid yang ada, sekecil apapun jumlahnya.

MPLSmurid barudemografiSDN Purwoyoso 01fasilitas sekolahperpindahan pendudukSemarang

Komentar

Memuat komentar...