Deni Maulana: Dari Buruh Tani Menjadi Mahasiswa UGM

Wahyu T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 153 dibaca
Bisik.id
Deni Maulana: Dari Buruh Tani Menjadi Mahasiswa UGM

Gambar atau konten salah?

Deni Maulana pernah merasa takut tentang masa depan pendidikannya. Ia tumbuh di keluarga yang sederhana: ayahnya buruh tani serabutan, sementara ibunya bekerja sebagai pekerja migran di Yordania. Ketika Deni masih duduk di bangku SMA, ayahnya meninggal. Ibu Deni, meski lelah, tetap memotivasi Deni agar tetap melanjutkan pendidikan.

"Dari peristiwa itu saya belajar bahwa cinta seorang ibu tidak selalu berbentuk kata-kata, tetapi pengorbanan yang sering kali tidak terlihat," ungkapnya dalam laman UGM pada Rabu, 6 Mei 2026. Ibu Deni bahkan menjual cincin kesayangannya agar Deni bisa menempuh pendidikan.

Deni memanfaatkan setiap peluang. Ia menorehkan prestasi di bidang puisi, hingga meraih medali emas di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Dengan lebih dari 200 penghargaan, Deni menargetkan program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di UGM melalui jalur SNBP.

Setelah diterima sebagai mahasiswa baru, Deni tidak berhenti. Ia menargetkan menjadi Mahasiswa Berprestasi. "Keinginan menjadi mapres sudah ada sejak semester 1. Motivasi saya lahir dari latar belakang keluarga buruh tani, dengan orang tua lulusan sekolah dasar. Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk bermimpi besar," jelasnya.

Selama lima semester, Deni konsisten memperluas portofolio akademik dan nonakademik. Ia mengikuti kompetisi nasional dan internasional, bergabung dengan organisasi, melakukan pengabdian masyarakat, menjadi relawan, mentor beasiswa, dan mendirikan kelas bimbingan puisi bernama Puisi Akademia. Ia juga meraih ratusan penghargaan di bidang akademik dan non akademik.

Selain aktif di kampus, Deni menjadi kreator konten pendidikan. Ia berbagi pengalaman tentang masuk perguruan tinggi dan beasiswa, serta membuka kelas bimbingan beasiswa gratis bagi ratusan siswa. Kegiatan ini menunjukkan komitmennya untuk membantu orang lain.

Perjalanan Deni tidak selalu mulus. Saat ia bermimpi kuliah di UGM, banyak orang meragukan langkahnya. Cita‑cita itu dianggap terlalu jauh bagi seorang anak buruh tani. Namun Deni menjadikan keterbatasan sebagai dorongan. "Mimpi tidak pernah salah. Yang salah hanya jika kita menyerah sebelum mencobanya," tegasnya.

Deni mengajak mahasiswa lain agar tidak berkecil hati dengan latar belakang keluarga. Menurutnya, "Percayalah bahwa rezeki yang tertakar tidak akan tertukar, dan mimpi yang dijaga dengan sabar akan menemukan jalannya untuk menjadi nyata," pesan yang ia sampaikan.

Dengan latar belakang yang sederhana, Deni Maulana menunjukkan bahwa tekad, kerja keras, dan dukungan keluarga dapat membuka pintu pendidikan. Ia menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi penghalang, melainkan motivasi untuk terus maju. Deni terus menorehkan prestasi, sekaligus membantu orang lain meraih impian mereka.

Deni Maulanapendidikankeluarga buruh tanibeasiswaprestasi puisiUGMmotivasi

Komentar

Memuat komentar...