Zulhas Luncurkan Alat Sampah Anti-Penuh 3 Tahun
Gambar atau konten salah?
Di Lapangan Renon, Denpasar, pada Selasa, 07 Juli 2026, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperkenalkan sebuah alat baru. Alat ini bernama lahsamor, sebuah teknologi pengolah sampah organik. Acara perkenalannya berlangsung saat Apel Siaga Pilah Sampah.
Lahsamor bukanlah alat sembarangan. Teknologi ini merupakan hasil karya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Zulkifli, yang akrab disapa Zulhas, menjelaskan bahwa alat ini dirancang khusus untuk kebutuhan rumah tangga. "Nah ini ada alat buatan BRIN tapi ini untuk rumah tangga," ujarnya.
Ukuran lahsamor memang terbilang kecil. Namun, Zulhas menyebutkan ada kelebihan tersembunyi. Jika diisi dengan sampah organik dan dipakai setiap hari, alat ini tidak akan penuh dalam waktu tiga tahun. "Tapi tadi saya minta juga agak besar bisa untuk misalnya 50 kilogram untuk satu sekolah pas," ungkap Ketua Umum PAN itu.
Bagi rumah tangga yang tidak memiliki lahan luas untuk membuat teba modern, lahsamor menjadi pilihan. Cara pakainya cukup sederhana. Sampah organik, terutama yang mudah membusuk, dimasukkan ke dalam alat. Lalu, pengguna tinggal memutar alat secara manual sebanyak lima kali. Metode ini diulang setiap kali ada sampah organik baru yang dimasukkan.
Selain lahsamor, Zulhas juga menyampaikan kabar tentang rencana groundbreaking teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Proyek ini akan dimulai pada Rabu, 08 Juli 2026, di Pesanggaran, Denpasar Selatan.
Menurut Zulhas, PSEL bisa menjadi jawaban untuk masalah sampah di Bali. Selama ini, persoalan sampah di Bali sudah masuk kategori darurat. Hal serupa juga terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di berbagai daerah lain. "Jadi ini memang sudah darurat bisa diselesaikan melalui waste to energy pakai teknologi yang sudah maju yang dipakai negara-negara lain yaitu insinerator," beber Zulhas.
PSEL di Bali menjadi peluncuran perdana teknologi waste to energy di Indonesia. Zulhas menegaskan bahwa Bali adalah kunci awal kesuksesan pengelolaan sampah. "(PSEL) itu bisa menyelesaikan 22 persen, masih ada 77 persen. Maka itu tadi kuncinya pemilahan ini kuncinya bisa sampai 50 persen," ujarnya.
Zulhas mengakui ada kendala utama dalam pemilahan sampah. Kesadaran masyarakat untuk mengubah kebiasaan lama belum sepenuhnya terbentuk. "Tapi kalau seperti di kantor, sekolahan, pasar, mal, itu ada organisasinya ada yang mengurus itu lebih mudah. Tapi kalau rumah kan harus mengubah kebiasaan, mengubah budaya itu memang perlu waktu," sebut Zulhas.
Dari penjelasan Zulhas, terlihat bahwa pemerintah memiliki dua pendekatan untuk masalah sampah. Pertama, alat skala rumah tangga seperti lahsamor untuk pemilahan dari sumbernya. Kedua, teknologi besar seperti PSEL untuk mengolah sampah yang sudah terkumpul menjadi listrik. Keduanya diharapkan saling melengkapi, meskipun tantangan terbesar tetap ada pada kebiasaan masyarakat di tingkat rumah tangga.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PAD Denpasar Tembus Rp 2,2 Triliun, Infrastruktur 2026 Dikebut
Warung Sembako Hangus, Kerugian Capai Rp500 Juta
Australia Peringatkan Warganya: Jangan Cari Uang di Bali Pakai Visa Turis
Dua SD di Karangasem Nihil Siswa Baru
Dana Santunan Akta Kematian Karangasem Habis
Denpasar Tata Pusat Kota hingga Pantai untuk Tarik Wisatawan
Berita Terbaru
Zulhas Luncurkan Alat Sampah Anti-Penuh 3 Tahun
Damkar Sumedang, Ucapkan Ultah Pakai Gas
Argentina vs Mesir di 16 Besar Piala Dunia
Kemenkes Libatkan Polisi Usut Kematian Dokter PPDS
Pemkab Bogor Hidupkan Lagi Wacana Kereta Gantung Puncak
Anak di Bawah 17 Tahun Daftar Nomor Ponsel Pakai Wajah Orang Tua
Modi Janji Obat Murah dan Gandum untuk RI