50 Tahun Satelit Indonesia, Saatnya Naik Kelas Jadi Pemain
Gambar atau konten salah?
Dunia satelit sedang berubah besar. Dulu, satelit geostasioner atau GEO mendominasi. Sekarang, ada banyak jenis orbit lain yang mulai dipakai. Mulai dari orbit rendah Bumi (LEO), orbit menengah (MEO), sampai orbit sangat rendah (VLEO). Perubahan ini membuka pintu bagi Indonesia. Bukan cuma jadi pemakai, tapi juga pemain di industri antariksa.
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Risdianto Yuli Hermansyah, bilang teknologi satelit berkembang cepat sekali. Ini mengubah seluruh lanskap industri. Indonesia harus memanfaatkan momentum ini. Caranya dengan memperkuat industri dalam negeri. Mulai dari riset, aturan, sampai pengembangan sumber daya manusia.
"Perkembangan regulasi, pengelolaan slot orbit dan spektrum frekuensi yang semakin padat secara internasional, serta kebutuhan meningkatkan tingkat komponen dalam negeri dan riset domestik harus dimanfaatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi pemain dunia," kata Risdianto. Ia menyampaikan ini saat peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Gedung BJ Habibie, Jakarta, pada 08 Juli 2026.
Dalam lima puluh tahun terakhir, peran satelit berubah drastis. Dulu, Satelit Palapa pertama kali diluncurkan tahun 1976. Fungsinya menghubungkan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sekarang, satelit jadi infrastruktur penting. Ia menopang transformasi digital di banyak sektor. Untuk mitigasi bencana, pemantauan wilayah, mengelola sumber daya alam, pertahanan, keamanan, sampai layanan keuangan digital.
"Satelit telah bertransformasi dari media komunikasi menjadi penggerak ekonomi, penjaga kedaulatan, dan pendorong daya saing bangsa," ujar Risdianto.
Teknologi satelit juga terus maju. Industri sekarang masuk ke era Very High Throughput Satellite (VHTS). Teknologi ini bisa menyediakan kapasitas internet yang jauh lebih besar. Satelit juga makin terintegrasi dengan jaringan di darat.
Ada juga megakonstelasi satelit non-geostasioner (NGSO). Lalu teknologi Direct-to-Device (D2D). Ini memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit. Belum lagi satelit Earth Observation yang berbasis analitik. Semua ini mengubah cara satelit dipakai di berbagai bidang.
Peluang Besar untuk Indonesia
Risdianto melihat perubahan ini bukan cuma tantangan. Ini peluang besar. Indonesia bisa membangun industri satelit nasional yang lebih mandiri. Indonesia punya pasar besar. Kebutuhan konektivitasnya juga tinggi sebagai negara kepulauan. Ini bisa jadi modal untuk memperkuat ekosistem satelit nasional. Asalkan didukung kebijakan yang tepat.
"Satelit menjadi fondasi konektivitas, memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari arus digital," katanya.
Membangun industri satelit tidak bisa hanya mengandalkan operator satelit. Perlu kolaborasi. Pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga riset harus bekerja sama. Supaya Indonesia bisa memanfaatkan peluang ekonomi antariksa yang terus berkembang.
ASSI, sebagai organisasi yang mewadahi pelaku industri satelit, menyatakan siap jadi mitra strategis pemerintah. Risdianto bilang ASSI mendorong lahirnya peta biru persatelitan nasional. Ini jadi acuan pengembangan industri satelit Indonesia dalam jangka panjang. Selain memperkuat industri dalam negeri, ASSI juga ingin mendorong lahirnya lebih banyak talenta muda. Mereka harus mampu bersaing di sektor antariksa.
"Harapan kami, Indonesia dapat tumbuh menjadi pemain kunci yang mandiri dengan ekosistem industri satelit nasional yang matang dari hulu hingga hilir," kata Risdianto.
Peringatan 50 tahun Satelit Indonesia, menurutnya, tidak boleh cuma jadi ajang mengenang Satelit Palapa. Lebih dari itu, peringatan ini harus jadi pengingat. Industri satelit dunia berubah cepat. Indonesia punya kesempatan untuk ambil peran lebih besar. Lewat kolaborasi, inovasi, dan penguatan industri dalam negeri.
Indonesia sudah menggunakan satelit selama setengah abad. Dari Palapa yang menyatukan Nusantara, sampai sekarang satelit jadi tulang punggung digital. Perubahan orbit dan teknologi baru memberi Indonesia pilihan. Tetap jadi penonton, atau naik kelas jadi pemain. Pilihan itu ada di tangan kebijakan dan kesiapan industri dalam negeri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz: Jangan Sekadar Cari Pemenang
ARIKSA Desak Pemerintah Segera Rumuskan Space Policy 2045
FIFA Selidiki Dugaan Rasis pada IShowSpeed
BRIN Targetkan Peluncuran Satelit NEO-1 Januari 2027
VARgentina: Banjir Hujatan Usai Argentina Tumbangkan Mesir 3-2
Komet Encke Kembali, Tapi Tak Seekstrem 2007
Berita Terbaru
PU Bangun Tiga Jalur Baru di Aceh Tengah
Pemuda Bandung Hilang Diterkam Buaya di Sungai Banyuasin
BPBD Petakan Titik Rawan Karhutla di Bandung
Jaminan Kontrak PPPK Jember hingga 2027
Suporter Piala Dunia 2026 Terpukau Saus Ranch hingga Es Batu
Argentina Bangkit, Hajar Mesir 3-2
Pria Jatuh ke Sumur 12 Meter di Sukabumi, Selamat
Tony Blair Temui Danantara, Investor Global Minati Indonesia
