Jangkar Raksasa di Dasar Laut, Bukti Kapal Karam di Teluk Palabuhanratu

Ayu W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Jangkar Raksasa di Dasar Laut, Bukti Kapal Karam di Teluk Palabuhanratu

Gambar atau konten salah?

Dermaga beton Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu berdiri kokoh sekarang. Tempat ini jadi pusat perdagangan nelayan di pesisir Sukabumi. Tapi di balik ramainya aktivitas bongkar muat dan birunya laut pantai selatan, ada rahasia besar yang sudah terkubur puluhan tahun di dasar samudra.

Masyarakat pesisir Teluk Palabuhanratu punya cerita tentang kapal-kapal yang karam di masa lalu. Ini bukan cerita karangan. Narasi ini jadi bagian dari sejarah lisan yang dijaga baik-baik. Salah satu yang merawat cerita ini adalah Abah Asep Nurbagelar, atau biasa dipanggil Abah Embep. Sebagai sesepuh budayawan setempat, ia menyimpan memori kolektif tentang keganasan titik-titik karang bawah laut yang sering menenggelamkan kapal-kapal besar.

"Memang dahulu itu pernah ada kapal-kapal yang karam di tengah-tengah teluk," kata Abah Embep saat berbincang, Minggu 12 Juli 2026.

Dalam ingatannya, kawasan Karang Jahir sampai area dekat Karang Pamulang dikenal sebagai zona maut bagi pelaut. Di sana, gugusan karang yang tersembunyi di balik ombak jadi penyebab kandasnya kapal-kapal berukuran raksasa hingga akhirnya tenggelam ke dasar laut yang gelap.

Identitas pasti kapal-kapal itu masih diselimuti misteri. Tapi para orang tua terdahulu yakin bahwa armada yang karam itu milik asing yang datang ke perairan Sukabumi pada era kolonial.

"Itu cerita dari orang-orang tua terdahulu secara turun-temurun. Ceritanya dulu pernah ada kapal, tidak tahu apakah itu kapal Belanda atau kapal Jepang, yang karam di tengah-tengah sana," tuturnya.

Jejak sejarah ini ternyata tidak hanya ada di tengah teluk. Di sekitar Gado Bangkong, kawasan dermaga lama yang legendaris, puing-puing masa lalu itu juga konon ada di sana. Kehadiran kapal-kapal asing ini jadi bukti nyata bahwa Palabuhanratu sudah lama menjadi poros ekonomi dan jalur perdagangan penting di selatan Jawa.

"Di dekat Gado Bangkong pun dahulu ada kapal yang karam," tambah Abah Embep.

Abah Embep bercerita bahwa jauh sebelum PPN Palabuhanratu berdiri, Gado Bangkong adalah gerbang utama logistik laut. Kondisi perairan saat itu masih dangkal dan dihantam gelombang besar. Kapal-kapal besar terpaksa membuang sauh di tengah laut. Hanya perahu-perahu kecil yang bisa mendekat ke bibir pantai untuk mengangkut barang dagangan. Garam jadi komoditas primadona kala itu.

"Dulu Gado Bangkong itu hanya sebagai tempat bersandar kapal-kapal berukuran kecil yang membawa barang-barang, di antaranya garam. Kalau ditarik garis lurus dari lokasi Gado Bangkong lama, areanya kini menjadi kantor Bank BJB yang ada di pasar saat ini. Tempat itu dulunya merupakan kompleks gudang garam yang besar," papar Abah Embep.

Perdagangan garam di masa itu sangat besar. Struktur birokrasi setempat bahkan punya jabatan khusus yang disebut Kepala Gudang Garam.

"Makanya dulu sampai ada jabatan khusus yang disebut Kepala Gudang Garam. Tahun pastinya (peristiwa kapal karam) memang tidak begitu jelas karena Abah sendiri menerima kabar ini dari cerita orang tua Abah pribadi. Yang jelas, kapal-kapal itu dulunya membawa muatan barang-barang dagangan karena kawasan ini merupakan pusat perekonomian sejak dulu," pungkas Abah Embep.

Misteri yang diceritakan para sesepuh ini perlahan menemukan bukti fisik. Aep (45), seorang nelayan lokal, bercerita tentang pengalaman para penyelam yang tidak sengaja menemukan sisa-sisa kejayaan masa lalu di kedalaman laut.

"Saya pernah mendengar cerita dari anak-anak penyelam yang sering turun ke bawah. Mereka bilang di bawah sana ada jangkar berukuran raksasa. Dari ukuran jangkarnya saja, sudah kelihatan kalau itu bukan punya perahu biasa, tapi punya kapal yang ukurannya sangat besar," ujar Aep saat ditemui di sekitar dermaga.

Temuan itu bukan hanya jangkar tunggal. Para penyelam melaporkan adanya rantai besi raksasa yang masih terikat kuat, tergeletak di dasar laut.

"Ceritanya jangkar itu masih terikat ke rantai besi yang ukurannya juga raksasa. Tapi karena posisinya sangat besar, berat, dan berada di kedalaman sekitar 25 meter, akhirnya dibiarkan begitu saja di dasar laut. Tidak ada yang berani atau kuat mengangkatnya. Makanya sampai sekarang, apa saja isi di dalam kapal yang karam itu masih jadi misteri," tambah Aep.

Sampai sekarang, kapal-kapal yang diduga milik Belanda atau Jepang itu tetap "tidur" dengan tenang di kedalaman 25 meter. Mereka jadi saksi bisu bagi perdagangan yang pernah jaya di pesisir Sukabumi. Legenda ini terus mengalir di antara deburan ombak pantai selatan.

Cerita tentang kapal karam di Teluk Palabuhanratu ini menunjukkan bahwa kawasan itu sudah jadi pusat perdagangan sejak zaman kolonial. Temuan jangkar raksasa dan rantai besi di dasar laut menguatkan kisah lisan yang diwariskan turun-temurun. Meski identitas kapal dan isi muatannya masih misteri, bukti fisik di kedalaman 25 meter itu jadi pengingat bahwa laut menyimpan banyak sejarah yang belum terungkap.

kapal karamPalabuhanratusejarah lisanpusat perdaganganjangkar raksasamisteri bawah lautzona maut

Komentar

Memuat komentar...