BI: Ekonomi RI Tumbuh di Tengah Suku Bunga Global Tinggi
Gambar atau konten salah?
Bank Indonesia (BI) menilai perekonomian dalam negeri masih punya peluang untuk terus berkembang. Ini terjadi di tengah situasi suku bunga global yang sedang tinggi-tingginya. Kenaikan suku bunga itu dipicu oleh meningkatnya ketegangan politik dunia yang akhirnya mendorong harga-harga naik di banyak negara.
Beberapa bank sentral utama dunia mulai menaikkan suku bunga mereka. Federal Reserve (The Fed) dari Amerika Serikat, European Central Bank (ECB) dari Eropa, dan Bank of Japan (BOJ) semuanya sudah melakukannya. Langkah ini diambil karena inflasi di negara-negara tersebut juga ikut naik.
"FFR sudah mulai naik, tidak saja FFR, kemarin juga ECB sudah menaikkan, BOJ juga sudah menaikkan. Artinya sudah terjadi dampak dari harga-harga komoditas tersebut kepada inflasi," kata Deputi Gubernur Senior BI, Aida S Budiman. Ia menyampaikan ini dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur bulan September di Gedung BI, Jakarta, pada Rabu, 23 September 2026.
Aida menjelaskan, dari sisi Produk Domestik Bruto (PDB) global, situasinya masih belum bergerak banyak. "PDB global itu tidak bergerak sekitar 3 persenan di 2026," ungkapnya.
Tapi ada harapan. Jika ketegangan geopolitik mulai mereda, Aida memperkirakan pertumbuhan ekonomi global bisa naik lagi di atas 3% pada tahun 2027. Menurutnya, ketika situasi politik dunia lebih tenang, aktivitas ekonomi global punya ruang untuk tumbuh lebih tinggi.
"Mudah-mudahan nanti di 2027 kalau asumsinya seperti kami lihat bahwa akan terjadi penurunan dari geopolitical tension-nya, ini akan bisa lebih tinggi daripada 3%," jelasnya.
Meskipun ada tekanan dari geopolitik, Aida menilai ekonomi Indonesia masih punya celah untuk tumbuh. Salah satu pendorongnya adalah kenaikan harga komoditas ekspor nonmigas. Beberapa komoditas andalan Indonesia seperti minyak sawit mentah atau CPO, batu bara, dan nikel mengalami kenaikan harga. Kondisi ini berdampak positif pada kinerja ekspor Indonesia.
"Kita memang kalau dari price komoditas tadi yang jalur trade tadi, ada dua dampak. Ada yang memang mengakibatkan pay oil, mengakibatkan kita menaikkan harga import daripada migas kita. Tapi juga untuk harga-harga yang non oilnya, kita bisa mendapatkan benefit karena harga komoditas seperti CPO, kemudian coal, berbagai macam jenis-jenis komoditas seperti nikel dan lain-lain itu mengalami peningkatan," terangnya.
Aida menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa menyentuh angka 5,61% pada kuartal I-2026 dan 5,29% pada kuartal II-2026. BI sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,9% hingga 5,7% sampai akhir tahun 2026.
Dari sisi inflasi, kondisinya juga masih terkendali. Pada Agustus 2026, inflasi Indonesia berada di level 3,19%. Memang ada dampak dari kenaikan nilai tukar dan harga komoditas yang mulai terlihat pada inflasi inti, volatile food, maupun administered prices. Namun, inflasi inti masih berada di angka 2,92%.
"Artinya kita masih punya ruang yang cukup baik dalam menjaga dampak dari global tadi ke inflasi dan kemudian masih dalam target inflasi kita. Proyeksi yang kami lihat ini semuanya masih di bawah 3,5% dan bahkan masih sekitar 3%. Jadi inflasinya masih baik," pungkas Aida.
Secara keseluruhan, BI melihat ekonomi Indonesia masih cukup kuat meskipun ada goncangan dari luar. Kenaikan harga komoditas ekspor menjadi salah satu faktor yang membantu, sementara inflasi tetap terjaga dalam rentang yang diharapkan. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2026 diproyeksikan masih dalam kisaran yang positif, meskipun tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
