OPEC+ Setujui Kenaikan Produksi Minyak 188.000 Barel per Hari Mulai Agustus 2026

Ningsih R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
OPEC+ Setujui Kenaikan Produksi Minyak 188.000 Barel per Hari Mulai Agustus 2026

Gambar atau konten salah?

Organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, telah mengambil keputusan untuk menaikkan target produksi minyak mereka. Kenaikan ini akan mulai berlaku pada Agustus 2026. Langkah ini diambil di tengah situasi harga minyak yang sedang menurun, seiring dengan proses pembukaan kembali Selat Hormuz yang dilakukan secara bertahap.

Dalam sebuah pertemuan yang digelar secara daring, OPEC+ menyetujui peningkatan kuota sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus 2026. Sebelumnya, kelompok yang mencakup negara-negara seperti Rusia ini telah menaikkan kuota produksi mereka dari April hingga Juli 2026 sebesar hampir 800.000 barel per hari. Namun, perlu dicatat bahwa sebagian besar dari peningkatan ini hanya bersifat teoritis. Alasannya, perang antara Amerika Serikat dan Iran telah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, sehingga produksi tidak bisa berjalan maksimal.

Data menunjukkan bahwa produksi OPEC+ pada Mei 2026 tercatat sebesar 33,13 juta barel per hari. Angka ini turun drastis jika dibandingkan dengan produksi pada Februari 2026 yang mencapai 42,77 juta barel per hari. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh konflik yang menghambat jalur distribusi minyak. Meskipun demikian, produksi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada Juni 2026. Hal ini berkat upaya Amerika Serikat yang membantu Uni Emirat Arab (UEA) dan negara-negara OPEC+ lainnya untuk meningkatkan ekspor minyak mereka. Meski begitu, level produksi saat ini masih berada di bawah angka sebelum perang terjadi.

Menariknya, meskipun gangguan pasokan masih terus berlangsung, harga minyak justru telah kembali ke level sebelum perang. Beberapa faktor yang menekan harga antara lain impor minyak dari China yang lebih rendah, peningkatan ekspor dari negara-negara produsen non-Timur Tengah, serta pelepasan stok strategis global yang dikoordinasikan oleh Badan Energi Internasional.

Seorang analis dari UBS, Giovanni Staunovo, memberikan pandangannya. "Kelompok tujuh negara tersebut terus mengurangi pemotongan produksi mereka seperti yang diperkirakan. Fokus jangka pendek akan tetap pada berapa banyak kapal tanker yang akan berhasil melewati Selat Hormuz, seberapa cepat permintaan dan impor minyak mentah Tiongkok pulih," ujarnya.

Sebagai gambaran, harga minyak mentah Brent pada Jumat, 3 Juli 2026, diperdagangkan mendekati US$ 72 per barel. Harga ini turun signifikan dari puncak terbaru yang mencapai lebih dari US$ 120 per barel. Angka tersebut juga kembali ke tingkat sebelum Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Situasi ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika pasar minyak global, di mana faktor geopolitik dan ekonomi saling memengaruhi.

OPEC+kenaikan produksi minyakSelat Hormuzharga minyakkonflik AS-Iranproduksi OPEC+pemulihan ekspor

Komentar

Memuat komentar...