Dokter Soroti Risiko Sahur Run, Jangan Paksa Badan

Lia N. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 57 dibaca
Bisik.id
Dokter Soroti Risiko Sahur Run, Jangan Paksa Badan

Gambar atau konten salah?

Fenomena 'sahur run', yaitu kegiatan lari di malam hari menjelang waktu sahur, menjadi tren yang muncul di berbagai kota selama bulan Ramadan.

Bagi para penggemar lari, kegiatan ini sangat dinantikan karena menawarkan suhu yang lebih dingin dan suasana yang berbeda dari biasanya.

Namun, menurut spesialis kedokteran olahraga, dr Andhika Raspati, SpKO, lari sebelum sahur memiliki sisi positif dan negatif yang perlu dipertimbangkan pelari dengan cermat.

Salah satu keuntungan yang disebutkan dr Dhika adalah pelari masih bisa makan dan minum sepuasnya sebelum beraktivitas. Hal ini disampaikannya saat dihubungi pada Selasa (10/03/2026).

Di sisi lain, dr Dhika menyoroti masalah utama dari 'sahur run'.

  • Kurang tidur. "Dia lari jam 2 pagi itu cukup nggak tidurnya sebelumnya?" sambungnya.

Terkait potensi risiko pada jantung atau paru-paru, dr Dhika menyatakan bahwa hal tersebut mungkin tidak menjadi masalah jika dilakukan sesekali saja.

Perhatian lebih dibutuhkan jika 'sahur run' ditingkatkan intensitasnya, misalnya dalam format acara lari dengan tingkat kesulitan sedang hingga tinggi.

Kondisi kurang tidur saat dipaksa melakukan aktivitas berat meningkatkan risiko. "Buat mereka yang punya masalah jantung bisa jadi muncul gitu," jelas dr Dhika. Selain itu, kesadaran (awareness) akan menurun karena kurang tidur, yang menambah nilai minus dari kegiatan ini.

Banyak 'sahur run' diubah menjadi acara lari resmi dengan jarak seperti 5K dan 10K. Ini berarti persiapan matang tetap diperlukan, termasuk pengambilan paket peserta jauh-jauh hari.

dr Dhika mengkhawatirkan pelari yang terdorong ikut karena FOMO (Fear of Missing Out) tanpa mengetahui kondisi kebugaran jantung dan paru-paru mereka.

Kombinasi antara kurang tidur dan aktivitas berat meningkatkan probabilitas timbulnya masalah kesehatan.

Menanggapi hal ini, spesialis jantung, dr Erika Maharani, SpJP(K) dari Indonesia Heart Rhythm Society (InaHRS), menegaskan bahwa olahraga malam sebelum sahur sebaiknya dikurangi porsinya, bahkan bagi mereka yang rutin berolahraga.

Menurut dr Erika, jangan memaksakan diri berolahraga saat badan sedang sangat lelah. Pengukuran denyut jantung (heart rate) sering dijadikan patokan.

Hal terpenting lainnya adalah memperhatikan kebutuhan pemulihan tubuh (*recovery*). Tidur malam dianggap lebih bermanfaat dibandingkan tidur siang karena berhubungan dengan siklus hormonal tubuh.

Menggeser waktu tidur sewaktu-waktu mungkin tidak masalah, tetapi pengulangan terus-menerus dapat mengubah hormon dalam tubuh dan memberikan hasil yang kurang baik.

Ringkasan:

Kegiatan 'sahur run' populer selama Ramadan karena suhu dingin dan suasana berbeda, namun dokter mengingatkan adanya risiko kesehatan terutama akibat kurang tidur saat melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga tinggi. Pelari perlu waspada terhadap kondisi jantung, terutama jika ikut acara lari resmi tanpa persiapan kebugaran yang memadai. Selain itu, ahli jantung menyarankan agar porsi olahraga malam dikurangi dan memprioritaskan pemulihan tidur malam karena dampaknya pada siklus hormonal tubuh.

Sahur runKomunitas lariRamadanLari malamKesehatan jantungKurang tidurSpesialis kedokteran olahraga

Komentar

Memuat komentar...