Atap Sekolah Ambruk, Murid Belajar di Bawah Ancaman

Lia N. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Atap Sekolah Ambruk, Murid Belajar di Bawah Ancaman

Gambar atau konten salah?

Setiap malam, Juju Juhaeriah sulit memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada sekolah yang dipimpinnya. "Saya takut anak-anak saya jadi korban jatuhan material atap," kata perempuan 48 tahun yang menjabat sebagai Kepala SD Negeri Cadasleeur ini.

Tugas Juju sebagai kepala sekolah tidak berakhir begitu ia meninggalkan ruang kelas. Justru saat tiba di rumah, menjelang pergantian hari, kekhawatiran itu datang kembali. Ia membayangkan nasib anak didiknya esok hari. Setiap pagi, sebelum kegiatan belajar dimulai, ia harus kembali mengamati langit-langit kelas. Ia memastikan tidak ada material bangunan yang jatuh menimpa guru atau murid.

Hari-hari di sekolah yang terletak di Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, itu dijalani dengan dua perasaan yang bertolak belakang. Juju bersyukur proses pembelajaran masih bisa berlangsung. Namun kecemasan selalu mengikuti sejak anak-anak memasuki ruang kelas. "Alhamdulillah, kegiatan belajar setiap hari berjalan lancar. Tetapi kami selalu waswas karena material plafon dan genting sering berjatuhan," ujarnya.

Juju baru setahun memimpin sekolah yang bertetangga dengan kawasan konsesi pertambangan emas Pongkor. Saat pertama kali datang, kondisi bangunannya sudah memprihatinkan. Kepala sekolah sebelumnya juga menghadapi persoalan serupa. Mereka berkali-kali mengusulkan perbaikan. Namun kerusakan terus bertambah. Penanganan menyeluruh tak kunjung datang.

Dari tujuh ruang yang dimiliki sekolah tersebut, empat di antaranya mengalami kerusakan berat. Tiga ruangan di lantai atas sempat diperbaiki menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Tapi kemampuan dana BOS terbatas. Anggaran itu tidak cukup untuk membenahi seluruh bagian bangunan yang sudah lapuk.

Persoalan menjadi semakin rumit karena sekolah masih membutuhkan setiap jengkal ruang yang tersedia. Salah satu kelas dengan kategori rusak berat tetap digunakan untuk kegiatan belajar. Keputusan itu bukan diambil karena ruangannya dianggap aman. Melainkan karena sekolah tidak punya pilihan lain. "Yang satu rusak berat masih dipakai dengan terpaksa. Mau bagaimana lagi, kami juga bingung. Kegiatan belajar bahkan sudah dibagi menjadi sif pagi dan siang," tutur Juju.

Pembagian jadwal itu menjadi siasat agar seluruh anak tetap memperoleh ruang belajar. Namun cara tersebut hanya mengatur waktu penggunaan kelas. Bukan menghilangkan bahaya yang terus mengelayuti pikiran.

Juju dan para guru beberapa kali kejatuhan material bangunan. Murid juga pernah tertimpa serpihan pada bagian kepala. Sejauh ini, kata Juju, belum ada anak yang mengalami luka parah. Namun bagi Juju, ketiadaan korban serius bukan berarti ancaman telah berlalu.

Mantan Kepala Sekolah SDN Pasir Peteuy dan Parigi ini menyadari keberuntungan bisa berakhir kapan saja. Terlebih, kerusakan tidak selalu memberikan tanda sebelum plafon terlepas atau genting meluncur ke dalam ruangan. Di sekolah itu, bunyi dari bagian atap bukan sekadar gangguan belajar. Itu adalah peringatan yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Kecemasan serupa dirasakan para orang tua. Mereka mengetahui kondisi tempat anak-anak menimba ilmu. Tapi mereka juga tidak mempunyai banyak pilihan. Permukiman di sekitar SDN Cadasleeur terbilang padat. Sekolah tidak memiliki lahan alternatif yang bisa disulap menjadi kelas sementara.

