Zimperium Ungkap 250 Aplikasi Jahat Menyalurkan Uang Android
Gambar atau konten salah?
Perusahaan keamanan siber Zimperium mengungkap hampir 250 aplikasi jahat yang diam-diam menyalurkan uang dari pengguna Android. Penipuan ini telah menimpa korban di setidaknya empat negara.
Aplikasi berbahaya ini meniru banyak game dan media sosial populer, termasuk TikTok, Minecraft, Grand Theft Auto, Threads, dan Facebook Messenger. Setelah diunduh, aplikasi tersebut secara otomatis mendaftarkan pengguna ke layanan berlangganan premium tanpa sepengetahuan mereka.
Skema penipuan ini memanfaatkan teknik canggih seperti injeksi JavaScript, pengecatan one‑time password (OTP), dan otomasi WebView. Teknik ini dirancang untuk menghindari deteksi, mengotomatisasi langganan, dan mengekstrak data.
Malware ini membaca kartu SIM korban dan hanya aktif untuk operator tertentu. Jika pengguna berada di operator yang ditargetkan, aplikasi menampilkan halaman web yang tampak tidak berbahaya. Selanjutnya, malware menggunakan taktik rekayasa sosial untuk membuat korban percaya mereka sedang mengautentikasi akun game.
Setelah otentikasi, aplikasi jahat menyalahgunakan API Google untuk menangkap SMS OTP yang masuk. Perintah JavaScript kemudian dikirim ke halaman web tersembunyi, memicu langganan konten premium lewat portal billing operator.
Hasilnya, pengguna Android yang menjadi korban melihat tagihan telepon mereka membengkak karena mereka dipaksa berlangganan secara diam‑diam melalui operator. Kampanye ini pertama kali terdeteksi pada Maret 2025 dan masih berlangsung hingga Januari 2026.
Menurut laporan Zimperium, sebagian besar korban berada di Malaysia, Thailand, Romania, dan Kroasia. Hacker di balik kampanye ini menggunakan tiga varian malware, masing‑masing dengan strategi yang sedikit berbeda.
Varian pertama mengandalkan sistem langganan otomatis. Varian kedua membaca kartu SIM untuk menargetkan operator yang telah ditentukan. Varian ketiga menggabungkan teknik rekayasa sosial dan penyalahgunaan API Google untuk menipu pengguna.
Google menyatakan bahwa hampir 250 aplikasi berbahaya tersebut tidak tersedia di Play Store, dan seluruh pengguna Android sudah dilindungi oleh Google Play Protect. “Pengguna Android secara otomatis terlindungi dari versi malware yang dikenal oleh Google Play Protect, yang diaktifkan secara default di perangkat Android dengan Google Play Services,” kata juru bicara Google, seperti dikutip dari BGR, Minggu (31/5/2026).
Peristiwa ini menegaskan bahwa walaupun sistem perlindungan bawaan sudah ada, malware yang menargetkan operator melalui data SIM dan memanfaatkan rekayasa sosial tetap dapat menimbulkan kerugian finansial bagi pengguna. Kesadaran dan kewaspadaan tetap menjadi kunci untuk menghindari penipuan semacam ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
