300 Ton Sampah Palembang Hilang Tiap Hari

Dewi M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
300 Ton Sampah Palembang Hilang Tiap Hari

Gambar atau konten salah?

Kota Palembang masih bergulat dengan masalah sampah yang belum terselesaikan. Setiap harinya, kota ini menghasilkan sekitar 1.300 ton sampah. Namun, dari jumlah tersebut, hanya sekitar 1.000 ton atau 74,32 persen yang berhasil dikelola dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Artinya, masih ada sekitar 300 ton sampah setiap hari yang tidak tertangani dengan baik. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan pencemaran lingkungan. Sebab, sebagian sampah diduga tidak diolah dari sumbernya dan berakhir dibuang secara sembarangan.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa membenarkan situasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa angka timbulan sampah dihitung berdasarkan jumlah penduduk Kota Palembang. Rata-rata, setiap orang menghasilkan 0,7 kilogram sampah per hari.

"Timbulan sampah itu rata-rata 0,7 kilogram dikali jumlah penduduk. Jadi totalnya sekitar 1.300 ton per hari. Sementara yang berhasil masuk ke TPA baru sekitar 1.000 ton. Artinya masih ada selisih sekitar 300 ton sampah yang belum tertangani," katanya kepada wartawan pada Jumat, 26 Juni 2026.

Dewa menjelaskan bahwa saat ini Kota Palembang memiliki dua TPA, yaitu TPA Sukawinatan dan TPA Karya Jaya. Kedua lokasi ini menjadi tempat pembuangan utama bagi sampah yang berhasil diangkut petugas setiap hari.

"Meski demikian, volume sampah yang masuk ke dua TPA tersebut masih belum mampu menampung seluruh timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat," ungkapnya.

Menurut Dewa, ada dua kemungkinan terkait 300 ton sampah yang tidak masuk ke TPA setiap hari. Sampah itu bisa saja sudah dikelola langsung dari sumbernya oleh masyarakat. Atau, justru dibuang secara sembarangan.

"Pilihannya hanya dua, dikelola dari sumbernya atau malah dibuang sembarangan ke sungai maupun tempat-tempat yang bukan semestinya," ujarnya.

Ia mengakui bahwa kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan masih perlu ditingkatkan. Hingga kini, masih ditemukan warga yang membuang sampah ke aliran sungai, termasuk Sungai Musi, maupun ke lahan kosong.

"Masih ada masyarakat yang belum sadar. Ada yang membuang sampah ke Sungai Musi, ada juga yang membuang sampah bukan pada tempatnya. Ini tentu menjadi perhatian kita bersama," ujarnya.

Untuk mengurangi masalah ini, Pemerintah Kota Palembang terus memperkuat kerja sama lintas organisasi perangkat daerah hingga tingkat kecamatan dan kelurahan. Berbagai program edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan. Salah satunya melalui gerakan gotong royong dan program Camat Anti Mager.

Program tersebut dinilai menjadi salah satu upaya membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Sekaligus mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Selain memperkuat pengelolaan dari hulu, Pemerintah Kota Palembang juga menyiapkan solusi jangka panjang. Solusi itu adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Saat ini, proyek pembangunan PLTSa terus dipercepat. PLTSa ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.

"Kami sedang mengebut pembangunan PLTSa yang ditargetkan bisa mulai beroperasi pada Oktober 2026. Dengan adanya PLTSa ini, sampah tidak hanya dibuang ke TPA, tetapi juga bisa diolah menjadi energi listrik," jelas Dewa.

Menurutnya, keberadaan PLTSa akan menjadi solusi konkret dalam mengurangi beban sampah di TPA. Sekaligus memanfaatkan sampah sebagai sumber energi baru. Dengan teknologi tersebut, sampah yang selama ini hanya ditumpuk di TPA nantinya dapat dikonversi menjadi energi listrik. Kapasitas TPA pun bisa lebih terjaga.

"Kami optimistis dengan adanya PLTSa, pengelolaan sampah di Kota Palembang akan beres. Saya berharap, persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan bisa teratasi secara menyeluruh," tutupnya.

Masalah sampah di Palembang bukan sekadar soal angka. Ada 300 ton sampah yang hilang setiap hari. Tidak diketahui pasti apakah sampah itu diolah atau dibuang sembarangan. Pemerintah kota mengandalkan dua TPA yang ada, namun kapasitasnya terbatas. Program edukasi dan gotong royong digalakkan. Namun, solusi jangka panjang yang diandalkan adalah PLTSa yang ditargetkan beroperasi pada Oktober 2026. Jika berhasil, sampah tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber energi.

sampahPalembangTPAPLTSapencemaranedukasigotong royong

Komentar

Memuat komentar...