7 Tempat Makan Lawas di Jakarta yang Resepnya Tak Pernah Berubah
Gambar atau konten salah?
Jakarta menyimpan banyak cerita. Bukan hanya lewat gedung tua atau kawasan bersejarah, tapi juga melalui makanan. Beberapa tempat makan di ibu kota sudah ada sejak zaman Batavia. Resepnya nyaris tidak berubah. Mereka bertahan puluhan tahun, bahkan lebih dari satu abad.
Ada kedai kopi lawas, restoran Chinese, toko roti, dan gerai es krim. Semua menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Kalau ingin merasakan sisi sejarah Jakarta lewat kuliner, tujuh tempat ini layak dikunjungi.
1. Restoran Eka Ria
Restoran Chinese ini berdiri sejak 1925 di Jakarta Pusat. Dulu namanya Jit Lok Jun, lalu berganti menjadi Eka Ria. Semua hidangan masih menggunakan resep keluarga Tjoeng Sang. Bumbu lokal dipadukan dengan resep turun-temurun. Hasilnya adalah cita rasa Chinese Peranakan yang sudah akrab di lidah orang Indonesia.
Menu favoritnya antara lain burung dara goreng, gundur tim, ayam goreng asam manis, dan angsio he — fillet ikan goreng dengan saus asam manis. Harga mulai Rp 60.000++. Konsistensi rasa membuat restoran ini bertahan lebih dari seratus tahun.
2. Ragusa Es Italia
Ragusa adalah ikon kuliner tertua di Jakarta. Kedai es krim ini berdiri sejak 1932 di Jalan Veteran I No.10, Gambir, Jakarta Pusat. Didirikan oleh kakak beradik asal Italia, Luigi dan Vicenzo Ragusa. Tempat ini masih mempertahankan es krim klasik dengan tekstur lembut. Tidak menggunakan gelato modern.
Menu seperti banana split dan es krim spaghetti menjadi favorit. Pada era 1940-an, Ragusa ikut meramaikan Pasar Malam Gambir. Saat itu, tempat ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya orang Belanda. Kini, Ragusa masuk dalam daftar 100 es krim terbaik dunia versi TasteAtlas. Harga mulai Rp 35.000.
3. Pempek Megaria
Ke Cikini rasanya belum lengkap tanpa mampir ke Pempek Megaria. Gerai ini berdiri sejak 1989 di area food court Kompleks Metropole. Metropole adalah salah satu bioskop tertua di Jakarta, bergaya Art Deco, dibangun pada 1932. Dulu dikenal sebagai Megaria.
Pempek di sini terkenal kenyal dan padat. Digoreng hingga renyah, lalu disajikan dengan kuah cuko yang pedas, asam, dan gurih. Pilihannya beragam: kapal selam, lenjer, adaan, hingga pempek kulit. Harga mulai Rp 10.000 per potong. Tempat ini hampir selalu penuh saat jam makan siang dan sore.
4. Sakura Anpan
Sakura Anpan adalah toko roti legendaris yang melayani pelanggan sejak 1978. Lokasinya di Jalan H. Agus Salim No. 25-25A, Menteng, Jakarta Pusat. Suasana klasik masih dipertahankan, dari interior hingga pilihan produk.
Roti jadul seperti roti keju cokelat, roti unyil, dan roti cokelat masih menjadi incaran lintas generasi. Ada juga aneka tart, termasuk black forest, serta puding roti dengan buah-buahan. Harga mulai Rp 7.500. Cita rasa yang konsisten membuat Sakura Anpan tetap jadi favorit pencinta roti klasik.
5. Restoran Trio
Restoran Trio di Menteng sudah menjadi tujuan makan keluarga sejak 1947. Konsepnya hidangan Kanton. Resep turun-temurun diwariskan selama puluhan tahun. Menu favorit pelanggan antara lain lumpia udang, mie goreng oriental, fuyung hai, ayam lada hitam, dan sup asparagus.
Bangunannya sederhana. Dominasi warna hijau dan putih menjadi ciri khas yang mudah dikenali. Selama puluhan tahun, tempat ini jadi langganan pejabat dan tokoh terkenal. Mendiang Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pernah menjadi pelanggan tetap. Harga mulai Rp 80.000. Porsinya terkenal besar, cocok untuk keluarga.
6. Kopi Es Tak Kie
Kopi Es Tak Kie adalah salah satu kedai kopi tertua di Glodok, Jakarta Barat. Berdiri sejak 1927. Kedai ini masih mempertahankan racikan kopi susu khas tempo dulu. Perpaduan biji kopi robusta dan arabika, termasuk kopi asal Toraja dan Sidikalang.
Es kopi susunya manis, ringan, dan menyegarkan. Selain kopi, ada menu makanan seperti bakmi ayam, nasi campur, dan nasi tim. Harga segelas kopi mulai Rp 17.000. Tempat ini tetap menjadi pilihan pelanggan lama dan wisatawan yang ingin menikmati suasana klasik. Kini Kopi Es Tak Kie juga punya beberapa kios modern di Jakarta.
7. Kikugawa
Kikugawa adalah salah satu restoran Jepang tertua di Jakarta. Berdiri sejak 1969 di kawasan Cikini. Didirikan oleh Terutake Kikuchi bersama Amelia Paat. Terutake adalah mantan prajurit Jepang yang datang ke Indonesia tahun 1942 dan menetap di sini.
Hingga kini, Kikugawa mempertahankan cita rasa Jepang autentik dengan kualitas konsisten. Sashimi dan sushi segar menjadi favorit. Nasi kari Jepang dengan bumbu rumahan juga populer — bumbu yang sama telah digunakan selama puluhan tahun. Harga mulai Rp 50.000 per porsi. Meski sudah berusia lebih 57 tahun, restoran ini masih ramai dikunjungi pelanggan dari berbagai generasi.
Ketujuh tempat ini bukan sekadar tempat makan. Mereka adalah saksi bisu perjalanan Jakarta. Dari era kolonial hingga kemerdekaan, dari zaman Belanda sampai sekarang. Resep yang dipertahankan, suasana yang tidak berubah, dan pelanggan yang setia — semua itu menjadi bukti bahwa kuliner bisa menjadi jendela masa lalu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Espresso Bomb: Kopi Pahit Campur Tonic Air Lemon
Titi Kamal Cari Mie Ayam Gerobakan di Jaksel, Netizen Ramai Beri Rekomendasi
Tafari's Kitchen: Restoran Obama untuk Kenangan Sang Koki
Baskin Robbins Jual Es Krim Rp 499 Ribu untuk Jakarta
5 Restoran Bersejarah di Jakarta, Sajikan Hidangan dalam Bangunan Kolonial
Pria 70 Tahun Tanpa Jari Tangan Kiri Tetap Setia Buat Sachima
Berita Terbaru
Modi ke Yogyakarta, India Dukung Pemugaran Candi Prambanan
Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 Dimulai
Planet Mirip Bumi Ditemukan, Tapi Radiasi Jadi Masalah
Pemprov Sumsel Tunda Proyek Baru Imbas Pemotongan Dana Pusat
Taylor Swift dan Travis Kelce Resmi Menikah di MSG.
Macan Kumbang Terjerat Kawat Babi di Sukabumi
TPS3R Kertosari Dibangun, Banyuwangi Target Kurangi Sampah Kota
Kolombia ke 16 Besar Piala Dunia 2026
5 Tempat Legendaris Nikmati Surabi dan Bandrek di Bandung