Buku 'Misi untuk Raka' Dukung Anak Tanpa Gawai, Aktivitas Seru

Rudi H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 102 dibaca
Bisik.id
Buku 'Misi untuk Raka' Dukung Anak Tanpa Gawai, Aktivitas Seru

Gambar atau konten salah?

Teknologi digital kini tak terpisahkan dari kehidupan sehari‑hari, termasuk bagi anak usia dini. Namun di balik kemudahan mengakses gawai, muncul tantangan baru: bagaimana tumbuh kembang anak terjaga bila layar tidak didampingi secara tepat.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, 39,71 persen anak usia dini mengakses dunia digital lebih dari dua jam per hari. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan durasi maksimal satu jam per hari untuk anak usia 2‑6 tahun, dengan pendampingan orang tua.

Data ini menandakan bahwa membatasi penggunaan gawai saja tidak cukup. Anak juga perlu diperkenalkan pada aktivitas alternatif yang menyenangkan sekaligus mendukung tumbuh kembang optimal.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Tanoto Foundation meluncurkan buku cerita anak berjudul Misi untuk Raka.

Buku bergambar ini ditujukan bagi anak usia 3‑8 tahun. Ia hadir sebagai media edukasi yang tidak hanya mendorong aktivitas tanpa gawai, tetapi juga membantu orang tua membangun interaksi positif di rumah.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menegaskan pentingnya penguatan peran keluarga dalam mendampingi anak di era digital.

“Tanpa pengawasan yang jelas dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak, penggunaan gawai berlebihan berisiko mengganggu kebutuhan dasar anak akan aktivitas fisik, interaksi sosial, dan pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangannya,” ujar Arifah Fauzi, dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Arifah menambahkan bahwa buku Misi untuk Raka dihadirkan sebagai instrumen edukatif untuk membantu orang tua dan anak membangun dialog serta menemukan kembali kegembiraan dalam aktivitas fisik dan interaksi langsung yang menyehatkan.

“Perlu kolaborasi banyak pihak untuk menjaga pertumbuhan anak Indonesia optimal, bukan hanya dari orang tua, guru, dan pemerintah, namun juga pihak lain yang berkaitan. Inilah mengapa melalui buku ini kami berkolaborasi dengan Kemendikdasmen dan Tanoto Foundation, yang memiliki visi yang sama,” sambungnya.

Di kesempatan yang sama, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati menilai dunia pendidikan perlu merespons tantangan era digital secara tepat.

“Di tengah pesatnya era digital yang membawa tantangan seperti adiksi gawai hingga rendahnya literasi digital, pendidikan harus merespons tidak hanya melalui aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter yang fundamental, salah satunya lewat Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dari Kemendikdasmen,” kata Rita.

Menurut Rita, buku Misi untuk Raka juga mendukung penguatan karakter anak yang sejalan dengan nilai‑nilai Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

“Kami menyambut baik buku Misi Untuk Raka, yang menguatkan pilar‑pilar Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Melalui cerita, anak‑anak memiliki alternatif yang positif sekaligus bermanfaat bagi dirinya,” ujarnya.

Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry, menegaskan pentingnya penguatan kapasitas pengasuh dan penyediaan aktivitas alternatif tanpa gawai.

“Teknologi telah menjadi bagian dari kegiatan keseharian keluarga. Namun, anak usia dini tetap membutuhkan ruang untuk bergerak, bermain, membaca, berkarya, dan membangun interaksi sosial secara nyata. Karena itu, melalui buku ini kami ingin menghadirkan pendekatan yang lebih positif, yaitu tidak hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga memperkenalkan aktivitas alternatif yang menyenangkan dan bermakna bagi anak,” ujar Eddy.

Buku Misi untuk Raka merupakan seri keempat dari Buku Cerita Anak SIGAP yang dikembangkan bersama KemenPPPA dan Kemendikdasmen. Sebelumnya, Tanoto Foundation telah meluncurkan buku Rubrik Unik Korona pada 2021, Saat Noni Datang pada 2022, dan Bisa atau Tidak, Ya? pada 2024.

“Buku‑buku ini menjadi bukti nyata dari komitmen kami dalam membantu pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan pengasuhan dan literasi anak,” tutup Eddy.

Fokus utama buku ini adalah empat aktivitas utama #SeruTanpaLayar: bergerak, berbuat baik, membaca, dan berkarya. Selain itu, buku dilengkapi tips praktis bagi orang tua melalui prinsip 3S, yaitu screen time, screen break, dan screen zone, untuk membantu menciptakan pola pengasuhan yang sehat dan seimbang di rumah.

Untuk menjangkau lebih banyak keluarga di Indonesia, buku Misi untuk Raka tersedia dalam format cetak dan dapat diunduh secara gratis melalui website www.tanotofoundation.org.

Dengan pendekatan yang menyeimbangkan penggunaan teknologi dan aktivitas non‑digital, buku ini bertujuan memberi ruang bagi anak-anak untuk tumbuh dengan sehat, aktif, dan penuh rasa ingin tahu.

GawaiAnak Usia DiniKemenPPPAKemendikdasmenTanoto FoundationBuku Misi untuk RakaScreen Time

Komentar

Memuat komentar...