Macan Kumbang Terjerat Kawat Babi di Sukabumi

Tika M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Macan Kumbang Terjerat Kawat Babi di Sukabumi

Gambar atau konten salah?

Suara embikan domba terdengar riuh rendah di batas Kampung Cikurutug, Desa Cirendang, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Bukan tanpa alasan hewan-hewan ternak itu panik. Di balik semak belukar yang lebat, tidak jauh dari pagar pembatas lahan, terlihat sesosok bayangan hitam pekat meronta tak berdaya. Bukan babi hutan yang biasa menjadi sasaran jerat warga, melainkan seekor macan kumbang.

Pemandangan langka sekaligus menegangkan itu terjadi pada Kamis, 02 Juli 2026, dan terekam jelas melalui kamera ponsel warga. Jerat kawat yang dipasang untuk menghalau babi perusak ladang, justru menjerat kaki predator eksotis tersebut.

Andri Firmansyah, warga setempat yang memahami topografi wilayah, menceritakan bagaimana macan kumbang itu bisa terperangkap di area yang hampir bersinggungan langsung dengan permukiman. "Jadi ceritanya itu teh, itu bukan di dalam kawasan ya, di luar kawasan Taman Nasional di daerah perkampungan warga. Tepatnya di Kampung Cirendang Atas, kalau orang sini bilang itu daerah Puncak Angin, tempat main kolecer (baling-baling bambu). Tapi masuk ke kawasan perkebunan Sanghyang PT Yanita," kata Andri saat memberikan keterangannya pada Jumat, 03 Juli 2026.

Jarak kandang domba yang sangat dekat dengan lokasi terjeratnya hewan buas itu membuat warga yakin bahwa sang macan tengah mengendap-endap di bawah gelapnya malam untuk mencari mangsa. Namun, langkah kakinya terhenti oleh perangkap kawat. "Jadi ada warga masang jerat babi di jalur yang biasa dilintasi, cuman kebetulan di situ tuh ada kandang domba. Mungkin si hitam itu lewat, kena jerat," tambah Andri.

Kabar terperangkapnya satwa langka ini cepat sampai ke telinga petugas Taman Nasional. Pada siang harinya, tim evakuasi meluncur ke area perkebunan Sanghyang dengan membawa senapan bius. Rencananya, sang macan akan ditidurkan sementara untuk memastikan keselamatan bersama saat melepaskan jeratan. Namun, insting liar sang macan berkata lain. Tepat sebelum jarum bius melesat, ia meronta hebat.

"Kemarin sudah ada petugas dari Taman Nasional, katanya mau dilumpuhkan menggunakan tembakan bius. Cuma enggak tahu terkesima atau gimana, macannya keburu jatuh terpeleset. Dan setengah satu (12.30 WIB) tadi, si kumbang itu berhasil melarikan diri kembali ke arah gunung, ke arah gunung melarikan dirinya," beber Andri.

Kembalinya sang macan ke pelukan Gunung Koneng menyisakan cerita unik tentang koeksistensi warga pinggiran hutan dan satwa liar. Bagi warga Desa Cirendang dan Gandasoli, fenomena turunnya macan tutul maupun macan kumbang adalah siklus alamiah tahunan. Saat musim kemarau tiba atau bertepatan dengan bulan Safar, pakan alami di atas gunung diperkirakan menipis, memaksa satwa ini turun ke pemukiman.

Menariknya, alih-alih menganggapnya sebagai monster yang harus diburu, warga lokal seperti Andri justru memiliki julukan khusus untuk predator tersebut. "Sebenarnya dia tuh 'anak soleh', cuman karena mungkin ketersediaan makanannya atau apalah, enggak tahu di gunungnya itu. Emang sering pribadi saya sendiri yang emang suka survival ke hutan, sering ketemu. Biasa gitu, jarak 100 meter lah ketemu. Biasa emang sering menampakkan," ungkap pria yang gemar menjelajah hutan ini.

Kendati dijuluki 'anak soleh' karena instingnya yang cenderung menghindari interaksi langsung dengan manusia, tuntutan untuk bertahan hidup nyatanya kerap memicu konflik. Dorongan rasa lapar membuat sang predator beberapa kali terpaksa merugikan warga sekitar. Teror senyap 'si hitam' ini setidaknya terekam dalam dua pekan terakhir, di mana ia sempat mengincar kandang di Cisagu, Desa Margalaksana, hingga nekat turun ke sumber air di Cirendang untuk menggondol anjing peliharaan.

Puncaknya, menjelang musim panen tiba, dua ekor anjing yang bertugas menjaga sawah warga di daerah Cijemlong dilaporkan lenyap. "Ketika ditelusuri oleh warga, termasuk sayalah ada di dalamnya itu, ternyata anjingnya itu sudah habis dimakan. Ada satu kilo ke atas dagingnya dibawa ke arah daerah Leuwi Awi, di situ ditemukan bekas-bekas si anjing yang dimakan itu," pungkasnya.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana satwa liar seperti macan kumbang tetap berusaha bertahan hidup di habitat yang semakin terdesak oleh aktivitas manusia. Warga setempat, meski menyebutnya 'anak soleh', tetap harus waspada karena konflik bisa terjadi kapan saja, terutama saat sumber makanan alami di hutan mulai menipis.

macan kumbangjeratevakuasiTaman Nasionalkonflik satwa liaranak solehSukabumi

Komentar

Memuat komentar...