SMAN 7 Lubuklinggau Hanya Kantongi 13 Siswa Baru

Wulan M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
SMAN 7 Lubuklinggau Hanya Kantongi 13 Siswa Baru

Gambar atau konten salah?

Di Lubuklinggau, SMA Negeri 7 masih berjuang keras untuk mengisi bangku kosong di tahun ajaran baru. Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 sudah berjalan, tapi jumlah siswa yang mendaftar baru mencapai 13 orang. Angka ini memang naik dari sebelumnya yang hanya sembilan pendaftar, namun masih jauh dari kata cukup.

Kepala SMAN 7 Lubuklinggau, Agustunizar, mengungkapkan pihak sekolah tidak akan menutup pendaftaran dalam waktu dekat. "Awalnya ada sembilan siswa yang mendaftar, sekarang sudah menjadi 13 siswa. Pendaftaran tetap kami buka sampai proses belajar mengajar nanti karena siswa kami masih kurang," katanya pada Minggu, 5 Juli 2026.

Kondisi ini sangat berbeda dengan sekolah-sekolah favorit di kota tersebut. Agustunizar menjelaskan, sekolah favorit biasanya langsung menutup pendaftaran begitu kuota terpenuhi. Alasannya, aturan baru dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) cukup ketat. "Kalau sekolah favorit mungkin sudah tutup pendaftaran karena kuotanya penuh. Sekarang kalau siswa melebihi kuota, datanya tidak diakui di Dapodik, nanti tidak bisa ikut ujian dan dana BOS juga tidak bisa dicairkan," ujarnya.

Kekurangan siswa ini berdampak langsung pada proses belajar mengajar. Beberapa rombongan belajar (rombel) hanya diisi oleh segelintir orang. Situasi paling ekstrem terjadi di kelas IPA, yang hanya memiliki dua siswa. "Karena sedikit, satu kelas IPA itu hanya terisi dua siswa. Tetap kami buka karena aturan di Dapodik memang memungkinkan. Kami juga tidak menghapus kelas IPA atau IPS karena jurusan itu sesuai pilihan dan bakat siswa, bukan dipaksakan," ungkap Agustunizar.

Penurunan jumlah siswa bukanlah fenomena baru di sekolah ini. Tren negatif sudah terasa sejak beberapa tahun terakhir. Pada SPMB 2025, SMAN 7 Lubuklinggau hanya menerima delapan siswa. Tahun ini, dengan 13 siswa, sebenarnya ada sedikit perbaikan. Namun, bandingkan dengan tahun 2020, ketika sekolah ini masih mampu menjaring sekitar 120 siswa baru. "Dulu tahun 2020 kami pernah dapat 120 siswa. Masuk 2021 mulai menyusut. Tiga tahun terakhir terus menurun dan yang paling parah tahun 2025 hanya delapan siswa," ujarnya.

Agustunizar punya analisis sendiri soal penyebab utama masalah ini. Menurutnya, semuanya bermula ketika pengelolaan SMA beralih dari Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan. Sejak saat itu, kuota di sekolah-sekolah favorit membengkak. Dulu, saat masih di bawah Pemkot, kuota sekolah favorit dibatasi. Contohnya, SMA Negeri 1 Lubuklinggau hanya mendapat delapan rombel, dan SMK Negeri 1 Lubuklinggau enam rombel. "Sekarang SMA 1 menjadi 10 rombel, sedangkan SMK 1 menjadi 14 rombel. Ini sangat berpengaruh kepada sekolah kami, ditambah lagi ada sekolah baru seperti SMK 4," katanya.

Faktor jarak sempat disebut-sebut, tapi Agustunizar menepisnya. Ia menilai jarak bukan alasan utama. "Sebab sekitar tujuh hingga delapan tahun lalu, kami masih mampu mendapatkan banyak siswa. Jadi ini bukan faktor utamanya," ujarnya.

Dampak minimnya siswa tidak hanya dirasakan oleh peserta didik, tapi juga para guru. Saat ini, SMAN 7 Lubuklinggau memiliki 25 guru. Jumlah ini berkurang drastis dari sebelumnya yang mencapai lebih dari 30 orang. Banyak guru memilih pindah. "Mereka pindah karena jam mengajar tidak mencukupi. Guru yang sudah sertifikasi harus memenuhi 24 jam mengajar, sedangkan di sini karena siswanya sedikit paling banyak hanya dapat sekitar 15 jam," jelas Agustunizar.

Meski kekurangan siswa, Agustunizar menegaskan bahwa fasilitas dan kualitas pengajar di sekolahnya tidak kalah. "Fasilitas kami lengkap, gurunya juga bagus dan sangat peduli terhadap para siswa," katanya.

Agustunizar sudah berkali-kali melaporkan persoalan ini ke Pemprov Sumatera Selatan. Ia berharap ada evaluasi terhadap kuota sekolah favorit. "Saya sudah berulang kali melapor ke pemerintah provinsi bahwa kuota sekolah favorit terlalu besar. Kalau dikurangi seperti dulu, itu sangat berpengaruh bagi kami. Kalau seperti sekarang, kami bisa habis," tuturnya.

Kondisi SMAN 7 Lubuklinggau ini menggambarkan ketimpangan dalam sistem penerimaan siswa baru. Di satu sisi, sekolah favorit kebanjiran pendaftar dan harus menutup pendaftaran lebih awal. Di sisi lain, sekolah seperti SMAN 7 justru berjuang keras untuk bertahan. Perubahan kebijakan pengelolaan dari kota ke provinsi, yang diikuti dengan penambahan kuota di sekolah favorit, tampaknya menjadi faktor kunci yang mengubah peta persaingan penerimaan siswa di Lubuklinggau. Sekolah yang dulu bisa menerima 120 siswa kini harus puas dengan belasan orang, sementara guru-guru terpaksa hengkang karena jam mengajar yang tidak mencukupi.

sekolah sepi peminatSPMB 2026kuota sekolah favoritperpindahan pengelolaankekurangan siswaDapodikrombel minim

Komentar

Memuat komentar...