AI Deteksi Anemia Lewat Pemindaian Mata, Tanpa Jarum Suntik

Dedi S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
AI Deteksi Anemia Lewat Pemindaian Mata, Tanpa Jarum Suntik

Gambar atau konten salah?

Anemia masih menjadi masalah gizi yang belum tuntas di banyak negara, termasuk Indonesia. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sekitar 11 juta anak balita di Asia Tenggara mengalami anemia karena kekurangan zat besi.

Di Indonesia, situasinya tidak jauh berbeda. Sekitar satu dari empat anak diketahui mengidap anemia. Angka ini menunjukkan bahwa kekurangan zat besi masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan anak-anak.

Apa sebenarnya anemia defisiensi besi? Kondisi ini terjadi saat tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin. Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Dampaknya tidak sekadar membuat anak mudah lelah. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengganggu perkembangan otak, kemampuan belajar, sistem kekebalan tubuh, dan proses tumbuh kembang secara keseluruhan.

President Danone Asia Pacific, Bruno Chevot, mengungkapkan salah satu hambatan terbesar dalam mengatasi anemia adalah banyak kasus yang tidak terdeteksi sejak awal. Anak-anak baru diketahui mengalami kekurangan zat besi setelah gejala mulai muncul.

"Kalau kita tidak mengetahui bahwa seorang anak berisiko mengalami kekurangan zat besi, kita tidak akan bisa mengatasinya. Karena itu, langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran dan mempermudah deteksi sejak dini," ujar Bruno dalam sesi diskusi di Jakarta Selatan, Senin 06 Juli 2026.

Untuk menjawab tantangan itu, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai digunakan dalam proses skrining anemia. Teknologi ini disebut Iron-Tracking.

Iron-Tracking adalah alat skrining awal yang dirancang untuk membantu mengenali risiko kekurangan zat besi tanpa perlu pengambilan sampel darah. Berbeda dengan pemeriksaan laboratorium yang menggunakan jarum suntik dan analisis darah, teknologi ini hanya memanfaatkan kamera pada smartphone untuk memindai bagian iris mata.

Hasil pemindaian kemudian dianalisis menggunakan algoritma AI untuk menentukan apakah seseorang mengalami anemia akibat defisiensi zat besi. Karena tidak memerlukan pengambilan darah, metode ini disebut non-invasif. Artinya, pemeriksaan tidak memasukkan alat ke dalam tubuh atau melukai jaringan tubuh.

Pendekatan ini diharapkan membuat proses skrining lebih mudah, nyaman, dan bisa menjangkau lebih banyak masyarakat sebagai langkah awal sebelum pemeriksaan medis lanjutan.

"Ke depan, kami melihat teknologi dapat membantu proses skrining anemia menjadi lebih mudah. Dengan memanfaatkan smartphone, pemeriksaan awal bisa dilakukan secara non-invasif sehingga lebih banyak masyarakat dapat menjangkaunya," kata Bruno.

Menurut Bruno, pemanfaatan teknologi juga memungkinkan proses skrining dilakukan dalam skala yang lebih luas. Semakin banyak anak yang diketahui berisiko sejak awal, semakin cepat pula intervensi gizi maupun pemeriksaan lanjutan dapat diberikan. Harapannya, deteksi dini tidak lagi menjadi kendala dalam upaya menurunkan angka anemia pada anak, terutama di wilayah yang akses layanan kesehatannya masih terbatas.

Skrining anemia berbasis AI ini masih berupa alat deteksi awal. Hasilnya bukan diagnosis akhir. Pemeriksaan medis lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi anak dan menentukan penanganan yang tepat. Namun, dengan teknologi yang lebih mudah diakses, diharapkan lebih banyak anak bisa terdeteksi lebih awal sebelum dampak jangka panjang terjadi.

anemiakekurangan zat besideteksi dinikecerdasan buataniron-trackingskrining non-invasifanak

Komentar

Memuat komentar...