76% Warga Badung Mengerti Pemilahan Sampah, Bupati Optimis

Mira T. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
76% Warga Badung Mengerti Pemilahan Sampah, Bupati Optimis

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Badung, 76 persen warga sudah sadar akan pentingnya memilah sampah di rumah. Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, menegaskan optimisme bahwa wilayahnya akan segera mandiri dalam pengelolaan sampah tanpa bergantung pada TPA Suwung. “Malah dengan pemilahan ini, jauh lebih optimal, di mana‑mana pun harus dipilah. Pola pikir kesadaran masyarakat itu sudah ada sekarang, malahan berdasarkan data kan sudah 76 persen,” ujarnya saat ditemui usai penyerahan bantuan uang hari raya, Kamis, 11 Juni 2026.

Perangkat kabupaten menegaskan komitmen untuk terus menerapkan pemilahan sampah dari sumber secara konsisten. Kebijakan ini dipertahankan karena dianggap terbukti mampu mengurangi beban pengelolaan sampah di negara maju. “Dari semuanya itu, tentu saya berharap ekosistem penanganan di Badung ini, penanganan sampah ini bisa jalan. Saya berharap juga nanti ke depan ini, kalau bisa zero kan, kosong, nol lah gitu,” tegas Bupati asal Pecatu, Kuta Selatan.

Badung merespons pernyataan Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, yang melonggarkan izin pembukaan TPA dengan syarat tidak menggunakan sistem penimbunan terbuka (open dumping). Meski ada kelonggaran dari pemerintah pusat, Badung tetap membatasi pengiriman sampah dan hanya menjadikan TPA Suwung sebagai tempat penampungan residu. “Karena apa yang diucapkan Pak Menteri, open dumping juga ada yang diberikan. Nah, kalau ini bisa ditangani dengan baik, misalnya pihak ketiga bisa bekerja sama dengan TPS3R, saya kira tidak akan ke TPA Suwung lagi,” papar politikus PDIP.

Upaya percepatan pengelolaan sampah difokuskan pada sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) yang menyumbang 45,5 persen atau sekitar 364 ton dari total 800 ton sampah harian di Badung. Sektor ini ditargetkan masuk ke ekosistem TPS3R dan TPST, agar tidak lagi membuang sampah melalui pihak ketiga langsung ke TPA.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan sudah diperintahkan mengadakan lomba kebersihan. Penilaiannya akan dimatangkan lagi dalam Mangupura Award. “Dalam lomba ini, sebuah wilayah akan dinilai dari proses penanganan sampah di sumber, kemudian pemanfaatan TPS3R, dan terakhir penggunaan TPST,” pungkas Adi Arnawa.

Dengan tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi dan kebijakan yang konsisten, Badung berusaha mengurangi ketergantungan pada TPA. Langkah-langkah ini menandai pergeseran menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di wilayah tersebut.

BadungPemilahan SampahTPA SuwungTPS3RHorekaKebersihanLingkungan Hidup

Komentar

Memuat komentar...