Polusi Udara Serang Semua Organ Anak
Gambar atau konten salah?
Polusi udara pada anak ternyata tidak hanya menyerang saluran pernapasan. Dampaknya bisa menyebar ke hampir seluruh organ tubuh, bahkan meningkatkan risiko kanker. Hal ini disampaikan oleh dr Cynthia Centauri, SpA(K), Subsp Resp, dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
"Dampak polusi udara sebetulnya tidak terbatas di saluran pernapasan, tapi sebetulnya terjadi sistemik dari ujung kepala sampai ujung kaki. Semua sistem tubuh kita bisa terganggu," kata dr Cynthia dalam konferensi pers pada Selasa, 07 Juli 2026.
Menurut dr Cynthia, paparan polusi udara bisa mengubah sistem kekebalan tubuh. Ini memicu stres oksidatif dan menyebabkan kerusakan pada saluran serta sel-sel pernapasan. Dampaknya tidak berhenti di paru-paru saja.
"Bisa mengenai masalah di jantung, pembuluh darah, memicu kanker, mengganggu saraf, kemudian juga faktor-faktor pembekuan darah ataupun mengganggu saturasi atau kadar oksigen darah," ujarnya.
Ibu hamil juga perlu waspada. Paparan polusi pada ibu hamil bisa memengaruhi janin sejak masih dalam kandungan. Akibatnya, bayi berisiko lahir dengan berat badan rendah, lahir prematur, hingga mengalami gangguan fungsi paru sejak lahir.
Beban paparan polusi pada anak datang dari berbagai sumber. Baik di dalam maupun di luar rumah. Kondisi rumah yang lembap dan berjamur, asap dari aktivitas memasak tanpa ventilasi yang memadai, keberadaan perokok, renovasi rumah, hingga pembakaran sampah di sekitar lingkungan bisa meningkatkan paparan polusi.
Polusi yang dihirup anak selama perjalanan menuju sekolah juga turut berkontribusi. Begitu pula di lingkungan sekolah sendiri. Semua itu menambah total paparan yang diterima setiap hari.
"Jadi kita melihat beban polusi itu tidak hanya melihat bagaimana dia tinggal, apakah ruangan atau posisi rumahnya itu di daerah yang berpolusi atau tidak, bagaimana tetangganya atau di dalam rumahnya sendiri, apakah ada yang sedang renovasi, bagaimana tetangganya, apakah ada misalnya tempat pembakaran sampah di sekitarnya," ucap dr Cynthia.
"Di rumah sendiri misalnya kalau mau masak, tapi kemudian asapnya mencemari lingkungan rumah, tidak ada ex-host atau misalnya bukan merupakan dapur terbuka, atau ada perokok, ada bocoran karena jamur misalnya di dalam rumah lebak, atau sepanjang transportasi mau ke sekolah atau mobilisasi kemana pun, atau di lingkungan sekolah sendiri," lanjutnya lagi.
Akumulasi paparan tersebut bisa meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan berulang. Pada anak yang memiliki bakat asma, polusi bisa memicu munculnya penyakit itu. Pada penderita asma, polusi bisa memperparah serangan.
Anak dengan penyakit alergi, seperti rinitis alergi, juga tidak luput. Polusi udara dapat memperburuk perjalanan penyakit. Kondisi ini berisiko memicu gangguan tidur, mengganggu kemampuan belajar, hingga meningkatkan risiko anak tumbuh menjadi dewasa dengan penyakit paru kronis.
Polusi udara bukan sekadar masalah sesak napas. Dampaknya sistemik, dari kepala hingga kaki. Mulai dari gangguan jantung, pembuluh darah, saraf, hingga kanker. Sumbernya pun beragam, dari dalam rumah, perjalanan, hingga sekolah. Perlindungan terhadap anak perlu dimulai dari kesadaran akan sumber-sumber ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Teka-teki Gambar: Temukan Keanehan Tersembunyi
13% Remaja Jakarta Alami Penurunan Fungsi Paru
Persalinan Aman Dimulai dari Kehamilan
Psikolog Ungkap Gangguan Tidur Pemicu Emosi Usai Nonton Bola
9 dari 10 Penderita Diabetes di Jakarta Tak Sadar
Warga Prancis Serbu AC Murah, Antre Panjang Picu Keributan
Berita Terbaru
Polusi Udara Serang Semua Organ Anak
Warung Pawon Itong Sajikan Menu Kondangan dengan Suasana Pesta
Salah Kecewa Berat, Pilih Bungkam soal Wasit
Polisi Tanam 6.000 Pohon di Lahan Bekas Tambang Bangka
Pendaftaran Sekolah Swasta Gratis Jakarta Dibuka Lagi
Boeing 747 Bekas Virgin Atlantic Gagal Laku di eBay
Petani Pangandaran Tercekik Biaya Pompa Air
Anggaran Minim, Target Bendungan Rampung 2027 Meleset
Korupsi di Irak: US$20 Juta Disembunyikan dalam Galon Air
