122 Program Studi Tutup 2026, Fokus Pengembangan Industri
Gambar atau konten salah?
02 Juni 2026 – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyatakan bahwa pada tahun 2026 akan ditutup 122 program studi di perguruan tinggi negeri dan swasta. Ia menegaskan bahwa penutupan tersebut didasarkan pada usulan dari lembaga penyelenggara, baik PTN maupun PTS.
Dalam rapat dengan Komisi X DPR RI, Brian menegaskan, “Kami perlu sampaikan di halaman berikutnya, bahwa sepanjang tahun 2026 itu memang telah dilakukan penutupan 122 program studi, tetapi seluruh penutupan itu adalah berdasarkan usulan dari badan penyelenggara baik PTN maupun PTS.”
Ia menjelaskan bahwa penutupan prodi mengikuti dua ketentuan: satu, berdasarkan usulan; dua, berdasarkan sanksi atas pelanggaran berat. Salah satu alasan yang disebutkan adalah penurunan jumlah mahasiswa dan kebutuhan untuk mengubah arah prodi.
Contohnya, jurusan matematika sebelumnya diubah menjadi aktuaria. Brian berkata, “Seperti misalnya sebelumnya matematika menjadi aktuaria, karena ketika lulusan aktuaria mereka fokus pelajarannya lebih banyak yang nantinya dibutuhkan oleh industri.”
Di sisi lain, Brian menegaskan bahwa kebijakan pemerintah tidak menutup prodi secara sembarangan. Ia menekankan bahwa fokusnya adalah pada pembinaan dan pengembangan. “Karena sesungguhnya program studi itu tidak ditutup, tetapi lebih kepada substansinya, misalnya yang sebelumnya jurusan teknik elektro, kemudian sekarang berkembang menjadi AI atau machine learning atau robotics,” jelasnya.
Untuk memastikan kurikulum tetap relevan, Brian meminta badan kerja atau koordinasi prodi melakukan evaluasi rutin setiap 3–4 tahun. Evaluasi ini bertujuan mengukur bagian keilmuan fundamental yang wajib dipertahankan dan sejauh apa materi pembelajaran perlu diarahkan ke bidang-bidang yang lebih implementatif.
Ia menegaskan kembali, “Sekali lagi kami sampaikan alih-alih kita menutup, tetapi kita mengembangkan program studi untuk bisa sesuai, matching dengan kebutuhan industri, tetapi bukan atau tidak dengan cara menutup program studi, tetapi lebih mengembangkan dan menyesuaikan substansi yang diajarkan.”
Dengan langkah ini, pemerintah berharap program studi dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri masa depan, sambil menjaga kualitas pendidikan dan relevansi kurikulum.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
