S&P Kembali Pertahankan Peringkat Utang RI di BBB

Hari W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
S&P Kembali Pertahankan Peringkat Utang RI di BBB

Gambar atau konten salah?

Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali menegaskan peringkat utang Indonesia. Peringkat jangka panjang tetap di level BBB, sementara jangka pendek di A-2. Keduanya disertai outlook stabil. Artinya, Indonesia masih berada dalam kategori investment grade atau layak investasi.

Keputusan ini diumumkan melalui publikasi bertajuk Indonesia Ratings Affirmed At 'BBB/A-2'; Outlook Stable. Dalam laporannya, S&P menilai peringkat Indonesia ditopang oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Kebijakan makroekonomi dinilai prudent. Beban utang eksternal neto dan utang pemerintah juga relatif rendah jika dibandingkan negara-negara lain yang setara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan afirmasi ini menunjukkan kepercayaan komunitas internasional terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah. Ia mengatakan, "Afirmasi peringkat oleh S&P pada level BBB dengan outlook Stabil merupakan pengakuan atas konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah. Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di kisaran 5%, mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3% PDB, serta memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam. Ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid."

Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam keterangan tertulis pada Senin, 13 Juli 2026.

S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5% per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pertumbuhan riil diperkirakan mencapai 5,1% pada 2026. Rata-rata pertumbuhan pada periode 2026-2029 diproyeksikan sebesar 4,9%.

Pada triwulan I-2026, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,6% secara tahunan. Angka ini dinilai sebagai katalis positif. Dorongan utamanya berasal dari belanja pemerintah dan percepatan pencairan anggaran. Sementara itu, PDB per kapita Indonesia diperkirakan mencapai sekitar USD5.200 pada 2026.

Dari sisi fiskal, S&P menyoroti komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3% PDB. Ini menjadi salah satu faktor utama yang menopang outlook stabil. Rekam jejak pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal dinilai penting untuk kelayakan kredit Indonesia.

Kinerja penerimaan negara juga mendapat sorotan positif. Dalam lima bulan pertama 2026, pendapatan negara tumbuh 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh pulihnya administrasi perpajakan, kenaikan penerimaan PPN, serta menguatnya penerimaan royalti dan dividen dari sektor sumber daya alam.

S&P juga mengapresiasi langkah pemerintah memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam. Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara sekaligus devisa ekspor. Pengelolaan sektor komoditas diperkuat, termasuk penertiban praktik miss-invoicing dan transfer pricing. Kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) juga dipandang dapat memperkuat posisi eksternal Indonesia secara berkelanjutan.

Dari sisi moneter, S&P menilai Bank Indonesia memiliki independensi operasional yang kuat. Inflasi dinilai tetap terkendali. Bauran kebijakan moneter dan fleksibilitas nilai tukar memberikan ruang penyesuaian yang memadai dalam menghadapi tekanan eksternal. Risiko pada sektor keuangan dinilai tetap terjaga. Aset perbankan berada di bawah 60% PDB.

S&P menyebut peluang peningkatan peringkat Indonesia masih terbuka. Syaratnya, terjadi penguatan struktural pada indikator fiskal dan eksternal. Misalnya, defisit anggaran mendekati 2% PDB, peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan, penurunan biaya pembiayaan, serta stabilitas nilai tukar.

Airlangga menambahkan, "Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi, penguatan tata kelola devisa hasil ekspor, dan peningkatan produktivitas. Konsistensi dan prediktabilitas kebijakan akan menjadi kunci untuk mendorong peringkat Indonesia naik ke level yang lebih tinggi."

Afirmasi peringkat ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Pertumbuhan Indonesia yang stabil di kisaran 5% dan defisit fiskal yang terkendali menjadi dua pilar utama yang diakui S&P. Ke depan, penguatan tata kelola sektor sumber daya alam dan penerimaan negara akan menentukan apakah peringkat Indonesia bisa naik lebih tinggi lagi.

peringkat utang IndonesiaS&P Global Ratingsinvestment gradeoutlook stabilpertumbuhan ekonomikebijakan fiskaltata kelola sumber daya alam

Komentar

Memuat komentar...