Bagian luar bangunan pun sangat sempit. Ruang yang tersisa hanya cukup untuk parkir sepeda motor. Tidak ada halaman luas yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda atau bangunan darurat agar murid dipindahkan dari kelas rusak. "Semua orang tua merasa waswas. Tetapi dengan kondisi seperti ini, memang tidak ada tempat lain. Penduduk di lingkungan sekolah juga rapat semua," kata Juju.

Sebagian besar keluarga murid berasal dari kalangan buruh. Sekolah negeri itu menjadi tumpuan warga untuk memastikan anak-anak mereka tetap memperoleh pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi. Karena itu, meski bangunannya mengkhawatirkan, kegiatan belajar tidak mungkin begitu saja dihentikan.

Minat warga menyekolahkan anaknya di SDN Cadasleeur justru bertambah. Tahun ini, jumlah murid kelas I mencapai 47 anak. Angka tersebut naik dari sebelumnya 46 siswa. Ditambah dua anak pindahan dan diikuti perpindahan siswa lainnya. Pertumbuhan jumlah peserta didik itu seharusnya menjadi kabar baik. Namun tanpa ruang yang layak, penambahan murid justru memperbesar beban sekolah.

Usulan yang Belum Berbuah Perbaikan

Menurut Juju, permohonan perbaikan telah diajukan setiap tahun. Upaya serupa juga dilakukan kepala sekolah terdahulu. Akan tetapi, proposal demi proposal itu belum menghasilkan rehabilitasi menyeluruh yang dibutuhkan.

Sekolah sempat memahami ketika pandemi Covid-19 memukul anggaran pemerintah. Setelah itu muncul kebijakan efisiensi. Namun pada saat yang sama, usia bangunan terus bertambah. Kerusakan tak bersedia menunggu keadaan keuangan membaik.

Dana BOS hanya dapat digunakan untuk penanganan terbatas. Sekolah juga memperoleh bantuan dari PT Antam untuk memperbaiki halaman serta sejumlah kebutuhan kecil lainnya. Dukungan tersebut cukup membantu. Tapi belum menyentuh persoalan utama: empat ruangan yang mengalami kerusakan berat dan ancaman material berjatuhan.

Kini, Juju hanya dapat menjaga kegiatan belajar tetap berjalan. Sambil kembali mengetuk pintu pemerintah. Ia tidak sedang meminta sekolahnya dipoles menjadi bangunan mewah. Harapannya sederhana: guru dapat mengajar tanpa terus menengadah ke plafon. Murid bisa belajar tanpa dibayangi genting yang mungkin jatuh.

Sebab, setiap sore ketika seluruh siswa telah pulang, kecemasan Juju belum ikut meninggalkan sekolah. Bangunan itu terus terbawa dalam pikirannya sampai ke rumah. Merampas ketenangan bahkan ketika malam tiba.

Juju tidak ingin pemerintah baru datang setelah ruang kelas benar-benar ambruk. Terlebih jika kedatangan itu disertai garis polisi, proses evakuasi, dan kabar tentang korban. "Saya takut terjadi sesuatu. Setiap hari rasanya waswas," Juju menutup perbincangan.

Kondisi SDN Cadasleeur menggambarkan dilema yang dihadapi banyak sekolah di daerah terpencil. Di satu sisi, bangunan rusak dan membahayakan. Di sisi lain, tidak ada alternatif tempat belajar. Sekolah tetap beroperasi karena pendidikan anak-anak tidak bisa menunggu. Sementara perbaikan yang diharapkan belum kunjung tiba. Kecemasan Juju dan para orang tua menjadi harga yang harus dibayar setiap hari, hanya agar anak-anak tetap bisa bersekolah.

SDN Cadasleeurkerusakan sekolahkecemasan kepala sekolahmaterial atap jatuhdana BOS terbatasbelajar sifusulan perbaikan

Komentar

Memuat komentar...