Ahli Bahasa: 'Boti' Bukan Sekadar Gaul
Gambar atau konten salah?
Bandung — Kata "boti" belakangan ini makin sering muncul di media sosial. Mulai dari kolom komentar, meme, hingga obrolan sehari-hari. Banyak yang memakainya sebagai bahan candaan untuk laki-laki yang dianggap bertingkah feminin.
Tapi di balik popularitasnya, kata ini punya sejarah dan makna yang lebih rumit dari sekadar bahasa gaul biasa.
Dr. Mahmud Fasya, M.A., ahli bahasa dari Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, menjelaskan fenomena ini dari sudut pandang linguistik. Menurutnya, "boti" adalah kata tunggal atau monomorfemis. Artinya, kata ini tidak bisa dipecah lagi menjadi bagian yang lebih kecil dalam bahasa Indonesia.
"Belakangan ini, kata 'boti' semakin mudah ditemukan di kolom komentar media sosial. Dari segi bentuk, boti merupakan kata tunggal atau monomorfemis yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi satuan morfemis yang lebih kecil dalam bahasa Indonesia. Secara etimologis, istilah ini dipahami secara luas sebagai hasil adaptasi dari kata bahasa Inggris bottom, yang dalam komunitas LGBTQ+ merujuk pada peran tertentu dalam relasi seksual," kata Mahmud, Kamis, 09 Juli 2026.
Proses adaptasinya ke bahasa Indonesia mengalami pemendekan dan penyesuaian bunyi. "Dalam proses adaptasinya ke dalam bahasa Indonesia, bentuk tersebut mengalami pemendekan dan penyesuaian fonologis sehingga menjadi boti. Perubahan bentuk ini mencerminkan gejala penyerapan kosakata asing yang lazim terjadi dalam bahasa gaul Indonesia, yaitu melalui penyederhanaan pelafalan agar lebih mudah diucapkan dan lebih sesuai dengan pola fonologi bahasa Indonesia," ujarnya.
Seiring waktu, pemakaian kata "boti" meluas. Tidak lagi terbatas di komunitas tertentu. Remaja hingga figur publik menggunakannya. Seringkali tanpa tahu asal-usul maknanya.
"Seiring dengan waktu, bentuk boti menjadi semakin mapan sebagai bagian dari kosakata informal, terutama di media sosial dan percakapan sehari-hari. Istilah yang dahulu hanya dikenal dalam lingkup komunitas tertentu kini digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga figur publik. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai sekadar bahasa gaul atau bahan candaan," katanya.
Bahasa Tidak Pernah Netral
Mahmud menekankan, penggunaan kata "boti" bukan sekadar soal kosakata. Bahasa punya peran penting dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap identitas, gender, dan perbedaan.
Ia merujuk pada teori Norman Fairclough yang menyebut bahasa sebagai praktik sosial. Setiap pilihan kata selalu terkait dengan nilai, ideologi, dan relasi kekuasaan.
"Bahasa juga menjadi arena tempat masyarakat membangun, mempertahankan, bahkan menggugat berbagai nilai sosial. Norman Fairclough menyatakan bahwa bahasa merupakan praktik sosial. Pilihan kata tidak pernah benar-benar netral karena selalu dipengaruhi oleh ideologi, relasi kekuasaan, dan kepentingan sosial yang melatarinya," jelasnya.
Dalam konteks ini, menyebut seseorang sebagai "boti" bukan sekadar deskripsi. Ini adalah bentuk pelabelan sosial yang tajam.
"Dalam konteks penggunaan kata 'boti', perspektif Fairclough membantu menjelaskan bahwa penyebutan seseorang sebagai 'boti' tidak sekadar memberikan informasi mengenai orang yang dibicarakan. Sebaliknya, pelabelan itu juga dapat menjadi tindakan sosial yang mengonstruksi identitas seseorang berdasarkan norma maskulinitas yang dominan," ucapnya.
Jika label ini terus diulang dalam percakapan digital atau tayangan hiburan, masyarakat perlahan menganggapnya wajar. "Padahal, bahasa sedang bekerja membentuk cara berpikir kolektif mengenai siapa yang dianggap 'normal' dan siapa yang ditempatkan sebagai 'tidak normal atau berbeda'," tuturnya.
