Indonesia Ajukan Orbit Satelit LEO ke ITU, Operator PSN dan Telkomsat Bergerak

Dwi H. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Indonesia Ajukan Orbit Satelit LEO ke ITU, Operator PSN dan Telkomsat Bergerak

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Indonesia mengonfirmasi bahwa operator satelit nasional saat ini sedang dalam proses mengembangkan satelit Low Earth Orbit (LEO). Langkah awal yang krusial telah diambil: pengajuan orbit dan frekuensi untuk satelit tersebut sudah diserahkan ke International Telecommunication Union (ITU). Ini adalah tahapan wajib yang harus dilalui sebelum satelit bisa benar-benar diluncurkan ke luar angkasa.

Informasi ini disampaikan oleh Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Adis Alifiawan. Ia ditemui usai acara peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia yang digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta, pada Rabu, 08 Juli 2026.

Adis menjelaskan peran kementeriannya dalam proyek ini. Komdigi bertugas memfasilitasi pengajuan slot orbit dan spektrum frekuensi ke ITU. Sementara itu, urusan pembangunan dan pengoperasian satelit sepenuhnya ada di tangan operator. "Ada permohonan dari operator satelit kita, dan sudah kami proses ke ITU. Peran kami membantu proses itu dan memfasilitasinya di tingkat internasional," kata Adis.

Proyek satelit LEO ini tidak sesederhana memiliki uang dan teknologi lalu meluncurkannya. Ada lapisan rumit lainnya: koordinasi internasional. Tujuannya agar satelit baru tidak saling mengganggu dengan satelit milik negara lain. "Meluncurkan satelit bukan hanya soal memiliki modal untuk membeli dan meluncurkan. Ada proses koordinasi satelit agar sistem yang dibangun kompatibel dengan sistem lain dan tidak menimbulkan interferensi. Itu membutuhkan waktu," ujarnya.

Menurut Adis, ITU menetapkan periode regulasi sekitar tujuh tahun. Hitungannya dimulai sejak pengajuan pertama hingga satelit harus sudah diluncurkan. Karena itu, meskipun proses administrasi sudah berjalan, operator Indonesia dipastikan belum akan meluncurkan satelit LEO dalam waktu dekat. "Kalau tahun ini belum. Prosesnya memang membutuhkan waktu karena ada tahapan koordinasi internasional," katanya.

Adis memastikan bahwa ada operator nasional yang sedang mengerjakan rencana ini. Ketika ditanya siapa saja, ia menyebut pengajuan berasal dari operator satelit domestik seperti PSN dan Telkomsat. Namun, ia enggan memberikan rincian lebih lanjut mengenai target peluncuran. Ia menyarankan pertanyaan semacam itu disampaikan langsung ke masing-masing operator.

Dalam kesempatan itu, Adis juga meluruskan anggapan umum yang keliru. Banyak orang mengidentikkan satelit LEO dengan layanan Starlink milik Elon Musk. Padahal, LEO hanyalah istilah teknis untuk orbit satelit pada ketinggian sekitar 300 hingga 2.000 kilometer dari permukaan Bumi. "Kita sering mempersepsikan LEO itu seolah hanya Starlink. Padahal LEO adalah jenis orbit, dan Indonesia sebenarnya sudah memiliki satelit yang berada di orbit rendah," ujarnya.

Ia berharap ke depannya semakin banyak operator nasional yang memanfaatkan orbit rendah. Tujuannya bukan hanya untuk mengembangkan layanan satelit, tetapi juga agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi luar angkasa. Negara ini, kata Adis, perlu memiliki peran yang lebih besar dalam industri satelit global.

Singkatnya, Indonesia tengah menapaki jalur panjang menuju kepemilikan satelit LEO. Prosesnya masih di tahap awal, dengan pengajuan ke ITU sebagai langkah pertama. Koordinasi internasional yang memakan waktu menjadi tantangan utama, bukan sekadar masalah dana atau teknologi. Operator seperti PSN dan Telkomsat disebut sebagai pihak yang menginisiasi langkah ini.

satelit LEOIndonesiaITUorbitfrekuensioperator nasionalkoordinasi internasional

Komentar

Memuat komentar...