Angga Wijaya Tulis Memoar Perjuangan Lawan Skizofrenia
Gambar atau konten salah?
Tujuh belas tahun lalu, Angga Wijaya hampir kehilangan segalanya. Skripsinya tinggal selangkah lagi selesai. Akal sehatnya perlahan direnggut oleh waham. Keyakinan bahwa hidupnya masih bisa berjalan pun ikut runtuh. Kini, pengalaman pahit itu ia tuliskan kembali dalam sebuah buku berjudul 'Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku'.
Buku yang diterbitkan Brilliant Books pada Juni 2026 ini adalah semacam memoar. Lewat buku ini, Angga ingin menunjukkan bahwa seseorang yang pernah didiagnosis skizofrenia masih bisa berkarya, bekerja, dan menjalani hari-hari yang bermakna.
"Saya banyak bercerita tentang perjalanan sebagai orang dengan skizofrenia, mulai dari sebelum mengalami gangguan itu hingga proses pemulihan," kata Angga Wijaya di Denpasar, Minggu, 05 Juli 2026.
Angga Wijaya sebelumnya sudah menerbitkan beberapa buku puisi dan esai. Meski begitu, pria asal Jembrana ini mengakui proses menulis memoar ini punya tantangan tersendiri.
"Proses menulis memoar ini cukup menguras emosi karena saya harus kembali mengingat masa lalu. Tidak sampai menangis, tetapi terasa berat dan sesak," tambahnya.
Didagnosis Skizofrenia
Perjalanan Angga dimulai jauh sebelum kata 'skizofrenia' pernah diucapkan oleh siapa pun di sekelilingnya. Angga mengaku mulai merasakan gejala gangguan mental sejak duduk di kelas dua SMA.
Depresi datang perlahan. Cukup untuk membawanya ke ruang konsultasi psikiater di Denpasar. Tapi itu baru permulaan.
Pada 2009, Angga hampir menyelesaikan studi Antropologi di Universitas Udayana (Unud). Tinggal dua mata kuliah yang harus diulang. Namun, di titik itulah pikirannya mulai dibanjiri delusi dan rasa takut yang tidak masuk akal. Angga merasa dikejar sesuatu yang tak kasat mata.
Dalam kondisi tertentu, ia bahkan merasa sebagai orang suci, bahkan presiden. Berdasarkan pemeriksaan psikiater, belakangan diketahui bahwa semua itu adalah gejala skizofrenia paranoid.
Skizofrenia sendiri adalah gangguan mental yang ditandai dengan halusinasi dan delusi atau waham. Gangguan ini mengubah cara seseorang berpikir, merasa, dan memaknai realitas. Bahkan, kondisi itu membuat penyandangnya hidup di luar batas kenyataan.
Ilmu kedokteran menjelaskan kondisi ini tidak lahir dari satu sebab tunggal. Ia adalah hasil kombinasi rumit: gangguan pada fungsi otak yang berkaitan dengan neurotransmiter, salah satunya dopamin, serta pengaruh lingkungan seperti trauma masa kecil atau stres berat.
Faktor genetik pun, menurut Angga, ikut berperan. "Kakak laki-laki tertua saya juga mengalami skizofrenia. Dari berbagai literatur yang saya baca, faktor genetik memang memiliki pengaruh, meskipun bukan satu-satunya penyebab," ujarnya.
Ketika kekambuhan pertama datang pada 2009, keluarga Angga tidak menunda. Ia segera dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali di Bangli untuk menjalani perawatan intensif selama dua pekan.
Lima Tahun untuk Berdamai
Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah pintu rumah sakit itu ia tinggalkan. Saat itu, isu kesehatan mental belum menjadi bahan percakapan terbuka. Pengetahuan keluarga mengenai gangguan jiwa pun masih minim. Tak jarang kondisi seperti yang dialami Angga dikaitkan dengan hal-hal nonmedis.
Setelah keluar dari rumah sakit, Angga memilih pulang ke kampung halamannya di Jembrana. Ia menghentikan sementara seluruh kehidupan akademiknya. Lima tahun berikutnya, dari 2009 hingga 2014, menjadi periode paling sunyi dalam kehidupan Angga. Ia mencoba berdamai.
"Kuncinya adalah menerima. Banyak orang mengalami penolakan atau denial ketika didiagnosis gangguan mental. Padahal skizofrenia membuat seseorang hidup di luar realitas," tutur Angga.
"Saya membutuhkan sekitar lima tahun untuk benar-benar menerima kondisi saya," imbuhnya.
Di balik diagnosis itu, ternyata tersimpan luka yang jauh lebih lama. Sejak kecil, Angga dibesarkan oleh keluarga angkat. Di alam bawah sadarnya, tumbuh perasaan ditinggalkan dan tidak diinginkan oleh keluarga kandungnya sendiri. Perasaan itu, menurut hasil psikoterapi yang ia jalani, turut menjadi salah satu pemicu kondisi mentalnya.
Belakangan, setelah kembali tinggal bersama keluarga kandungnya, Angga akhirnya mengetahui alasan sebenarnya di balik keputusan itu. Penjelasan tersebut perlahan mengubah cara pandangnya terhadap masa lalu. Ia belajar satu hal penting: berdamai bukan berarti melupakan, melainkan menerima kenyataan tanpa terus membiarkan luka mengendalikan arah hidupnya.
