AS dan Iran Diskusi Buka Kembali Selat Hormuz, Pusaka Nuklir
Gambar atau konten salah?
Denpasar, 25 Mei 2026 – Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah perang. Namun, pihak Teheran menegaskan belum ada jaminan perjanjian akan ditandatangani dalam waktu dekat.
Laporan menyebut bahwa kesepakatan tersebut mencakup komitmen Iran untuk memusnahkan uranium yang diperkaya tinggi. Seorang pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa kesepakatan belum ditandatangani dan masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump serta pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Proses finalisasi dapat memakan waktu beberapa hari, dan metode pemusnahan uranium masih dinegosiasikan.
Menurut pejabat AS yang dikutip, kesepakatan yang diusulkan belum menyentuh isu pasokan rudal Iran maupun moratorium pengayaan uranium. Masalah tersebut akan dibahas dalam pembicaraan lanjutan. Laporan juga menyebut bahwa AS dapat mempertimbangkan 'akomodasi yang signifikan' berupa pelonggaran sanksi jika Iran setuju memberikan konsesi serupa soal stok uranium yang diperkaya tinggi.
“Rencana kami adalah menangani seluruh pasokan material yang diperkaya milik mereka,” kata pejabat Washington tersebut. Dia juga menyebut Washington melihat Iran menunjukkan 'akomodasi yang serius' yang belum pernah muncul dalam negosiasi sebelumnya. Pejabat AS menepis wacana mekanisme 'tarif tol' di Selat Hormuz dan menyebut skema itu tidak dapat diterima serta belum pernah diusulkan kedua pihak.
Menurut laporan lain, pemerintah AS memandang kesepakatan ini lebih kuat dibanding kesepakatan nuklir 2015 pada era mantan Presiden Barack Obama. Dalam draf terbaru, AS akan mencabut blokade terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) dan mitra-mitra Teluk akan berkoordinasi untuk memastikan jalur aman di Selat Hormuz.
Pejabat Washington juga menyebut bahwa Vice President JD Vance, Utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff, serta penasihat dan menantu Trump, Jared Kushner, terlibat dalam pembicaraan tersebut. Washington berupaya melibatkan seluruh sekutu regional dalam proses itu. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih, dan otoritas Iran belum memberi tanggapan resmi.
Laporan menyebut draf kesepakatan AS dan Iran berisi perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur strategis itu telah ditutup Teheran sejak perang berkecamuk pada akhir Februari. Dalam nota kesepahaman, Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz dan mengizinkan kapal-kapal melintas tanpa pungutan tol. Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberi pengecualian sanksi terbatas yang memungkinkan Teheran menjual minyak secara bebas selama 60 hari.
Seorang pejabat AS menyebut skema itu sebagai “bantuan berdasarkan kinerja”. Dia menegaskan bantuan ekonomi akan diberikan setelah ada langkah konkret, bukan di muka. Draf itu juga memuat komitmen Iran untuk tidak mengupayakan senjata nuklir, menegosiasikan penangguhan pengayaan uranium, serta memusnahkan stok uranium yang diperkaya tinggi. Axios juga melaporkan pelonggaran sanksi yang lebih luas atau pencairan dana Iran baru akan dibahas selama masa gencatan senjata dan hanya diterapkan jika kesepakatan akhir telah diverifikasi.
Selama perpanjangan gencatan senjata 60 hari, pasukan AS di kawasan tetap berada di posisinya dan hanya ditarik jika kesepakatan final tercapai. Kesepakatan itu juga disebut berkaitan dengan upaya mengakhiri perang Israel dan Hizbullah di Lebanon. Pejabat AS menyebut Israel tetap diizinkan bertindak jika Hizbullah mencoba mempersenjatai diri kembali atau melanjutkan serangan. Beberapa pemimpin Arab dan Muslim, termasuk dari Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, dan Uni Emirat Arab, juga mendukung upaya diplomatik tersebut. Pakistan disebut memainkan peran mediasi sentral.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pemerintahannya tidak akan mengambil keputusan tanpa persetujuan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei. Hal itu disampaikan Pezeshkian, seperti dilansir Press TV, pada Senin (25 Mei 2026), saat Iran dan AS menjalani perundingan tidak langsung yang dimediasi Pakistan. “Tidak ada keputusan di Republik Islam Iran yang akan diambil di luar kerangka Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) dan tanpa koordinasi serta izin dari pemimpin (tertinggi),” ujar Pezeshkian saat berbicara dalam pertemuan dengan kepala dan manajer Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB). “Ketika sebuah keputusan di bidang diplomasi, semua institusi, platform, dan gerakan harus mendukungnya sehingga suara yang tunggal dan koheren dapat disampaikan kepada dunia dari Republik Islam,” ucapnya. Pezeshkian menyebut salah satu tujuan utama musuh Iran selama perang ialah membungkam suara kebenaran. Dia juga menyinggung sentimen anti-Iran yang disebutnya berharap AS dan rezim Zionis Israel menghancurkan serta memecah-belah Iran. “Jika kita semua bergerak bersama dalam kerangka (yang ditentukan oleh) pedoman Pemimpin (Tertinggi) dan menjaga solidaritas nasional, musuh tidak akan pernah mencapai tujuan mereka terhadap negara kita,” ujarnya.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membenarkan sebagian besar isu yang dibahas dengan AS sudah mencapai kesimpulan. Namun, dia menegaskan belum ada kepastian kesepakatan akan diteken dalam waktu dekat. “Memang benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar isu yang sedang dibahas,” kata Baghaei dalam konferensi pers mingguan di Teheran pada Senin (25 Mei) waktu setempat. “Tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan perjanjian sudah dekat – tidak ada yang dapat menyampaikan klaim semacam itu,” tegasnya, menuduh Washington mengubah posisinya. Baghaei juga menyebut Iran akan tetap mengelola lalu lintas maritim di Selat Hormuz dengan mengenakan biaya layanan. Namun, dia menegaskan hal itu bukan berarti Teheran 'berupaya memungut tarif tol'. Dia mengatakan layanan itu mencakup navigasi dan langkah perlindungan lingkungan di Selat Hormuz, Teluk Arab, serta Laut Oman, yang membutuhkan pengumpulan biaya tertentu.
Negosiasi ini menunjukkan kedua belah pihak sedang membuat kemajuan, namun masih menunggu persetujuan akhir. Kesepakatan yang diusulkan akan mengurangi ketegangan dan membuka kembali jalur penting di Selat Hormuz, namun memerlukan langkah konkret dan verifikasi sebelum dapat diimplementasikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai