Dari Sampah Jadi Sabun: Program Waste Station Kebonmanggu
Gambar atau konten salah?
Di Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, tumpukan karung berisi plastik, bungkus sabun, dan limbah rumah tangga yang dulu dibakar kini bertransformasi menjadi sumber kebutuhan sehari‑hari. Warga datang membawa karung‑karung sampah yang telah dipilah dari rumah masing‑masing, tidak lagi sekadar membuang, melainkan menukarnya dengan barang‑barang penting.
Een Rohaeni, seorang lansia berusia 70 tahun, terlihat semringah setelah menimbang sampah yang ia kumpulkan selama dua bulan terakhir. Ia mengungkapkan, “Dapat 10,7 kilo. Sampahnya plastik, bekas sabun, sama plastik hitam.” Setelah menukar, ia tidak membawa pulang uang, melainkan sabun dan kebutuhan rumah tangga lainnya. “Dapat sabun, macam‑macam. Senang sekali, buat dipakai sehari‑hari,” ujarnya.
Hayati, berusia 60 tahun, juga melakukan hal serupa. Ia memilah sampah selama satu bulan dan menukarkannya dengan sabun cuci piring serta pewangi lantai. “Ibu satu bulan dari bulan belakang sampai sekarang tanggal 30 yang dikumpulkan tiga karung, banyaknya sebelas kilo lebih. Yang ibu kumpulkan plastik, kertas, kardus dan sampah lainnya,” kata Hayati.
Perubahan perilaku warga mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir, kata Kepala Desa Kebonmanggu, Rasnita Diharja. Ia menegaskan bahwa sebelumnya pengelolaan sampah masih sederhana. “Di jalur jalan raya, pengumpulan sampah sudah dikoordinir oleh tukang rongsokan. Warga biasanya memberi insentif sekitar Rp20 ribu per bulan,” jelasnya. “Kalau sekarang ini sudah terkoordinir. Masyarakat sudah sadar melalui RT, RW, dan kadus. Bahkan ada yang operasionalnya pakai motor untuk angkut sampah.”
Rasnita menambahkan, dari sekitar 2.000 kepala keluarga atau 5.800 jiwa di Desa Kebonmanggu, tingkat kesadaran warga dalam memilah sampah kini sudah mencapai hampir 50 persen. “Sekarang hampir 1.000 keluarga sudah sadar menampung sampah plastik,” ungkapnya. Menurutnya, program waste station menjadi titik balik dalam mengubah pandangan masyarakat terhadap sampah. “Saya bersyukur sekali program ini bisa menyadarkan masyarakat. Dulu sampah itu seperti simalakama, sekarang sudah ada penanganannya,” ujarnya.
Program penukaran sampah merupakan bagian dari pembangunan waste station yang digagas oleh perusahaan semen bersama pemerintah desa di lima wilayah sekitar. General Manager of Administration PT Semen Jawa, Indra Leksono, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar soal tukar‑menukar, tetapi membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah. “Intinya kita ingin berkolaborasi dengan warga dan pemerintah desa untuk mulai memilah sampah. Karena kita tahu kapasitas TPA sudah over capacity,” kata Indra.
Di fasilitas tersebut, sampah dipisahkan menjadi organik dan anorganik. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara anorganik seperti plastik dan kertas memiliki nilai tukar bagi warga. “Tidak gratis, tapi bisa ditukarkan dengan kebutuhan rumah tangga,” ujarnya. Sampah anorganik yang terkumpul tidak berhenti di waste station, melainkan dikirim ke pabrik semen untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif.
Di pabrik, sampah tersebut dicacah lalu dicampur dengan biomassa dan material lain. Campuran ini kemudian masuk ke proses kiln atau pembakaran utama dalam produksi semen. “Masuk ke proses kiln, jadi bahan bakar dan tercampur dalam proses produksi semen,” jelasnya. Ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Sejak 2021, mereka mulai beralih ke biomassa dan RDF (Refuse Derived Fuel). “Hari ini kita sudah bisa mencapai kurang lebih 30 persen penggantian bahan bakar fosil,” kata Indra.
Program ini juga berdampak pada pengurangan sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang kini kelebihan kapasitas. Perusahaan bahkan mengoperasikan fasilitas RDF yang mampu mengolah ratusan ton sampah setiap hari. “Dari kapasitas awal 180 ton per hari, sekarang sudah hampir 300 ton per hari,” ujar Indra. Dari lima desa binaan, total sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar 11 ton sejak program berjalan pada 2022. Rata‑rata tiap desa bisa menyumbang 1 hingga 2 ton per bulan, tergantung tingkat partisipasi warga.
Langkah ini menjadi bagian dari target jangka panjang menuju nol penggunaan bahan bakar fosil. “Target pemerintah 2060, kalau kami di 2050 sudah harus net zero. Makanya kita cicil dari sekarang,” tegasnya.
Dari perspektif warga seperti Een, sampah yang dulu tak bernilai kini menjadi penghubung antara kebutuhan rumah tangga dan upaya besar menyelamatkan lingkungan. Dari dapur sederhana hingga tungku raksasa pabrik semen, perjalanan sampah itu kini punya makna baru. Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan sektor industri dapat menciptakan solusi yang menguntungkan semua pihak sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
