Australia-Indonesia: 12 Riset KONEKSI di KIE Summit 2024

Dwi H. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 82 dibaca
Bisik.id
Australia-Indonesia: 12 Riset KONEKSI di KIE Summit 2024

Gambar atau konten salah?

Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, menegaskan bahwa pendidikan tinggi dan riset merupakan pilar utama hubungan bilateral antara kedua negara. Ia menyoroti program KONEKSI—Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Teknologi Australia-Indonesia—yang dapat mendukung prioritas pembangunan Indonesia.

“Dan juga aspirasinya (RI) menjadi pusat pendidikan tinggi dan riset di kawasan dan global,” kata Kamath pada wartawan di sela pembukaan KIE Jakarta Summit yang diadakan di Shangri‑La Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa 28 Mei 2024. Ia menambahkan bahwa pihak Australia siap memberikan dukungan bagi upaya Indonesia.

Acara KIE Jakarta Summit menampilkan 12 riset dari bidang kategori prioritas, meliputi pendidikan, teknologi, kesehatan, air, pangan, dan energi. Selain itu, sebanyak 38 proyek riset di bidang lingkungan dan perubahan iklim Indonesia‑Australia, yang didukung oleh KONEKSI dan selesai pada 2025, didorong untuk diterapkan secara lebih luas. Pertemuan ini melibatkan sekitar 300 pejabat senior lintas kementerian, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat sipil.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, menekankan pentingnya hilirisasi hasil penelitian. Ia berkata:

“Publikasi tetap kunci, tetapi kita hilirkan lagi supaya bermanfaat. Jadi dimulai dari masyarakat dan industri. Kemudian, setelah kita proses, kita kembalikan lagi ke masyarakat dan industri, sehingga riset dari awal sudah terlihat siapa off‑takernya, siapa yang akan menggunakannya. Nah, ini akan mempermudah proses hilirisasi riset kita,” ucapnya.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Febrian Alphyanto Ruddyard, menjelaskan bagaimana temuan riset lingkungan dan perubahan iklim dari kolaborasi RI‑Australia dimanfaatkan dalam proses perencanaan jangka pendek, menengah, dan panjang. Ia menegaskan:

“Perubahan iklim satu hal yang perlu diantisipasi tidak saja secara kreatif, tapi juga dari perencanaan. Bappenas memanfaatkan hasil‑hasil ini tidak saja dalam konteks aplikasi ke lapangan, tapi kita juga memasukkan dalam proses perencanaan, monitoring, dan evaluasi,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa hasil riset menjadi dasar perumusan kebijakan pemerintah. “Di konteks perencanaan, kita selalu mulai dari data dan diakhiri dengan data. Dan itu hanya bisa diselesaikan kalau menggunakan riset yang kredibel,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, Australia dan Indonesia berupaya memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pendidikan tinggi dan riset di kawasan. Riset yang terfokus pada kebutuhan masyarakat dan industri diharapkan dapat langsung memengaruhi kebijakan publik, mempercepat implementasi solusi inovatif, dan memperkuat kemampuan Indonesia dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Pendidikan TinggiRisetKONEKSIAustralia-IndonesiaPerubahan IklimHilirisasiKIE Jakarta Summit

Komentar

Memuat komentar...