Inna Sri Sugiati: Asinan Niekting UMKM Ramah Lingkungan

Yuli S. · 5 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Inna Sri Sugiati: Asinan Niekting UMKM Ramah Lingkungan

Gambar atau konten salah?

Inna Sri Sugiati (60) tinggal di Jalan Pancoran Timur Raya No. 50, Pengadegan, Jakarta Selatan, dan mengelola usaha asinan fermentasi berjenama Niekting. Nama Niekting berasal dari “Niniek” (nenek dalam bahasa Sunda) dan “Ting” (panggilan sang ibu). Usaha ini dimulai sebagai warisan kuliner keluarga yang kini menjadi produk ramah lingkungan.

Usaha mikro kecil menengah ini berakar pada resep asinan ibu Inna, Tien Hamsini, yang memulai bisnis asinan sejak 01 Januari 1970. Setelah beberapa dekade, Inna melanjutkan usaha pada 01 Januari 2019 dan kemudian naik kelas di bawah dukungan Rumah BUMN BRI.

Perjalanan Inna tidak bermula dari rencana bisnis formal. Sebelumnya ia bekerja di kantor di ibu kota. Pada 01 Januari 1998, ayahnya jatuh sakit akibat serangan stroke. Sebagai satu-satunya anak di ibu kota, Inna memutuskan untuk berhenti kerja demi merawat ayah.

“Saudara saya yang lain ada di Ciamis dan Bekasi. Mau nggak mau berarti saya harus ngalah. Akhirnya yaudah saya kerjanya di rumah aja,” kenang Inna.

Rutinitas rumah tangga membuatnya merasa jenuh. Ia kemudian bergabung dalam program pembinaan kewirausahaan, belajar menjadi wirausaha dari rumah, dan diarahkan untuk memilih satu produk kuliner unggulan dengan rasa kuat di Jakarta. Pilihan akhirnya jatuh pada asinan.

Inna mengingat betul bahwa asinan ibunya pernah dinikmati tidak hanya oleh tetangga, tetapi juga oleh ekspatriat. Pada masa kejayaannya, asinan ibunya pernah disajikan di kantin Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

“Itu memang Mama waktu zamannya dia, itu masuk ke kantinnya Kedutaan Amerika. Kita udah masuk ke sana. Ya artinya itu udah uji coba bahwa pihak luar, bule, itu suka makanan kita gitu kan,” ungkapnya.

Namun, usaha ibunya terpaksa dihentikan pada 01 Januari 1990 karena keterbatasan sumber daya manusia. Resep asinan tersebut disimpan rapat di laci kenangan selama hampir tiga puluh tahun.

“Kata Mama resepnya masih ada, diteruskan saja. Iya juga ya, pikir saya,” tutur Inna, mengingat pesan almarhum sang ibu.

Inna memutuskan merintis bisnis asinan pada akhir 01 Januari 2019. Ia tidak ingin sekadar meniru, melainkan membawa asinan ke level lebih tinggi melalui inovasi fermentasi, terinspirasi dari ayahnya yang lulus teknik kimia UGM. Ayah sering melakukan uji coba di laboratorium untuk mengukur kadar keasaman asinan.

Inna sendiri pernah menempuh pendidikan asisten apoteker, sementara sang ibu pernah bersekolah di Sekolah Kepandaian Putri, setara SMK. Mereka menyelidiki komposisi asam-basah untuk menghasilkan formula yang bisa difermentasi.

“Kita ulik nih komposisi asam-basahnya sampai mendapatkan formula yang dia bisa difermentasi,” jelas Inna.

Komposisi asinan fermentasi terdiri dari potongan bengkoang, mentimun, kol, dan sawi asin dengan bumbu kacang. Proses fermentasi berlangsung dengan merendam bahan baku dan sayuran selama dua‑tiga hari, menghasilkan bakteri baik yang mendukung pencernaan dan usus.

Melalui uji coba berulang, Inna menghitung interaksi tingkat keasaman buah, kadar gula, dan media cair untuk menciptakan fermentasi alami yang pas. Hasilnya adalah asinan fermentasi yang menyegarkan, tahan lama dalam kemasan modern, dan tetap aman serta menyehatkan bagi pencernaan.

Produk asinan fermentasi Niekting resmi diluncurkan pada 01 Oktober 2020. Meski pandemi COVID‑19, Inna mampu memproduksi kurang lebih 1.000 pcs per bulan yang dipasarkan ke wilayah Jabodetabek. Ia melibatkan lima pekerja utama yang bekerja fleksibel sesuai kebutuhan produksi.

“Kita berdayakan pekerja dari berbagai latar belakang, termasuk perempuan dan pekerja berusia lanjut, yang berperan penting dalam membantu proses produksi,” ungkapnya.

Inna terus melakukan inovasi kemasan agar produk tahan lama saat pengiriman. Awalnya menggunakan styrofoam, kini Niekting memakai dua tipe kemasan: thin wall dan standing pouch, yang dapat bertahan lebih dari dua bulan. Setelah dikeluarkan dari storage dengan suhu 4‑7 derajat Celsius, asinan dapat bertahan di perjalanan selama tiga hari sampai diterima pelanggan.

“Kira‑kira setelah dikeluarkan dari storage Niekting yang bersuhu 4‑7 derajat celcius, asinan bisa bertahan di perjalanan selama tiga hari sampai diterima oleh pelanggan,” kata Inna.

Perbandingan ini jauh lebih baik dibandingkan era ibu, ketika asinan dikirim dengan rantang sehingga hanya dapat diantar untuk pelanggan jarak dekat.

Inna kemudian menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI. Ia menemukan program pelatihan melalui postingan media sosial dan langsung mengunjungi Rumah BUMN BRI di Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat. Di sana, Niekting mendapatkan pendampingan intensif melalui pelatihan berjenjang, mulai dari perbaikan konten, pengaturan keuangan, hingga fasilitasi foto produk.

“Kalau bukan entrepreneur, larinya hanya sekadar jualan saja dari bazar ke bazar. Padahal untuk menaikkan kelas, kategorinya banyak. Bukan cuma dikenal secara branding, tapi internalnya juga harus siap,” ungkap Inna.

Program ini membekali Inna dengan ilmu produktivitas dan manajemen usaha, termasuk proses produksi dan pengemasan. Pemasaran Niekting juga meluas berkat integrasi ke ekosistem digital BUMN. Produk Niekting masuk ke platform PaDi UMKM, sebuah platform B2B milik BUMN, memudahkan kantor BUMN memesan produk untuk kebutuhan korporat.

“Jadi artinya marketingnya bukan hanya offline tapi online‑nya juga,” terangnya.

BRI sering merekomendasikan Inna sebagai narasumber di berbagai acara. Niekting turut serta di bazar di Sarinah Thamrin Jakarta dan KTT ASEAN 2023, serta menembus pasar internasional di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Jadi Rumah BUMN BRI ini melalui beberapa programnya mengarahkan kita menjadi entrepreneur. Jadi mindset kita berubah tak sekadar jualan. Itulah yang aku dapetin dari Rumah BUMN BRI ini,” jelasnya.

Inna tidak puas dengan kesuksesan asinan. Ia mengembangkan inovasi zero waste dengan memilah limbah organik sisa produksi. Limbah kulit bengkoang, bonggol kol, dan minyak jelantah diolah menjadi eco‑enzyme, lilin, karbol, dan sabun lerak.

Ia bekerja sama dengan Arnetta Craft, komunitas pengolahan limbah di Jakarta Timur yang dipimpin Chevie Mawarti. “Awalnya saya cuma ikut kelas belajar mengolah limbah minyak jelantah jadi lilin dan tatakan. Lalu saya berpikir, limbah kulit bengkoang dan bonggol kol sisa produksi asinan saya ini bisa dibuat apa,” tutur Inna.

Produk hasil olahan limbah Niekting dan Arnetta Craft rutin diserap oleh perusahaan BUMN. Eco‑enzyme, sabun lerak, karbol, dan lilin sering dipakai dalam goodie bag pelatihan internal atau sebagai hampers korporat. Salah satu perusahaan bahkan memajang produk ramah lingkungan ini di gerai resmi mereka.

Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, menjelaskan komitmen BRI: “Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program‑program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas.”

UMKM yang bergabung akan mengisi scoring di Link UMKM, menghasilkan sertifikat yang memetakan tiga aspek terunggul dan tiga aspek terendah. “Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada tiga aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya,” terangnya.

Jajang menambahkan bahwa bersama BRI, UMKM tidak hanya tumbuh tetapi juga bertransformasi menuju ekonomi digital yang mandiri dan berkelanjutan. “Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami,” ujarnya.

Hingga 01 Januari 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, sekitar 6.000 UMKM aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan. Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global, dengan fokus utama mengoptimalkan proses digitalisasi.

Inna dan Niekting menunjukkan bahwa inovasi produk, dukungan pelatihan, dan integrasi digital dapat membawa usaha kecil menengah menuju pasar yang lebih luas. Selain produk asinan, pengelolaan limbah menjadi contoh nyata bagaimana bisnis dapat bersinergi dengan kelestarian lingkungan.

Inna Sri SugiatiNiektingasinan fermentasiRumah BUMN BRIzero wasteeco‑enzymeUMKM digital

Komentar

Memuat komentar...