BMKG: Puncak Kemarau 2026 Juli-September
Gambar atau konten salah?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat bersiap menghadapi musim kemarau. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026. Persiapan sejak dini penting untuk mengurangi risiko kekeringan, gangguan kesehatan, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa puncak musim kemarau akan terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Pada Juli 2026, puncak kemarau diperkirakan melanda 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah daratan Indonesia. Kondisi ini kemudian meluas pada Agustus menjadi 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan. Pada September 2026, puncak kemarau masih diprediksi terjadi di 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia.
Menghadapi situasi ini, BMKG meminta berbagai sektor mulai melakukan langkah mitigasi. Sektor pangan, sumber daya air, hingga kesehatan masyarakat harus bersiap. Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan. BMKG juga mendorong penggunaan tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air serta memiliki siklus tanam lebih singkat.
"Para petani juga bisa menyesuaikan dengan menanam tanaman hortikultura yang juga cocok pada saat periode kering ini. Jadi banyak hal yang bisa juga masih dilakukan menghadapi kondisi kemarau," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena.
Sektor sumber daya air diminta mempercepat revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air, serta memastikan pasokan air bersih tetap tersedia bagi masyarakat selama musim kemarau.
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah agar menyiapkan mekanisme respons cepat jika kualitas udara memburuk. Cuaca kering berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). "Pemerintah daerah juga diharapkan menyiapkan mekanisme respons cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA," ujar Ardhasena.
Cuaca yang semakin kering juga meningkatkan risiko terjadinya kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). BMKG bersama pemerintah daerah terus memperkuat upaya pencegahan. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pelaksanaan OMC akan dilakukan secara situasional dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang aktif dalam rentang beberapa jam hingga sekitar 10 hari.
BMKG juga mengimbau masyarakat ikut berperan dalam menghadapi musim kemarau. Gunakan air secara hemat untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, maupun aktivitas rumah tangga lainnya. Masyarakat juga diminta memastikan keran air selalu ditutup setelah digunakan guna menghindari pemborosan.
Musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung bertahap, dengan dampak yang meluas dari Juli hingga September. Wilayah yang paling terdampak adalah mereka yang berada di zona musim dengan persentase luas daratan signifikan. Langkah mitigasi dari berbagai sektor, termasuk pertanian dan sumber daya air, menjadi kunci untuk mengurangi risiko kekeringan dan karhutla. Partisipasi masyarakat dalam menghemat air juga sangat diperlukan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
5 Minuman Sehat Pengganti Soda
Penuaan Biologis Lebih Cepat pada Generasi Muda Picu Lonjakan Kanker
Miliarder Bryan Johnson Didiagnosis Lambung 'Memakan' Dirinya
Dokter Anak: Warga Sekitar TPA Jatiwaringin Harus Segera Mengungsi
Rahasia Diet 6.000 Kalori Haaland di Piala Dunia
17% Pekerja Malaysia Alami Gangguan Psikososial
Berita Terbaru
Telkomsel dan SiCepat Luncurkan Paket Data Khusus Kurir
SpaceX Hancurkan 260 Satelit Starlink dalam Enam Bulan
Mendikti: Jangan Takut Pulang ke Indonesia
Bocah 10 Tahun di Sukabumi Kecanduan Hirup Bensin
Anak-anak Nekat Seluncur di Bendung Semarang
Samsat Datangi Rumah Pemilik Tunggakan Pajak
Pohon Lontar Patah, Pria 42 Tahun Tewas
4 Cara Mudah Usir Nyamuk dari Halaman Tanpa Bahan Kimia
Petugas Samsat Datangi Rumah Warga Penunggak Pajak
