IHSG Merosot 1,11% Usai S&P Peringatkan Status Emerging Market
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada sesi pertama perdagangan hari ini, Rabu, 08 Juli 2026. Penurunan ini terjadi setelah S&P Dow Jones Indices (DJI) memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan yang berpotensi menurunkan status pasar saham dari negara berkembang (emerging market) menjadi negara perbatasan (frontier market) pada tahun 2027.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 1,11% ke posisi 5.920,15 saat penutupan sesi pertama. Indeks sempat menyentuh titik terendah harian di level 5.897,90 pada awal perdagangan pagi. Volume perdagangan tercatat sebanyak 12,25 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 5,22 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai 1.137.021 kali hingga pertengahan hari.
Indeks LQ45, yang berisi saham-saham unggulan, juga ikut melemah 1,17% ke level 587.932. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 447 saham mengalami penurunan, 197 saham menguat, dan 142 saham bergerak stagnan.
Beberapa saham berkapitalisasi besar tercatat terkoreksi cukup dalam. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) turun 3,62% menjadi Rp 1.465 per saham. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 3,16% ke Rp 1.530 per saham. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga turun 2,10% ke Rp 2.800 per saham.
Dalam pengumuman hari ini, S&P DJI mempertahankan status emerging market untuk pasar modal Indonesia. Namun, penyedia indeks global itu membuka kemungkinan penurunan status jika tidak ada perbaikan dalam waktu tertentu. Keputusan ini dipicu oleh kekhawatiran investor mengenai transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Isu serupa sebelumnya juga disorot oleh MSCI.
Menurut pengumuman resmi S&P DJI, jika masalah transparansi ini tidak terselesaikan dalam satu tahun kalender sejak diberlakukannya langkah-langkah khusus, maka klasifikasi pasar Indonesia akan dievaluasi kembali pada tinjauan tahunan berikutnya. "Berdasarkan Metodologi Klasifikasi Negara S&P DJI, jika masalah ini tetap tidak terselesaikan satu tahun kalender sejak tanggal diberlakukannya langkah-langkah khusus, klasifikasi pasar Indonesia akan dinilai pada tinjauan tahunan berikutnya," tulis pernyataan tersebut.
Pelemahan IHSG hari ini mencerminkan respons langsung pasar terhadap ketidakpastian status tersebut. Investor cenderung wait and see sambil menunggu langkah konkret pemerintah dalam memperbaiki transparansi kepemilikan saham. Jika tidak ada perubahan signifikan, Indonesia berisiko kehilangan status emerging market yang selama ini menjadi daya tarik bagi investor asing. Status frontier market umumnya dianggap kurang bergengsi dan bisa mengurangi minat investasi global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mattel Indonesia Gunakan Platform BZone untuk Kelola Logistik
Rupiah Tembus Rp 18.005 per Dolar AS, Terlemah Tahun Ini
Petugas Bea Cukai Tewas Saat Tugas di Perairan Siak
Pegawai Bea Cukai Tewas Saat Tugas di Perairan Siak
Menteri Tanam 1,5 Juta Mangrove Bareng Freeport di Sumbawa
Jalin Catat Pertumbuhan Digital 38% Sepanjang 2025
Berita Terbaru
IHSG Merosot 1,11% Usai S&P Peringatkan Status Emerging Market
Lahan Bukan Milik Pemkot, Pembangunan Belawan Terhambat
Penumpang KAI Daop 9 Jember Tembus 3,5 Juta di Semester I 2026
RAI Restaurant London Raih Peringkat Kebersihan Nol
Istana Buckingham Cari Videografer, Gaji Rp1,2 Miliar
Argentina Bangkit dari 0-2, Hajar Mesir 3-2 di Piala Dunia
Sopir Tangki Elpiji Kedapatan Merokok, Dipecat