Iran Andalkan Serangan Siber Balas AS-Israel

Bima J. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 100 dibaca
Bisik.id
Iran Andalkan Serangan Siber Balas AS-Israel

Gambar atau konten salah?

Iran diperkirakan akan meningkatkan serangan siber sebagai respons utama setelah operasi militer gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel mengurangi kemampuan militer konvensional mereka.

Menurut analisis dari perusahaan keamanan siber Anomali, Iran telah mengerahkan kelompok peretas yang dikenal sebagai APT42 dan APT33. Kelompok-kelompok ini diduga memiliki hubungan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps dan Kementerian Intelijen Iran. APT33 sendiri juga dikenal dengan nama lain, yaitu MuddyWater.

SentinelOne memprediksi kelompok yang terafiliasi dengan Iran akan mengincar jaringan pertahanan, pemerintahan, dan intelijen baik di Israel maupun Amerika Serikat dalam beberapa hari mendatang.

Salah satu jenis serangan yang paling mungkin digunakan adalah wiper malware. Perangkat lunak berbahaya ini dirancang untuk menghapus data secara permanen dan melumpuhkan sistem komputer target. Selain itu, serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS) juga diperkirakan akan kembali dipakai. Serangan DDoS bertujuan membanjiri layanan daring sehingga menjadi tidak bisa diakses oleh pengguna normal.

Penggunaan metode ini bukanlah hal baru bagi Iran. Dalam beberapa tahun terakhir, aktor-aktor yang dikaitkan dengan negara tersebut pernah menargetkan infrastruktur penting dan sektor keuangan, selain domain pemerintahan.

Meskipun beberapa kelompok pro-Iran sering kali melebih-lebihkan klaim mereka, firma keamanan Sophos menilai mereka tetap merupakan aktor yang mampu dan berbahaya. Salah satu kelompok tersebut, Islamic Cyber Resistance Axis, mengklaim telah melakukan beberapa operasi terhadap target Israel, termasuk perusahaan pertahanan Rafael dan layanan deteksi drone VigilAir. Kelompok ini juga dilaporkan sedang merekrut pakar siber untuk apa yang mereka sebut sebagai "pertempuran epik" melawan Israel dan Amerika Serikat.

Situasi menjadi lebih kompleks dengan adanya aktor non-negara. Kelompok semacam ini, berbeda dengan militer resmi, sulit dikendalikan melalui jalur diplomatik dan sering kali beroperasi berdasarkan agenda ideologis mereka sendiri. Sophos mencatat bahwa meski ada klaim yang dilebih-lebihkan, kelompok-kelompok ini memiliki kemampuan teknis yang nyata.

Di sisi lain, terdapat juga kelompok anti-Iran seperti Gonjeshke Darande atau Predatory Sparrow. Kelompok ini sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Bank Sepah dan pabrik baja Iran pada tahun 2022, serta gangguan sistem Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) pada tahun 2023.


Iran diperkirakan akan menjadikan serangan siber sebagai alat pembalasan utama menyusul tekanan militer konvensional dari AS dan Israel. Aktor siber yang terkait dengan badan intelijen Iran, seperti APT42 dan APT33, dimobilisasi untuk menargetkan infrastruktur pertahanan dan pemerintahan di kedua negara tersebut. Metode serangan yang diantisipasi meliputi penggunaan wiper malware untuk penghapusan data permanen dan serangan DDoS untuk melumpuhkan layanan daring. Meskipun klaim beberapa kelompok dilebih-lebihkan, kemampuan teknis mereka diakui berbahaya oleh analis keamanan siber. Kehadiran aktor non-negara seperti Islamic Cyber Resistance Axis dan Gonjeshke Darande menambah lapisan kerumitan pada situasi ini karena sulitnya kontrol diplomatik terhadap mereka.

Serangan Siber IranAPT42APT33Islamic Revolutionary Guard CorpsWiper MalwareDDoSAktor Siber Iran

Komentar

Memuat komentar...