Inzaghi Tinggalkan Inter, Ikut Al Hilal Setelah 4 Tahun
Gambar atau konten salah?
Simone Inzaghi, pelatih Inter Milan yang berusia 50 tahun, mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian yang ia raih bersama klub berwarna biru dan merah. Ia menilai bahwa keberhasilan yang dicapai selama empat tahun terakhir sulit untuk diulang.
Selama masa kepemimpinannya, Inzaghi memimpin Inter meraih 1 Scudetto, 2 Coppa Italia, 3 Piala Super Italia, dan dua kali menjadi finalis Liga Champions. Pada musim terakhir, Inter berusaha meraih quadruple, namun akhirnya tidak berhasil menangkan satu pun trofi.
Hasil akhir musim menampilkan Inter menempati posisi di bawah juara Napoli di Serie A, kalah dari AC Milan di semifinal Coppa Italia, dan dipermalukan Paris Saint‑Germain di final Liga Champions. Meskipun begitu, Inter tetap mencatat kemenangan penting melawan Bayern Munich dan Barcelona di perempatfinal dan semifinal, menandai prestasi yang sulit ditandingi.
“Saya sudah memenangi banyak gelar juara dalam empat tahun, dan saya bahagia dengan hasilnya,” kata Inzaghi kepada La Gazzetta dello Sport. Ia menambahkan, “Kami mencapai final Liga Champions dua kali. Saya menerima kritik apapun, selama menyangkut saya dan bukan para pemain, karena mereka selalu memberi saya semua yang mereka miliki.”
Inzaghi menegaskan tidak akan mengubah apapun: “Saya enggak akan mengubah apapun. Waktu itu kami punya mimpi, treble. Di akhir musim, kami membayar mahal karena memainkan 23 pertandingan lebih banyak daripada Napoli.”
Ia menekankan pentingnya kompetisi: “Inter itu punya kewajiban untuk bersaing di semua kompetisi, dan malam melawan Bayern dan Barcelona akan terus saya ingat lebih dari trofi-trofinya. Kemenangan-kemenangan itu mungkin tidak dapat terulang.”
Setelah musim panas 2025, Inzaghi memutuskan untuk meninggalkan Inter dan bergabung dengan Al Hilal. Perpindahan ini menandai akhir era suksesnya di Italia, sekaligus membuka babak baru bagi Inter dalam pencarian trofi berikutnya.
Perjalanan Inzaghi menegaskan bahwa pencapaian di sepakbola bukan hanya tentang jumlah trofi, melainkan juga tentang pengalaman menghadapi lawan kuat dan menegakkan semangat kompetisi di setiap pertandingan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Mourinho Senang Prancis dan Inggris Gagal ke Final Piala Dunia
Strategi Bertahan Tuchel Hancurkan Inggris
Argentina ke Final usai Kalahkan Inggris di Semifinal
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Saliba Operasi Punggung, Absen Lima Bulan
