Hotel Denpasar Terapkan Green Hotel Keberlanjutan Meningkat
Gambar atau konten salah?
Green hotel menjadi standar baru bagi para wisatawan yang mencari pengalaman ramah lingkungan. Prinsip sustainability kini dipraktekkan secara lebih intensif, seiring hubungan hotel dengan berbagai pihak internasional semakin erat.
Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra, menegaskan bahwa para wisatawan kini sangat aware dengan konsep green hotel atau green destination. “Mereka sangat aware dengan green hotel (atau) green destination karena itu yang wisatawan cari. Jadi jika ada hotel yang ada pengurangan air, plastik, itu justru menjadi pilihan,” ujarnya.
Sidharta menjelaskan bahwa penerapan konsep keberlanjutan dipengaruhi secara otomatis oleh regulasi dan perlindungan hukum internasional bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali, khususnya Denpasar. “Kita kan titiknya di Sanur, sekarang di sana kan arahnya ke sustainability juga, contohnya sudah dibuat larangan parkir, jadinya mulai terjaga,” tambahnya.
Namun, BPC PHRI Denpasar belum memiliki data lengkap mengenai hotel, restoran, dan kafe yang secara tertib menerapkan prinsip keberlanjutan. Mereka hanya memberikan pendampingan kepada anggotanya. “Nggak ada datanya, kita harus masuk masing-masing karena prinsip kerjanya masing-masing, ada yang sudah 80%, 60% menerapkan, tergantung resources masing-masing,” jelas Sidharta.
PHRI juga melakukan koordinasi dengan kementerian, dinas lingkungan hidup, dan Satpol PP untuk memantau pelaksanaannya. “Kami sudah dicek juga dari kementerian, dinas lingkungan hidup, Satpol PP untuk melihat pelaksanaannya dan PHRI mendampingi anggotanya saat dicek,” ujarnya.
Pengelolaan sampah menjadi fokus utama dalam penerapan green hotel. Limbah cair biasanya dikelola mandiri melalui instalasi pengelolaan air limbah (IPAL), sedangkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti kabel dan baterai diurus melalui proses resmi bersertifikat.
Masalah muncul pada pengelolaan sampah organik. Banyak daun diambil oleh pihak ketiga dan dibuang ke TPA Suwung. Setelah penutupan TPA Suwung, beberapa perusahaan mulai melakukan proses pemotongan cabang menjadi kompos. “Kami sudah membeli mesin pencacah untuk batang-batang yang lama busuknya, lalu ada komposter juga di hotel-hotel sekarang, terutama chain-chain hotel besar atau internasional sudah punya pengelolaan limbah yang bagus,” jelas Sidharta.
Hotel juga menjalin kerja sama dengan TPS3R di Sanur. “Karena mereka punya pemilahan, pengolahannya, dan penyalurannya juga. Sebenarnya tergantung kesiapan mesinnya, makin kesiapan dipercepat dengan teknologinya, saya yakin sampah bisa teratasi,” ujarnya.
Di sisi restoran dan kafe, sistem pengelolaan sampah bervariasi. Section 9 di kawasan Sanur, misalnya, belum mengetahui sistem pemilahan sampah. “Kami gabung sama Hotel Ramayana di belakang. Sejauh ini sih nggak ada kendala, diambil terus tiap hari. Kalo soal pemilahan, kita nggak tau, kita cuma sisa makanan aja soalnya,” sampaikan staf Section 9 Damar.
Terracotta Restaurant telah memisahkan sampah organik dan anorganik, namun sampahnya dibuang ke hotel Laghawa karena kedekatan operasional. “Udah dipilah organik dan anorganik, tetapi sampahnya kami buang ke hotel Laghawa karena kami bagian hotel itu. Kemarin sempat lama diambil karena macet habis hujan beberapa hari lalu,” kata staf Wayan.
Medin Bali Cafe menerapkan pemilahan empat kelompok: organik, anorganik, residu, dan barang pecah belah. Mereka mengatur angkutan sampah secara mandiri dengan biaya bulanan. “Kita bayar 200-300 per bulannya. Setiap hari diangkut cuma kalo organik khusus senin sama jumat aja, sejauh ini lebih cepat diangkut. Kita setiap hari buangnya malam dan pagi udah diangkut,” ungkap staf Lisa.
Secara keseluruhan, upaya hotel dan restoran di Denpasar menunjukkan kemajuan dalam menerapkan prinsip keberlanjutan, meski masih terdapat tantangan dalam pengelolaan sampah organik dan keterbatasan data. Keterlibatan PHRI, regulasi, dan kerja sama dengan pihak pengelola limbah menjadi kunci dalam memperkuat praktik green hotel di kawasan ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Cuaca cerah berawan Bali, hujan ringan Badung Denpasar
Kamis 04 Juni 2026: Hari Ala Ayuning Dewasa, Waktu Lahan
Badung Bangun Tempat Penampungan Sampah B3 di Mengwitani
SMPN 5 Pupuan, Disdik Tabanan Atasi Rendahnya Siswa
Berita Terbaru
Surabaya Target 250 Medali Emas Porprov Jatim 2027
Hanya 8 Tim Piala Dunia 2026 Punya Pemain Lokal, 310 Luar Negeri
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
Dolar AS Beruat Rp 18.000, Rupiah Terdampak Kuat Pada Hari
PPPK Boleh Dapat Gaji ke-13 2026, Besar Sesuai Masa Kerja
SIM Baru Kini Verifikasi Wajah, Mulai 1 Juli 2026 Indonesia
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
