Meteor Besar Melintas di Langit Jawa
Gambar atau konten salah?
Sebuah benda langit terang melesat di langit Pulau Jawa pada Sabtu malam, 11 Juli 2024. Video dan foto kejadian ini langsung membanjiri media sosial. Warga dari berbagai daerah merekam momen tersebut. Beberapa orang bahkan mengaku mendengar suara dentuman keras setelah benda itu lewat.
Peneliti Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika dari BRIN, Thomas Djamaluddin, memberikan penjelasan. Ia memastikan bahwa fenomena itu adalah meteor berukuran besar yang memasuki atmosfer Bumi. "Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar sehingga tampak sebagai meteor," kata Thomas.
Berdasarkan laporan dari berbagai wilayah, meteor pertama kali terdeteksi di atas Laut Jawa. Kemudian, sekitar pukul 21.22 WIB, meteor terlihat dari Bekasi. Saat itu, ketinggiannya masih cukup tinggi. Dari bawah, ia tampak seperti titik cahaya putih kecil. Thomas menjelaskan, batuan antariksa mulai berpijar saat memasuki atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer. Gesekan dengan udara mengikis permukaan batuan. Proses ini disebut ablasi, dan menghasilkan cahaya yang sangat terang.
Analisis lintasan menunjukkan meteor bergerak ke arah tenggara. Ia melintasi sebagian wilayah Pulau Jawa. Semakin masuk ke lapisan atmosfer yang lebih rapat, cahayanya semakin terang. Warna meteor pun berbeda-beda di setiap daerah. Di Cirebon dan Kuningan, warga melaporkan suara dentuman. "Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara. Gelombang kejut itu baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan," jelas Thomas.
Sementara itu, warga Majalengka melihat meteor berwarna biru. Objek yang sama kemudian terlihat di kawasan Nagreg sekitar pukul 21.23 WIB. Di Tasikmalaya, meteor tampak sebagai cahaya terang yang sesekali menerangi awan. Ketika melintas di Yogyakarta, meteor memancarkan cahaya hijau terang. "Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya yang berbeda ketika dipanaskan. Warna hijau pada meteor umumnya berkaitan dengan kandungan magnesium atau nikel yang terbakar selama proses masuk ke atmosfer," kata Thomas.
BRIN memperkirakan meteor terus bergerak ke arah tenggara. Kecepatannya perlahan hilang. Kemungkinan besar, meteor berakhir di Samudera Hindia, di selatan Jawa Timur atau Bali. Thomas menegaskan, fenomena seperti ini sebenarnya wajar. Setiap hari, Bumi menerima jutaan batuan antariksa. Sebagian besar berukuran sangat kecil. Mereka habis terbakar di atmosfer dan hanya terlihat sebagai bintang jatuh. Meteor berukuran besar seperti yang melintas di langit Jawa pada Sabtu malam memang lebih jarang terjadi. Itulah sebabnya peristiwa ini bisa disaksikan secara luas.
Thomas juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya pada spekulasi di media sosial. Atmosfer Bumi adalah pelindung alami yang sangat efektif. Sebagian besar meteoroid akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan. "Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir," pungkas Thomas.
Peristiwa meteor besar seperti ini mengingatkan kita bahwa Bumi bukanlah planet yang terisolasi. Setiap hari, ada ribuan ton debu dan batuan dari luar angkasa yang masuk ke atmosfer. Hanya yang berukuran cukup besar yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Dan lebih jarang lagi yang menghasilkan suara dentuman. Jadi, meskipun terlihat dramatis, ini adalah bagian dari proses alami yang terjadi terus-menerus di sekitar planet kita.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Telkomsel Raih Tiga Penghargaan Global di Denmark
Meta Terancam Denda Rp191 Triliun karena Bikin Kecanduan
Empat Negara Tuntut Meta Denda Rp 22.000 Triliun
Ular Betina Ini Bisa Berkembang Biak Tanpa Kawin
Meta Rilis Fitur AI Gambar Tanpa Izin Pengguna
CBN Gunakan AI Percakapan untuk Layanan Pelanggan
Berita Terbaru
Meteor Besar Melintas di Langit Jawa
Telkomsel Raih Tiga Penghargaan Global di Denmark
Pratikno: Prestasi Sia-sia Jika Mental Anak Terganggu
Dua Siswa Baru di SDN 1 Gedung Meneng
Anggaran Lumpur Dipotong, Tanggul Lapindo Kritis
Korsel Keluarkan Peringatan Darurat Gelombang Panas Perdana
Magang di Singapura Kencingi Botol Rekan Kerja, Divonis Percobaan