Kampus Bisa Punya SPPG: Solusi Gizi Nasional, Tak Wajib!
Gambar atau konten salah?
Dadan Hindayana, mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), pernah menyatakan bahwa kampus dapat mulai mempertimbangkan untuk memiliki setidaknya satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, langkah ini akan membantu meningkatkan gizi nasional.
“Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari sivitas akademika sendiri,” ujar Dadan, dikutip pada 03 Juni 2026.
Beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah mencontoh langkah tersebut. Universitas Hasanuddin dan IPB University merupakan contoh kampus yang telah memiliki SPPG.
Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, menegaskan bahwa kampus dipersilakan membuka SPPG dalam rangka teaching factory atau sebagai tempat praktik langsung bagi mahasiswa.
Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, yang disiarkan melalui platform resmi, Brian menjelaskan, “Nah, bahwa kemudian ada beberapa kampus yang membuat SPPG dalam rangka teaching factory begitu ya, dalam rangka mahasiswa praktik, dalam rangka itu juga sekaligus diteliti begitu, kami mempersilakan kepada kampus-kampus tersebut begitu. Tetapi konteksnya sekali lagi sama dengan program-program nasional lainnya. Kita ingin kampus terlibat dalam program-program nasional tersebut gitu.”
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak wajib mendirikan dapur SPPG. “Kemdiktisaintek tidak pernah mengeluarkan edaran bahwa setiap kampus harus mendirikan dapur SPPG.” Brian menambahkan, “Yang kita lakukan sama seperti kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya. Misalkan terkait dengan sampah, terkait dengan giant seawall, terkait dengan mobil listrik, semikonduktor. Jadi, bagaimana peran perguruan tinggi untuk mendukung program-program tersebut begitu. Jadi seperti giant seawall, bukan berarti (mendirikan) dapur SPPG.”
Ia juga menyoroti pentingnya riset, khususnya tentang stunting. “Jadi yang kami dorong adalah bagaimana melakukan riset-riset misalnya stuntingnya bagaimana, dicek. Saya pernah mendapatkan paper itu di India program MBG ini berhasil menurunkan stunting begitu. Nah, ini mungkin perlu jangka panjang yang barangkali tidak terpikirkan oleh apa oleh para SPPG-nya,” tambahnya.
Dengan adanya SPPG, kampus dapat menjadi ujung tombak dalam penelitian gizi dan praktik langsung, sekaligus berkontribusi pada program nasional tanpa harus menanggung beban pembangunan fasilitas secara wajib. Ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat memainkan peran penting dalam upaya peningkatan gizi, sambil tetap fleksibel dalam implementasinya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
