IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
Gambar atau konten salah?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup dengan penurunan hampir 5% pada perdagangan Rabu, 03 Juni 2026. Penurunan ini dipicu oleh tekanan pada nilai tukar rupiah dan indikator ekonomi Indonesia yang menunjukkan perlambatan.
Menurut data perdagangan RTI Business, IHSG turun 4,11% menjadi 5.941,06 pada penutupan sesi. Selama perdagangan, indeks sempat jatuh lebih dari 5% ke level terendah 5.841,99 di tengah sesi II.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah menguat 0,71% ke 17.966,5 pada penutupan perdagangan. Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan: “Kami perkirakan koreksi yang terjadi di JCI saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.”
IHSG juga terpengaruh oleh emiten-emiten konglomerasi yang sempat menguat signifikan dua hari sebelumnya. Namun, pada hari ini saham-saham tersebut melemah dan bahkan mengalami auto reject atas.
Herditya menambahkan bahwa IHSG masih berada pada fase penurunan. Ia menyebut belum ada sinyal penguatan nyata untuk indeks saham Indonesia. “Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrendnya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid,” jelasnya.
Perlambatan ekonomi juga menjadi faktor. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa penurunan surplus neraca dagang pada 01 April 2026 menjadi yang terendah dalam enam tahun terakhir. “Penyusutan surplus neraca perdagangan per 01 April 2026 pada US$ 89,1 juta sebagai level terendah dalam enam tahun terakhir, menunjukkan adanya perlambatan dari kontribusi sektor eksternal dan menjadi penahan laju penguatan IHSG,” terangnya.
Para pelaku pasar juga memantau penyesuaian indeks saham RI dalam indeks global FTSE Russell yang dijadwalkan pada 22 Juni 2026. Ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran serta operasi militer Israel di Lebanon menambah ketidakpastian global.
Investor menunggu rilis data US Nonfarm Payrolls pada 01 Mei 2026. “Perilisan US Nonfarm Payrolls per Mei pada akhir pekan ini juga dinantikan karena akan mempengaruhi ekspektasi arah suku bunga The Fed kedepannya,” pungkas Nafan.
Secara keseluruhan, IHSG menghadapi tekanan dari melemahnya rupiah, penurunan kontribusi sektor eksternal, dan ketidakpastian geopolitik. Sementara itu, pasar menantikan data ekonomi dan peristiwa global yang dapat memengaruhi sentimen investor ke depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
S&P Pertahankan Peringkat RI, IHSG Bangkit 1,92%
BNI Perketat Pengawasan Penyaluran KUR
S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia di Level BBB
Allianz Bayar Klaim Rp500 Juta Usai Pasien Kanker Meninggal
BNI Laporkan Sendiri Dugaan Korupsi KUR Jember
S&P Kembali Pertahankan Peringkat Utang RI di BBB
Berita Terbaru
Jalinteng Palembang Amblas, Arus Dialihkan
Harimau Tewaskan Dua Orang di Pelalawan
Sampel Ledakan Purwakarta Dikirim ke Labfor
1.147 Mahasiswa UPI Diterjunkan ke Sekolah Jabar
Sopir Logistik Desak Buka Kembali Rute Ketapang-Lembar
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Safar 1448 H Berbeda
Haaland Bangga Norwegia Kini Lebih Dikenal
Saturnus Kini Punya 285 Bulan, Bukan karena Bertambah
S&P Pertahankan Peringkat RI, IHSG Bangkit 1,92%
