Ketegangan Timur Tengah Dorong Volatilitas Harga Minyak dan Kripto

Hendra M. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 70 dibaca
Bisik.id
Ketegangan Timur Tengah Dorong Volatilitas Harga Minyak dan Kripto

Gambar atau konten salah?

Ketegangan di Timur Tengah berpengaruh pada pasar minyak dunia dan berdampak pada pasar kripto. Antony Kusuma, Vice President Indodax, menyatakan bahwa dinamika geopolitik dan harga energi menjadi perhatian utama investor saat ini. Dalam beberapa minggu terakhir, volatilitas harga minyak meningkat seiring dengan ketegangan yang terjadi. Pergerakan harga energi ini berpotensi memengaruhi inflasi dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Investor kini cenderung memperhatikan berbagai indikator ekonomi sebelum memutuskan investasi. Antony menjelaskan bahwa respons investor terhadap data inflasi dari Amerika Serikat (AS) terbilang terbatas. Setelah laporan inflasi dirilis, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$ 69.000 dengan pergerakan yang stabil dalam 24 jam terakhir. Ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menunggu perkembangan data ekonomi dan arah kebijakan moneter global.

Angka inflasi AS di bulan Februari 2026 tercatat pada level 2,4%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Dalam situasi ini, pelaku pasar biasanya lebih fokus pada arah kebijakan suku bunga The Fed, yang menjadi faktor utama dalam memengaruhi likuiditas dan pergerakan aset berisiko termasuk kripto. Saat ini, pasar berada dalam fase menunggu untuk melihat arah kebijakan moneter berikutnya.

Berdasarkan laporan terbaru, inflasi bulanan AS pada Februari naik 0,3%, sedikit lebih tinggi dibandingkan 0,2% pada Januari. Inflasi inti (core CPI) yang tidak termasuk komponen pangan dan energi tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan, sesuai proyeksi analis. Antony menilai stabilnya angka inflasi memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di ekonomi AS masih terkendali, meskipun di atas target inflasi 2% yang ditetapkan oleh Federal Reserve.

Antony juga mengungkapkan bahwa proyeksi pasar menunjukkan peluang hampir 99% bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret. Sementara itu, kemungkinan pemotongan suku bunga sekitar 25 basis poin pada bulan April diperkirakan masih kecil, yaitu sekitar 11%. Kondisi ini membuat pasar kripto cenderung bergerak defensif sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter.

Fyqieh Fachrur, analis dari Tokocrypto, menambahkan bahwa Bitcoin adalah aset yang paling sensitif terhadap perubahan makroekonomi global. Ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi dapat menekan aset berisiko dalam jangka pendek. Saat ketegangan meningkat, pasar biasanya mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman, meningkatkan tekanan jual pada Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Menurutnya, kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi global dan membatasi ruang untuk pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Di samping faktor makroekonomi, Bitcoin secara teknikal juga menunjukkan potensi pelemahan jangka pendek. Namun, volatilitas pasar saat ini dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang cepat, sehingga arah pergerakan pasar bisa berubah kapan saja.

Pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap perubahan global, terutama terkait konflik geopolitik dan kebijakan moneter. Pelaku pasar perlu memperhatikan perkembangan makro secara lebih luas, karena faktor-faktor ini dapat langsung mempengaruhi sentimen pasar.

Timur Tengahharga minyakinvestorinflasiBitcoinkebijakan monetervolatilitasaset berisiko

Komentar

Memuat komentar...