BI Dorong Mata Uang Lokal Demi Ketahanan Ekonomi Asia

Ika P. · 2 min baca · 1 jam lalu · 29 dibaca
Bisik.id
BI Dorong Mata Uang Lokal Demi Ketahanan Ekonomi Asia

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi. Langkah ini disebut penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi di kawasan Asia, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Tujuannya juga untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang negara ketiga.

Hal itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia. Acara itu berlangsung pada 12 Oktober hingga 18 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand. Pertemuan ini juga mencakup forum Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20.

Menurut Destry, memperkuat ketahanan ekonomi tidak cukup hanya dengan perluasan penggunaan mata uang lokal. Sistem keuangan digital yang inovatif dan bisa dipercaya juga diperlukan. Bank Indonesia mendukung peta jalan G20 untuk pembayaran lintas negara. Tujuannya agar transaksi antarnegara bisa lebih cepat, murah, transparan, dan mudah diakses.

"Kami mendukung peta jalan G20 untuk pembayaran lintas negara agar transaksi menjadi lebih cepat, murah, transparan, dan mudah diakses. Perbaikan ini akan memberi manfaat bagi dunia usaha, memfasilitasi perdagangan internasional, serta mendorong inklusi keuangan," kata Destry dalam keterangan tertulis pada Minggu, 18 Oktober 2026.

Bank Indonesia juga mendorong pembayaran QR lintas negara. Ini sejalan dengan upaya memperluas transaksi mata uang lokal. Keduanya diyakini bisa meningkatkan efisiensi pembayaran, mendukung perdagangan, dan memperluas inklusi keuangan.

Di dalam negeri, Bank Indonesia memperluas manfaat digitalisasi keuangan melalui QRIS. Fokusnya pada generasi muda dan pelaku UMKM. Lewat QRIS, mereka bisa membangun rekam jejak transaksi digital. Rekam jejak ini kemudian bisa digunakan untuk meningkatkan akses ke pembiayaan formal.

Dalam pertemuan IMF-Bank Dunia, para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral menyepakati Agenda Kebijakan Global. Agenda ini bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi dunia. Isinya mencakup pemeliharaan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Juga perbaikan iklim usaha dan modernisasi pasar tenaga kerja untuk mendukung pertumbuhan sektor swasta.

Agenda itu juga membahas pemanfaatan kecerdasan buatan dan digitalisasi. Semua itu harus didukung investasi pada infrastruktur digital dan energi berkelanjutan. Kerja sama internasional dinilai penting untuk mengatasi ketidakseimbangan global, mengelola kerentanan utang, dan menjaga kelancaran perdagangan.

IMF menekankan penguatan jaring pengaman keuangan global. Lembaga itu juga mendorong penyediaan pembiayaan sesuai kebutuhan negara anggota. Reformasi kuota dan tata kelola IMF juga menjadi perhatian.

Pembahasan berlanjut dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20. Pertemuan ini menyoroti penguatan kerja sama internasional untuk membangun sektor keuangan yang inovatif dan berdaya tahan. Sejalan dengan prioritas Presidensi G20 Amerika Serikat, pembahasan mencakup peningkatan efektivitas regulasi dan pengawasan. Penyederhanaan regulasi juga dibahas. Begitu pula pemanfaatan inovasi dan teknologi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Pertemuan ini juga menandai serah terima Presidensi G20 Finance Track dari Amerika Serikat kepada Inggris.

Ke depan, Bank Indonesia bersama Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan otoritas global. Tujuannya untuk bersama menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat ketahanan ekonomi. Juga untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dorongan Bank Indonesia terhadap penggunaan mata uang lokal dan digitalisasi pembayaran ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang. Tujuannya bukan hanya untuk efisiensi, tetapi juga untuk mengurangi kerentanan ekonomi nasional terhadap gejolak nilai tukar dan ketergantungan pada sistem keuangan global yang didominasi beberapa mata uang utama.

mata uang lokalketahanan ekonomidigitalisasi keuanganpembayaran lintas negaraQRISIMFG20

Komentar

Memuat komentar...