Kematian Ibu Jembrana, Kasus Rabies Pertama di Bali

Cahyo S. · 2 min baca · 45 menit lalu · 18 dibaca
Bisik.id
Kematian Ibu Jembrana, Kasus Rabies Pertama di Bali

Gambar atau konten salah?

Kasus rabies yang jarang terjadi di Jembrana, Bali, menimpa seorang ibu rumah tangga.

Korban bernama Ni Ketut Sari, warga Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Jembrana, meninggal dunia setelah digigit kucing liar.

Insiden gigitan terjadi pada 01 April 2026 ketika Sari menjemur pakaian di depan rumah. Kucing liar menyerang dan menggigit betis kanannya.

Ia mengabaikan luka dan tidak segera mencari pertolongan medis.

Setelah sebulan, pada 23 May 2026, Sari tiba-tiba jatuh sakit. Ia langsung dibawa ke puskesmas terdekat, kemudian dirujuk ke RSU Negara karena kondisinya semakin memburuk.

Di rumah sakit, gejala khas rabies mulai muncul. Sari menunjukkan ketakutan hebat saat melihat air dan gelisah setiap kali terkena embusan angin. Ia akhirnya meninggal pada 24 May 2026. Jenazahnya dibenamkan pada 28 May 2026.

Kasus ini menjadi kasus rabies pada manusia pertama di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya. Sari meninggalkan suami dan dua anak, satu di kelas 1 SMA dan satu di kelas 1 SD.

Setelah jenazah selesai dibenamkan, keluarga korban belum menerima penanganan medis preventif, termasuk suntikan vaksin antirabies (VAR).

Di sisi lain, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, Kepala Bidang Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Jembrana, baru menerima surat pemberitahuan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jembrana pada 03 June 2026.

"Lantaran baru menerima surat, sehingga hari ini sebagai upaya pencegahan dilakukan vaksinasi emergency," ungkap Sugiarta saat dikonfirmasi pada 04 June 2026.

Petugas segera melakukan vaksinasi darurat terhadap 20 anjing dan 1 kucing dalam radius 3 kilometer dari rumah korban. Selain itu, sampel diambil dari 4 anjing milik warga sekitar untuk diuji laboratorium di Balai Veteriner Denpasar guna memastikan penyebaran virus rabies.

"Hari ini dilakukan vaksinasi di wilayah kasus gigitan dan pengiriman sampel otak pada 4 ekor anjing," papar Sugiarta.

Data grafis dari Januari hingga Juni 2026 menunjukkan bahwa Kabupaten Jembrana mencatat 33 kasus gigitan anjing positif rabies. Kasus Ni Ketut Sari menjadi kematian pertama pada manusia akibat dugaan rabies sepanjang tahun ini.

Di wilayah lain, serangan kucing rabies juga terjadi di Kelurahan Manumutin, Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 March 2026.

Serangan tersebut menimpa 11 orang, yang semua langsung mendapatkan penanganan pada hari yang sama setelah mengalami gigitan.

Menurut Yos Sudarso Dami, Kepala Dinas (Kadis) Peternakan dan Perikanan Kabupaten Belu, "Untuk 11 orang itu sudah tertangani semua, langsung ditangani hari itu juga, jadi kejadiannya sore-sore," ujar Yos pada 16 March 2026.

Setelah menerima laporan warga, petugas langsung menuju lokasi kejadian untuk menangkap kucing tersebut. "Selanjutnya petugas dari Dinas Peternakan dan Perikanan Belu menuju lokasi bersama masyarakat serta lurah, camat dan BPBD menuju lokasi untuk menangkap kucing yang ada," jelasnya.

Kucing yang menggigit warga kemudian diperiksa di laboratorium kesehatan hewan milik Dinas Peternakan dan Perikanan Belu. "Dari hasil pemeriksaan rapid test cepat didapatkan bahwa kucingnya positif rabies," ungkapnya.

Kasus-kasus ini menyoroti pentingnya respons cepat dan pencegahan rabies di daerah pedesaan. Pemerintah daerah telah menindaklanjuti dengan vaksinasi darurat dan pengujian laboratorium untuk mengidentifikasi penyebaran virus.

RabiesJembranaNi Ketut Sarikucing liarvaksin antirabiesKeswan Kesmavetlaboratorium

Komentar

Memuat komentar...