Batu Kuno Bertulis "Palyangan" Ditemukan di Gang Klaten
Gambar atau konten salah?
Sebuah batu bertuliskan kuno ditemukan di sebuah gang di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten. Batu itu berbentuk lingga dan memuat kata "Palyangan". Para ahli sejarah dan budaya sedang berupaya mengartikan makna di balik kata tersebut.
Harun Al Rasyid, yang menjabat sebagai Pamong Budaya Ahli Pertama di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah, memberikan penjelasan awal. Menurutnya, kata "Palyangan" merujuk pada sebuah tempat yang memiliki lubang. "Tempat berlubang (artinya). Mungkin kaya sejenis lembah jadi disebut palyangan," kata Harun pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Harun kemudian menguraikan lebih lanjut tentang kemungkinan makna lubang tersebut. Lubang itu bisa saja diartikan sebagai lubang mata air, atau sumber air. Namun, ada juga kemungkinan lain. "Atau bisa dihubungkan dengan tempat manusuk sima, lubang tempat menancapkan watu sima," terangnya. Istilah "manusuk sima" merujuk pada prosesi penancapan batu sebagai tanda peringatan di masa lalu.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh pegiat sejarah dari Klaten, Hari Wahyudi. Ia menambahkan bahwa kata Palyangan tidak hanya sekadar berarti lubang. "Menurut saya pribadi merujuk catatan Dr J.L.A Brandes (1913 yang melaporkan prasasti Mudal dan Srago bertuliskan Palyangan) ditulis sebagai tempat yang berlubang, secara awam Palyangan, liang, tempat yang berlubang," ungkap Hari.
Hari menjelaskan bahwa makna "lubang" dalam konteks ini tidak terbatas pada lubang besar seperti ceruk atau gua. Bisa juga merujuk pada lubang mata air atau bahkan sebuah saluran. Namun, yang menjadi kunci adalah keberadaan sesuatu yang penting di lokasi penemuan batu tersebut. "Ada sesuatu yang istimewa sehingga harus dibuatkan tanda tugu sebagai peringatan. Bahwa di tempat tugu tersebut dinamakan sebagai Palyangan," jelas Hari.
Menurut Hari, jika melihat temuan baru ini dan mencocokkannya dengan catatan Brandes, maka sudah ada tiga prasasti dengan isi yang sama yang ditemukan. Biasanya, prasasti berbentuk lingga patok semacam ini berjumlah empat buah. "Minimal ada empat di empat penjuru mata angin, berarti kurang satu. Apakah Palyangan itu mencakup semua luas di empat sisi itu atau hanya di tiap tugu itu, ini belum ada penelitian lebih lanjut apa makna Palyangan," katanya.
Hari juga menambahkan kemungkinan lain. "Atau bisa juga Palyangan itu sebuah tempat atau lokasi untuk menanam sesuatu yang mempunyai nilai tinggi sehingga pada masa itu perlu dibuatkan tugu sebagai penanda, mungkin juga," imbuhnya. Ini menunjukkan bahwa kata Palyangan mungkin merujuk pada suatu area atau lokasi yang memiliki arti penting, bukan sekadar nama sebuah tugu.
Pendapat yang sama juga datang dari seorang epigraf, Goenawan A Sambodo. Ia adalah orang yang pertama kali membaca tulisan pada batu lingga tersebut. "Lubang (artinya), tapi entah bermakna apa," ungkap Goenawan saat dimintai konfirmasi. Ia mengakui bahwa meskipun arti dasar dari kata tersebut sudah diketahui, makna yang lebih dalam dan spesifik masih perlu diteliti.
Tim dari detikJateng melakukan penelusuran ke Dukuh Jogodayoh Lor dan menemukan fakta menarik. Di daerah timur dusun tersebut, terdapat dua umbul atau mata air yang masih digunakan oleh warga. Dua mata air ini terletak di bagian utara. Salah satunya bernama Sumber Kemuning, yang memiliki air jernih yang keluar dari dinding tanah. Sekitar 50 meter di selatannya, ada mata air lain bernama Sumber Gayam. Airnya lebih keruh dibandingkan dengan Sumber Kemuning, dan di sekitarnya tumbuh beberapa pohon gayam besar.
Di bagian selatan dukuh, ditemukan beberapa bekas kolam ikan yang sudah tidak terpakai. Lebih ke utara, sekitar 300 meter, terdapat sebuah umbul aktif bernama Sendang Mbalong. Umbul ini masuk ke dalam wilayah Desa Gemblegan. Di utara Dukuh Jogodayoh Lor sendiri, terdapat dua dukuh lain, yaitu Dukuh Sedangan dan Sendangrejo. Namun, beberapa mata air di dukuh-dukuh tersebut sudah hilang karena lahan digunakan untuk permukiman penduduk.
