Ancaman Miopi Mengintai Anak Sekolah

Teguh A. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Ancaman Miopi Mengintai Anak Sekolah

Gambar atau konten salah?

Pekan ini menjadi salah satu momen paling sibuk bagi jutaan anak di Indonesia. Mereka mulai merayakan hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Tapi di balik semangat memulai tahun ajaran baru, ada satu hal yang perlu diwaspadai orang tua: ancaman kesehatan mata. Risiko miopia atau mata minus pada anak berkembang jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.

Perubahan gaya hidup anak sekolah saat ini menjadi penyebab utama lonjakan kasus miopia. Dulu, anak-anak biasanya pulang sekolah sekitar pukul 12 siang atau pukul 1 siang. Sekarang? Mereka baru pulang pukul 4 sore. Beban sekolah yang tinggi ditambah jadwal les tambahan membuat anak-anak kehilangan waktu bermain di luar rumah.

Jadwal yang padat ini memaksa anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk aktivitas melihat jarak dekat. Membaca, menulis, dan menatap layar gawai menjadi kegiatan sehari-hari yang sulit dihindari. Akibatnya, anak-anak semakin jarang bermain di luar ruangan. Mereka juga kehilangan paparan sinar matahari yang cukup, padahal sinar matahari penting untuk kesehatan mata.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan bahwa kombinasi antara kurangnya aktivitas luar ruangan dan tingginya intensitas aktivitas jarak dekat bisa mempercepat kerusakan fungsi penglihatan anak. Bahkan sebelum mereka genap berusia 8 tahun.

"Beban sekolah anak sekarang ini berbeda. Kita dulu mungkin jam 12 atau jam 1 sudah pulang, sekarang mereka jam 4 sore baru pulang. Jadi beban sekolah tinggi dan dilanjutkan lagi dengan les sehingga sangat kurang waktu mereka untuk bermain," ungkap dr. Julie saat ditemui di Jakarta, Minggu, 12 Juli 2026.

Ada satu fase yang sering terabaikan oleh orang tua: fase pre-miopia. Secara biologis, anak usia 6 hingga 7 tahun normalnya masih memiliki cadangan rabun dekat atau hiperopia sekitar +1 hingga +1,5 dioptri. Cadangan ini berfungsi melindungi mata mereka dari risiko mata minus dini.

Tapi jika cadangan tersebut menipis atau hilang lebih cepat dari seharusnya, anak tersebut masuk dalam fase pre-miopia. Fase ini adalah kondisi di mana mata anak belum sepenuhnya minus, tetapi struktur bola matanya sudah menunjukkan tanda-tanda kuat akan mengalami miopia progresif.

Menurut dr. Julie, ada tiga kelompok anak yang paling rentan masuk ke fase pre-miopia. Pertama, anak-anak dari etnis Asia. Kedua, anak yang memiliki riwayat orang tua bermata minus. Ketiga, anak dengan kebiasaan gaya hidup yang minim aktivitas di luar rumah.

Fase pre-miopia ini bertepatan dengan usia awal sekolah. Ini sebenarnya merupakan waktu emas atau momentum paling ideal bagi orang tua dan dokter untuk melakukan intervensi dini. Sebelum kondisi mata anak memburuk.

"Jika dibiarkan tanpa kendali dan intervensi medis, kondisi ini dapat merosot menjadi high myopia (minus tinggi) hingga pathologic myopia (miopia patologis). Dalam jangka panjang, kondisi ekstrem tersebut berisiko memicu komplikasi fatal pada organ mata, seperti atrofi retina, myopic maculopathy, hingga neuropati optik yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat dan permanen," tegas dr. Julie.

"Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka ada komplikasi di masa mendatang yang kurang baik, yang tentunya akan menyebabkan gangguan penglihatan berat," tambahnya.

Yang perlu dipahami, masalah miopia pada anak bukan sekadar soal kenyamanan melihat. Jika dibiarkan, miopia bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Risiko komplikasi seperti atrofi retina, myopic maculopathy, dan neuropati optik bisa menyebabkan gangguan penglihatan permanen. Orang tua perlu lebih sadar bahwa waktu bermain di luar ruangan bukan sekadar hiburan, tapi juga investasi kesehatan mata jangka panjang bagi anak.

miopiaanakkesehatan matagaya hiduppre-miopiaaktivitas luar ruanganintervensi dini

Komentar

Memuat komentar...