IHSG Anjlok 1,94%, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Tika M. · 4 min baca · 1 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
IHSG Anjlok 1,94%, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Pasar saham Indonesia dibuka dengan penguatan tipis pada perdagangan Senin pagi, namun situasi berbalik arah menjelang tengah hari. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terpantau merosot cukup dalam saat penutupan sesi pertama.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG terkoreksi 1,94% dan berada di posisi 5.975,78 pada sesi I. Padahal di awal perdagangan, indeks sempat menghijau dengan menguat 0,56% dan menyentuh level tertinggi intraday di angka 6.128,72.

Sepanjang paruh pertama perdagangan, volume transaksi tercatat mencapai 39,18 miliar saham dengan nilai jual-beli menembus Rp 6,47 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.056.211 kali. Kondisi pasar secara umum didominasi pelemahan—sebanyak 537 saham ditutup di zona merah, sementara 159 saham menguat dan 95 saham lainnya stagnan. Indeks LQ45 yang menjadi barometer saham unggulan juga ikut tertekan, melemah 1,62% ke level 591.929.

Pelemahan ini bukan tanpa sebab. Riset dari BRI Danareksa Sekuritas menyebut aksi tunggu para investor sebagai pemicu utama. Sentimen negatif datang dari memanasnya konflik di Timur Tengah, khususnya serangan kelompok Houthi Yaman ke Riyadh, ibu kota Arab Saudi.

"Geopolitik memanas: serangan Houthi ke Riyadh meningkatkan risiko keterlibatan AS dan eskalasi konflik Timur Tengah, yang dapat mendorong volatilitas harga minyak serta meningkatkan risk aversion investor," demikian bunyi riset tersebut.

Di sisi lain, pelaku pasar juga sedang menanti data inflasi Amerika Serikat. Rilis Consumer Price Index (CPI) menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Jika inflasi masih tinggi, The Fed kemungkinan besar mempertahankan suku bunga ketat. Kondisi itu otomatis menguatkan posisi dolar AS dan menekan aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari China, investor mencermati data CPI dan neraca perdagangan September yang menjadi indikator permintaan komoditas. Data yang solid berpotensi mendukung ekspor Indonesia. Sebaliknya, jika permintaan melemah, saham-saham berbasis komoditas berisiko tertekan lebih dalam.

Ada pula jadwal pertemuan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober yang turut memengaruhi pergerakan indeks. Investor mengamati prospek ekonomi global, stabilitas keuangan, serta respons kebijakan terhadap kenaikan biaya energi dan risiko geopolitik yang sedang berlangsung.

Menjelang akhir pekan, tepatnya 14-16 Oktober, sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan menyampaikan arahan kebijakan suku bunga setelah data inflasi dirilis. Dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi 18 bulan masih menjadi tekanan tersendiri bagi nilai tukar rupiah dan arus modal asing.

Sementara itu, catatan dari Mirae Asset Sekuritas menunjukkan beberapa saham konglomerat menjadi pemberat utama pergerakan IHSG hingga siang hari. Tiga di antaranya yang paling mencolok adalah CUAN yang anjlok 9,1%, disusul PTRO yang melemah 8,8%, dan DSSA yang terkoreksi 8,4%.

Dari Asia, pelaku pasar juga mengamati data CPI dan neraca perdagangan China untuk periode September. Angka-angka tersebut dianggap sebagai indikator permintaan komoditas. Data yang kuat berpotensi mendukung ekspor Indonesia, sementara pelemahan permintaan bisa menekan saham-saham berbasis komoditas di dalam negeri.

Pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober turut menjadi perhatian. Investor mencermati proyeksi ekonomi global, stabilitas keuangan, serta respons kebijakan terhadap kenaikan biaya energi dan risiko geopolitik yang sedang berlangsung.

Menjelang akhir pekan, tepatnya 14-16 Oktober, sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan memberikan pernyataan soal arah suku bunga setelah data inflasi dirilis. Dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi 18 bulan masih menjadi ancaman bagi nilai tukar rupiah dan berpotensi memicu arus keluar dana asing dari pasar domestik.

Sementara itu, catatan dari Mirae Asset Sekuritas menunjukkan sejumlah saham konglomerat menjadi pemberat utama pergerakan IHSG hingga siang hari. Beberapa di antaranya adalah CUAN yang anjlok 9,1%, PTRO yang melemah 8,8%, dan DSSA yang terkoreksi 8,4%.

Dari Tiongkok, pelaku pasar juga mengamati data CPI dan neraca perdagangan September sebagai indikator permintaan komoditas. Data yang kuat berpotensi mendukung ekspor Indonesia, sementara pelemahan permintaan bisa menekan saham-saham berbasis komoditas.

Pekan ini juga diwarnai agenda pertemuan IMF dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober. Investor mencermati proyeksi ekonomi global, stabilitas keuangan, serta respons kebijakan terhadap kenaikan biaya energi dan risiko geopolitik. Sementara itu, pejabat The Fed dijadwalkan mengumumkan arah suku bunga pada 14-16 Oktober setelah data inflasi keluar. Dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi 18 bulan masih menjadi ancaman bagi rupiah dan arus modal asing.

Catatan Mirae Asset Sekuritas menyebut sejumlah saham konglomerat menjadi pemberat utama IHSG hingga siang ini. Beberapa di antaranya adalah CUAN yang anjlok 9,1%, PTRO turun 8,8%, dan DSSA melemah 8,4%.

Kondisi pasar hari ini mencerminkan kekhawatiran investor yang berlapis. Konflik geopolitik yang belum mereda, ditambah ketidakpastian arah suku bunga global, membuat pelaku pasar cenderung memilih menunggu. Data inflasi AS dan pertemuan IMF-Bank Dunia pada 12-18 Oktober akan menjadi penentu apakah pelemahan ini berlanjut atau justru berbalik menguat. Sementara itu, posisi dolar AS yang masih dekat dengan level tertinggi 18 bulan tetap menjadi tekanan tersendiri bagi rupiah dan aliran dana asing ke pasar domestik.

IHSG melemahkonflik Timur Tengahinflasi Amerika Serikatsuku bunga Federal Reservedata CPI Chinarisiko geopolitikdolar AS menguatsaham konglomerat

Komentar

Memuat komentar...