Guru Honorer 25 Tahun, 150 km Setiap Hari, Harapan Tetap

Guntur P. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 73 dibaca
Bisik.id
Guru Honorer 25 Tahun, 150 km Setiap Hari, Harapan Tetap

Gambar atau konten salah?

Taufik Ferdiansyah berusia 25 tahun, seorang guru agama di SMP Negeri 1 Wajak di Kabupaten Malang, menempuh perjalanan panjang setiap hari untuk mengajar anak bangsa. Ia rela menempuh jarak sekitar 150 kilometer pulang pergi dari rumahnya di Gempol, Pasuruan.

Rutinitasnya dimulai sebelum subuh. Pada pukul 04.45 WIB, Taufik berangkat dengan sepeda motor menuju Terminal Arjosari di Malang. Setelah tiba di terminal, ia menitipkan motor dan melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju sekolah. Perjalanan ini harus disesuaikan dengan jadwal bus yang tidak selalu pasti, sehingga waktu tiba di sekolah sering berubah. Kadang ia sudah sampai pukul 06.30 WIB, namun tak jarang juga melewati jam masuk.

“Kalau dari rumah jam 04.45 WIB, sampai sekolahnya itu menyesuaikan dapat busnya. Kadang bisa 06.30 WIB sampai sekolahan. Bisa jam 06.45 WIB sampai sekolah, jam 07.00 WIB, kadang bisa jam 07.00 WIB lebih. Tergantung busnya,” jelas Taufik saat dihubungi Selasa, 7 April 2026.

Setelah mengajar, ia kembali menempuh rute serupa. Ia biasanya meninggalkan sekolah sekitar pukul 15.30 WIB dan baru tiba di rumah menjelang Magrib. Ia naik bus dari Malang menuju Terminal Arjosari, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor yang dititipkan sebelumnya, hingga sampai ke rumah di Gempol. Dalam sehari, total waktu yang dihabiskan di jalan bisa sekitar empat jam, termasuk perjalanan pulang.

Awalnya, Taufik lebih sering menempuh perjalanan dengan sepeda motor untuk pulang pergi. Ia sempat membagikan momen tersebut melalui akun Instagram pribadinya @taufikferdian_syah, hingga menjadi viral dan ditonton lebih dari 446 ribu kali. Dalam video yang diunggah, ia terlihat harus menghadapi berbagai kondisi di jalan, mulai dari panas terik hingga hujan. Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri selama perjalanan jauh tersebut.

Karena itu, seiring waktu, kondisi fisik menjadi pertimbangan. Kini, Taufik lebih sering memilih naik bus untuk sebagian perjalanan. Meski begitu, perubahan moda transportasi tersebut tidak banyak mengurangi kelelahan. Waktu tempuh yang panjang dan perjalanan berlapis tetap menguras tenaga.

“Kalau dulu sering sepedaan, kalau sekarang lebih sering naik bus. Cuapek mbak, poll,” ucapnya.

Di balik perjuangan itu, ada alasan kuat yang membuatnya tetap bertahan menjalani pulang pergi setiap hari. Ia ingin tetap dekat dengan istri dan anaknya yang masih berusia enam bulan. “Yang bikin saya kuat itu ada istri dan anak mbak. Keluarga lah intinya. Bisa ketemu setiap hari. Lebih enak perjalanan dua jam tapi ketemu anak istri, daripada dua menit tapi tidak ketemu sama anak istri,” tutur Taufik.

Namun, bukan hanya jarak yang menjadi tantangan. Selama empat tahun mengajar, Taufik masih berstatus sebagai guru honorer. Ia mengabdi di sekolah negeri, tetapi belum kunjung mendapat kepastian pengangkatan sebagai pegawai tetap. Statusnya hanya diperkuat dengan surat keputusan yang diperbarui setiap enam bulan sekali. Hingga kini, belum ada kejelasan terkait masa depan kariernya.

“Ini sementara akan saya jalani dulu mbak, entah sampai kapan saya tidak tahu. Eman gitu sudah empat tahun (mengajar). Mungkin lima tahun lagi, enam tahun lagi diangkat atau berapa tahun lagi?” katanya.

Kondisi tersebut membuat Taufik seolah berada di persimpangan. Di satu sisi, ia ingin mencari pekerjaan yang lebih dekat dengan keluarga dan menjanjikan. Di sisi lain, ia enggan melepas profesi yang telah dijalani bertahun-tahun. Dari sisi penghasilan, ia mengakui kebutuhan hidup saat ini dipenuhi dengan cara saling melengkapi bersama sang istri. Ia menyebut pendapatannya sebagai guru honorer belum sepenuhnya mencukupi jika berdiri sendiri.

“Kalau dihitung secara matematika itu tidak nutut, pasti tidak nutut. Tapi alhamdulillahnya sudah berjalan sekitar enam bulan ini nutut mbak. Di sisi lain, istri juga kerja. Jadi penghasilan saya untuk riwa-riwi (perjalanan), nah untuk kehidupan sehari-hari pakai penghasilannya istri,” jelasnya.

Meski begitu, Taufik tetap memilih bertahan. Ia terus menjalani perannya sebagai pendidik di tengah keterbatasan. Sebab, menjadi guru merupakan cita‑cita sejak awal. Ia memandang profesi tersebut sebagai bentuk pengabdian.

“Saya ingin jadi guru itu memang karena cita-cita, mbak. Karena jadi guru ini merupakan salah satu profesi yang mulia. Karena guru ini bukan orang hebat, mbak, tapi Insyaallah semua orang hebat itu karena jasa guru, wasek,” tuturnya diselingi gurau.

Di tengah perjalanan panjang yang melelahkan dan status yang belum pasti, ia hanya berharap ada kejelasan bagi para guru honorer seperti dirinya. Harapan itu ia sampaikan beriringan dengan pesan untuk sesama guru agar tetap bertahan dalam keterbatasan.

“Harapan saya untuk bapak ibu guru di seluruh Indonesia, saya harap bapak ibu tetap kuat, tetap ikhlas mengajar untuk mencerdaskan anak bangsa. Kita tahu memang gaji kita kecil, perjuangan kita berat, tapi lebih berat lagi jika kita menyerah,” tandas Taufik.

Perjalanan panjang ini mencerminkan komitmen seorang guru yang rela menempuh jarak jauh demi pendidikan. Meskipun belum mendapat status tetap, tekadnya tetap kuat. Ia menyeimbangkan antara keluarga, pekerjaan, dan harapan akan masa depan yang lebih jelas. Keterbatasan tidak menghalangi semangatnya untuk terus mengajar, sekaligus mengingatkan pentingnya dukungan bagi para guru honorer yang berjuang di lapangan.

guru honorerperjalanan panjangSMP Negeri 1 WajakMalangjarak 150 kmstatus tetapkeluarga

Komentar

Memuat komentar...