Titik Balik dari Layar Ponsel
Titik balik lain datang dari tempat yang sama sekali tidak disangka: sebuah pesan di Facebook. Di sanalah Angga berkenalan dengan seorang perempuan asal Jakarta yang kini menjadi sosok penyemangatnya untuk kembali bekerja. Perempuan itu, kata Angga, kelak menjadi lebih dari sekadar teman bicara.
"Dia menjadi support system sekaligus caregiver. Bagi penyandang skizofrenia, dukungan lingkungan sangat penting. Kami membutuhkan lingkungan yang inklusif, tidak memberi stigma, dan tidak menghina," kata Angga.
Dukungan itu menjadi pijakan penting bagi Angga untuk bangkit. Suatu hari, ia menemukan lowongan sebagai pengajar bahasa Inggris di Tejakula, Buleleng. Ia sempat bekerja di sana selama tiga bulan sebelum kembali ke Jembrana. Tak lama setelah itu, Angga melihat lowongan wartawan di sebuah tabloid budaya di Denpasar. Ia melamar dan diterima.
Sejak 2015, Angga kembali menetap di Denpasar dan bekerja sebagai jurnalis. Kota yang dulu menyimpan luka, kini menjadi tempatnya membangun kembali hidup. Pada tahun yang sama, ia juga bergabung sebagai salah satu anggota awal Rumah Berdaya -- komunitas yang menjadi ruang aman bagi para penyintas gangguan jiwa. Komunitas tersebut memfasilitasi beragam kegiatan seperti melukis dan berkebun sebagai bagian dari rutinitas pemulihannya.
Ada satu sosok lain yang, menurut Angga, mengubah arah hidupnya. Sosok itu adalah seorang psikiater bernama I Gusti Rai Putra Wiguna. "Beliau bukan hanya dokter, tetapi juga sahabat yang terus mendukung proses pemulihan saya," kata Angga.
Menulis sebagai Katarsis
Ada satu terapi yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan Angga sebagai penyintas skizofrenia, yakni menulis. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak kelas dua SMA, ketika ia mulai menulis puisi dan dimuat di media lokal Jembrana. Ketika badai menghantam hidupnya bertahun-tahun kemudian, kebiasaan lama itu berubah fungsi dari sekadar hobi menjadi terapi yang menyelamatkan.
"Menulis menjadi katarsis bagi saya. Dengan menulis saya bisa melepaskan emosi dan menata kembali luka-luka itu," ucap Angga.
Dari sanalah pula judul memoar Angga lahir. Rak buku, baginya, bukan sekadar tempat menyimpan bacaan. Melainkan simbol ruang untuk menyusun kembali ingatan, trauma, harapan, dan keberanian untuk terus melangkah.
Selama bertahun-tahun, Angga aktif menyuarakan isu kesehatan mental lewat tulisan-tulisannya. Ia ingin masyarakat memahami bahwa gangguan mental tidak selalu tampak dari penampilan seseorang.
"Selama ini orang mengira penyandang gangguan jiwa adalah mereka yang hidup di jalanan dengan penampilan tidak terurus. Padahal, kenyataannya banyak penyandang gangguan mental yang bekerja sebagai pegawai kantoran, guru, jurnalis, dan profesi lainnya," urainya.
Melalui memoar 'Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku', Angga tidak sedang meminta belas kasihan. Ia juga tidak sedang meromantisasi penderitaan. Ia hanya ingin menyampaikan satu pesan sederhana yang lahir langsung dari pengalaman hidupnya sendiri: pulih itu nyata. Dengan pengobatan yang rutin, dukungan keluarga dan lingkungan, serta keberanian untuk menerima diri sendiri, seseorang yang pernah tenggelam dalam gelapnya skizofrenia tetap punya kesempatan untuk menata kembali hidupnya.
Seperti rak buku yang terus bertambah isinya, Angga percaya setiap luka pada akhirnya akan menemukan tempatnya. Bukan untuk disembunyikan, melainkan menjadi bagian dari cerita yang menguatkan langkah menuju hari esok.
Memoar ini bukan sekadar catatan pribadi. Ia menjadi bukti bahwa pemulihan dari gangguan jiwa berat bukanlah mitos. Angga menunjukkan bahwa diagnosis tidak menentukan batas kemampuan seseorang. Dengan dukungan yang tepat dan kemauan untuk sembuh, hidup tetap bisa dijalani dengan penuh makna.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PDIP Peringatkan PSI Jangan Sombong Soal 'Kandang Gajah'
Telur Rebus Tahan Berapa Hari di Kulkas? Ini Jawabannya
PKB 2026 Malam Ini: Jegog, Sendratari, dan Wayang
Prakiraan Cuaca Bali: Hanya Jembrana Hujan Ringan
SIM Keliling Kembali di Klungkung dan Badung Hari Ini
6 Juli 2026: Hari Baik untuk Bangun Rumah, Pantang untuk Panen Buah
Berita Terbaru
Angga Wijaya Tulis Memoar Perjuangan Lawan Skizofrenia
PDIP Peringatkan PSI Jangan Sombong Soal 'Kandang Gajah'
Renungan Harian 6 Juli: Iman Teguh di Tengah Ujian
Mobil Misterius di Bandung Viral, Dishub Turun Tangan
Lion Air Buka Rute Langsung Lombok-Kuala Lumpur
Brasil Kalah Lagi dari Norwegia, Haaland Jadi Mimpi Buruk
Kepulangan Pahlawan: Timnas Tanjung Verde Disambut Rakyat
BKN Buka Suara soal Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2026
Kemendag Sanksi Tegas Produsen Minyakita Berbau Solar