Media Sosial Mempercepat Pergeseran Makna
Fenomena ini juga terkait dengan teori kekuasaan simbolik dari Pierre Bourdieu. Mahmud berpendapat, memberi label pada seseorang adalah bentuk kekuasaan simbolik yang bisa memengaruhi posisi orang itu di masyarakat.
"Dalam masyarakat Indonesia, penggunaan kata 'boti' memperlihatkan bagaimana kekuasaan simbolik itu bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Sebutan tersebut sering kali muncul bukan sebagai deskripsi yang netral, melainkan sebagai penilaian terhadap seseorang yang dianggap tidak memenuhi standar maskulinitas yang berlaku," kata Mahmud.
Akibatnya, kata ini berubah menjadi alat untuk memperkuat stereotipe dan memengaruhi perlakuan lingkungan sosial terhadap individu yang dilabeli.
Mahmud menyoroti peran media sosial yang mempercepat pergeseran makna. Istilah yang awalnya terbatas bisa meledak luas melalui video pendek, meme, dan kolom komentar dalam waktu singkat.
"Media sosial mempercepat proses tersebut. Sebuah istilah yang awalnya dikenal dalam lingkup komunitas tertentu dapat menyebar secara masif hanya dalam hitungan hari melalui meme, video pendek, komentar, dan berbagai bentuk komunikasi digital lainnya. Dalam proses penyebaran itu, makna asli sering kali memudar dan digantikan oleh makna baru yang dibentuk oleh pengguna mayoritas," bebernya.
Karena itu, Mahmud mengingatkan pentingnya literasi berbahasa di era digital. Memahami kata tidak cukup hanya dari arti kamus. Harus menyentuh dampak sosialnya.
"Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan bahasa tidak pernah terlepas dari perubahan masyarakat. Setiap kali sebuah kata dipakai untuk menilai, mengejek, atau menggolongkan seseorang, sesungguhnya masyarakat sedang membangun realitas sosial melalui bahasa," ucapnya.
"Oleh karena itu, literasi berbahasa tidak hanya berarti memahami arti kata, tetapi juga menyadari dampak sosial yang ditimbulkan oleh pilihan kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari," lanjutnya.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa bahasa memang terus berubah. Tapi tanggung jawab sosial dalam memilih kata harus tetap dijaga agar tidak menjadi stigma bagi kelompok tertentu.
"Bahasa memang terus berkembang, tetapi perkembangan itu seharusnya diiringi dengan tanggung jawab sosial. Sebuah istilah dapat menjadi sarana keakraban ketika digunakan dalam komunitas yang memaknainya secara positif, tetapi dapat pula menjadi sumber stigma ketika digunakan untuk memberi label atau merendahkan orang lain. Dengan demikian, memahami kata 'boti' berarti juga memahami bagaimana bahasa, budaya, dan kekuasaan saling berkelindan dalam membentuk kehidupan sosial masyarakat Indonesia kontemporer," tutup Mahmud.
Fenomena "boti" menunjukkan bagaimana sebuah kata bisa bergeser makna dan fungsi sosialnya. Dari istilah khusus dalam komunitas tertentu, menjadi alat pelabelan yang bisa memperkuat stereotipe maskulinitas. Media sosial mempercepat proses ini, sementara kesadaran akan dampak sosial dari pilihan kata masih perlu ditingkatkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Warga Antre Air Bersih Saat Kemarau di Sukabumi
1.000 ASN Jabar Terindikasi Judi Online, Transaksi Capai Rp800 Juta
Tumpahan Batu Bara Pangandaran Buktikan Kekhawatiran Nelayan
Gempa 2,6 Guncang Cimahi, BMKG Imbau Warga Tenang
Jalan Dago Giri Ditutup Total, Perbaikan Berlangsung Beberapa Pekan
Bocah 10 Tahun di Sukabumi Kecanduan Hirup Bensin
Berita Terbaru
Hari Keempat, Pencarian Korban Buaya di Banyuasin Belah Sungai
Ahli Bahasa: 'Boti' Bukan Sekadar Gaul
Bus Tabrak Truk di Tol Semarang, 1 Tewas
Jadwal Perempat Final Piala Dunia 2026 Rilis
Rahasia Fisik Ekstrem Haaland: Latihan, Diet, Cryotherapy
Keluarga India Viral Usai Lempar Tisu di Restoran Vietnam
Raymond-Joaquin Target Juara Japan Open 2026
Pemda Mulai Jajaki Obligasi Daerah, BEI Konfirmasi Minat