Gimbal Bolaang Mongondow: Panggil Roh Leluhur Lewat Tabuhan
Gambar atau konten salah?
Di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, ada alat musik tradisional bernama gimbal. Masyarakat setempat percaya alat musik ini bisa memanggil roh leluhur saat upacara adat berlangsung.
Gimbal sering dimainkan untuk mengiringi tarian, pertunjukan seni, atau upacara adat. Fungsinya cukup beragam. Mulai dari mengiringi ritual sakral, memanggil roh leluhur dalam prosesi pengobatan motayok, hingga menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia spiritual. Alat musik ini juga berfungsi sebagai patokan ketukan dan ritme selama ritual berlangsung, serta mengiringi tarian dan lantunan mantra.
Sekilas, bentuk gimbal mirip gendang. Cara memainkannya dengan ditabuh atau dipukul menggunakan alat khusus dari kayu. Pukulan ini harus diselaraskan dengan alat musik pengiring lainnya agar menghasilkan harmoni. Suara yang dihasilkan tidak hanya menambah keindahan acara, tetapi juga mempertegas suasana yang lebih hidup dan penuh semangat.
Proses pembuatan gimbal dimulai dari batang pohon yang dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Bagian tengah kayu dilubangi dengan dipahat secara hati-hati. Jika pengrajin tidak konsentrasi, bagian sisi gimbal bisa rusak dan harus mengulang dari awal menggunakan kayu lain. Setelah pelubangan bagian dalam selesai, pengrajin beralih ke bagian luar dan mengamplas hingga halus.
Jika gimbal sudah setengah jadi, langkah selanjutnya adalah memasang kulit hewan di kedua sisi gimbal. Umumnya, kulit yang digunakan adalah kulit sapi, kerbau, atau anoa. Kulit hewan tersebut kemudian diikat di salah satu atau kedua sisi gimbal dengan menggunakan tali rotan. Saat dipukul, kulit hewan itu akan menghasilkan suara.
Untuk mengubah tinggi rendahnya suara, pemain bisa mengencangkan atau mengendorkan tarikan tali rotan yang mengikat kulit gimbal dengan pasak kayu. Semakin kencang ikatan, semakin tinggi suara yang dihasilkan. Sebaliknya, semakin kendur tali ikatan, semakin rendah suara yang dihasilkan. Penyesuaian tinggi rendahnya suara gimbal biasanya dilakukan sebelum pertunjukan dimulai.
Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto, yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara. Gimbal bukan sekadar alat musik pengiring, tetapi juga bagian dari kepercayaan dan tradisi masyarakat Bolaang Mongondow yang masih dijaga hingga kini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Modi Yakin Restorasi Prambanan Tarik Wisatawan India
Bupati Tolak Pipa Laut di Gili Meno, Pilih Sumur Pantai
Kunjungan ke Kota Lama Semarang Tembus 236 Ribu Selama Libur Sekolah
Prabowo-Modi Resmikan Restorasi Candi Prambanan
Raja Juli: Hutan Jadi Mesin Ekonomi Baru
Pesawat Kargo Hilang Kontak, Diduga Jatuh di Laut Arab
Berita Terbaru
Gimbal Bolaang Mongondow: Panggil Roh Leluhur Lewat Tabuhan
Denza D9 Kini Hadir dengan Warna Hitam Emas, Biaya Tambahan Rp79 Juta
Latihan Persib Mundur, Pemain Flu
Zlatko Dalic Mundur, Akhiri 9 Tahun Latih Kroasia
Indonesia Ajukan Orbit Satelit LEO ke ITU, Operator PSN dan Telkomsat Bergerak
Stella Christie Koreksi Data 60 Ribu Kursi Kosong PTN
OJK Bantah Isu Bank Asing Tarik Dana Besar-besaran