Pola Makan Atlet Elite: Jangan Ditiru Mentah-mentah
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Pola makan para pemain sepak bola kelas dunia memang sering jadi bahan perbincangan. Ada yang pantang gula tambahan, ada yang mengandalkan karbohidrat kompleks dalam jumlah besar. Lionel Messi punya minuman kesukaan bernama yerba mate. Cristiano Ronaldo terkenal dengan disiplin ketat soal jadwal makan. Semua itu terlihat menarik untuk ditiru.
Tapi perlu diingat: tubuh atlet elite bekerja dalam kondisi yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka berlatih keras berjam-jam setiap hari. Ada target performa yang harus dicapai. Pemulihan otot jadi prioritas. Komposisi tubuh juga diatur dengan saksama. Semua itu dilakukan dengan pendampingan ahli gizi olahraga. Jadi, meniru pola makan atlet secara persis belum tentu memberikan hasil yang sama dalam kehidupan sehari-hari.
Yang lebih penting sebagai acuan harian adalah Pedoman Gizi Seimbang. Prinsipnya sederhana: makan beragam, porsi disesuaikan dengan kebutuhan, perbanyak sayur dan buah, cukup protein, batasi gula, garam, dan lemak. Beberapa kebiasaan atlet memang masih bisa diadaptasi ke dalam pola makan biasa.
Ambil contoh Kylian Mbappe. Ia mengutamakan karbohidrat kompleks seperti oat, gandum utuh, dan umbi-umbian. Ini bisa diterapkan karena membantu energi lebih stabil dan rasa kenyang bertahan lebih lama. Cocok untuk aktivitas harian yang padat.
Kebiasaan Cristiano Ronaldo yang membatasi gula tambahan juga relevan. Ini membantu mengurangi asupan kalori berlebih dan menjaga kesehatan metabolik. Prinsip ini sejalan dengan anjuran gizi seimbang yang menyarankan pembatasan gula tambahan — bukan berarti berhenti total mengonsumsi karbohidrat.
Pola makan Lamine Yamal yang sederhana — kombinasi nasi, ayam, dan kacang — bisa jadi inspirasi menu praktis. Tapi perlu dilengkapi sayur dan buah agar sesuai gizi seimbang.
Minuman yerba mate yang identik dengan Lionel Messi juga bisa ditiru. Kandungan kafein dan antioksidannya membantu meningkatkan fokus dan kewaspadaan. Di Indonesia, teh bisa jadi alternatif. Kandungan kafeinnya lebih ringan, plus ada antioksidan polifenol yang mendukung hidrasi dan aktivitas harian. Tapi perhatikan tambahan gulanya. Gula berlebih justru mengurangi manfaat kesehatan dan menambah asupan kalori.
Di sisi lain, ada kebiasaan atlet yang perlu disikapi hati-hati. Erling Haaland misalnya, rajin mengonsumsi jeroan. Makanan ini memang kaya zat besi dan vitamin B12. Tapi juga tinggi kolesterol dan purin. Tidak cocok jika sering dikonsumsi dalam jumlah besar.
Konsep no-cheat diet ala Cristiano Ronaldo juga perlu dipertimbangkan. Pola ini sangat ketat, tanpa fleksibilitas untuk makanan tertentu. Terlihat disiplin, tapi berisiko jadi bumerang. Terlalu kaku bisa membuat hubungan dengan makanan menjadi tidak seimbang secara psikologis. Sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Intinya, inspirasi dari lapangan bola memang banyak. Tapi tidak semuanya cocok diterapkan mentah-mentah. Tubuh atlet bekerja dalam rezim yang berbeda. Yang paling penting adalah tetap berpegang pada prinsip gizi seimbang sebagai panduan utama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