Miswan, seorang warga Dukuh Jogodayoh Lor yang berusia 66 tahun, menceritakan bahwa di kampungnya memang banyak sekali sendang, umbul, atau mata air. "Banyak sendang umbul di sini, itu dekat makam (selatan dukuh) di timur ada dua. Ada juga yang Gemblegan, masih pada dipakai, lainnya jadi perumahan," kata Miswan. Ia menegaskan bahwa sumber-sumber air tersebut tersebar dari selatan hingga ke timur wilayah dukuh.
Cerita Miswan diperkuat oleh Dedi, warga Desa Gumulan lainnya. Menurut cerita yang didengar dari kakek dan neneknya, dulu banyak sekali mata air di Desa Gumulan dan sekitarnya. "Ceritanya banyak sendang, umbul. Bahkan masih ada yang namanya jumbleng tempat air, ada saluran buatan Belanda katanya untuk mengairi pabrik gula," katanya. Ia juga menambahkan bahwa air sumur di daerah itu sangat mudah didapat. "Air sumur juga mudah. Dulu katanya gali tiga meter saja sudah dapat air," imbuh Dedi.
Sebelumnya, batu lingga ini ditemukan di gang rumah warga. Wiyan Ari Tanjung, yang menjabat sebagai analis cagar budaya dan koleksi museum di Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, menjelaskan proses penemuannya. "Kita bersama teman-teman pegiat sejarah blusukan ke sini karena kemarin ada informasi di dekat masjid Al Muttaqien ada lingga. Setelah ada laporan hari ini kita tindak lanjuti," terangnya di lokasi pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Saat tim sampai di lokasi, posisi batu lingga tersebut dalam keadaan terguling dan tertutup oleh beberapa kayu. Setelah diangkat dan dibersihkan, barulah terlihat adanya aksara kuno pada permukaan batu. "Setelah kita bersihkan ternyata ada aksaranya. Tahap awal kita dokumentasikan, kita ukur dimensi dan kita akan minta bantuan epigraf untuk membaca," papar Wiyan Ari Tanjung.
Batu lingga tersebut memiliki dimensi yang spesifik. Tingginya mencapai 82 sentimeter dan lebarnya 35 sentimeter. Bagian atas batu berbentuk silinder, sementara bagian bawahnya berbentuk persegi. Bahan batu ini adalah andesit. Berdasarkan pengamatan awal terhadap bentuk aksaranya, diperkirakan batu ini berasal dari kisaran abad ke-9 Masehi. "Kisaran abad 9 Masehi kalau dari penglihatan saya berdasar bentuk aksaranya," kata epigraf Goenawan A Sambodo.
Goenawan menjelaskan bahwa dirinya telah mencoba membaca aksara Jawa kuno yang terukir pada batu tersebut. Kalimat dalam prasasti itu berbunyi "Palyangan". Pendapat ini diperkuat oleh Yoses Tanzaq, seorang epigraf dari BPK Jawa Tengah. Ia menjelaskan bahwa hasil pembacaan menunjukkan tulisan tersebut berbunyi "Palyangan". Aksaranya adalah Jawa kuno, namun diperkirakan berasal dari era Mataram kuno akhir. "Mungkin aksaranya di era Mataram kuno Medang akhir. Nanti kita coba bandingkan dengan prasasti-prasasti di era Mpu Sindok atau Airlangga," ungkap Yoses di lokasi.
Temuan batu lingga bertuliskan "Palyangan" ini menambah daftar prasasti serupa yang pernah ditemukan di wilayah Klaten. Keberadaan banyak mata air di sekitar lokasi penemuan memperkuat dugaan bahwa kata tersebut memiliki kaitan erat dengan sumber air, baik itu lubang mata air, saluran, atau lembah. Namun, makna pastinya masih menjadi misteri yang menunggu penelitian lebih lanjut dari para ahli epigrafi dan sejarah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Dua Pekerja Tertimpa Marmer Dua Ton di Klaten
Pemadaman Listrik Rugikan Komunikator Hewan
Warga Pati Bertahan di Rumah Terendam Banjir Sebulan
Disdik Semarang Tolak Buka Akses Portal Prestasi Siswa
LDA Daftarkan Nama Paku Buwono XIV ke HAKI
Juru Parkir Brebes Gagalkan Curi Rp3,6 M, Dapat Hadiah Umrah
Berita Terbaru
Batu Kuno Bertulis "Palyangan" Ditemukan di Gang Klaten
Gus Yahya Serukan Ketulusan Khidmah di Pembukaan Munas NU 2026
Pola Makan Atlet Elite: Jangan Ditiru Mentah-mentah
Cortado vs Latte: Bukan Sama, Ini Beda Utamanya
Dua Predator Besar Jawa Kini Terancam Punah
Pemblokiran STNK Bisa Dibuka, Ini Syarat dan Dokumen yang Wajib Dibawa
Spanyol Imbang Tanpa Gol Lawan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Kode Redeem Genshin Impact Terbaru: Klaim 300 Primogem Gratis
Transmart Diskon 50%+20% Khusus Kartu Bank Mega