Kevin Lukman Raih Beasiswa LPDP, Kegagalan IELTS Jadi Kemenangan
Gambar atau konten salah?
Kevin Lijaya Lukman, seorang mahasiswa asal keluarga sederhana, memulai perjalanan pendidikan tinggi dengan mengajukan beasiswa untuk melanjutkan S1. Ia menempuh jurusan Metalurgi di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB pada tahun 2016, sebuah program yang dikenal sangat kompetitif.
Dengan beasiswa Unggulan Kemdikbudristek, Kevin menuntaskan studi S1 dalam 3,4 tahun dan lulus cum laude. Setelah itu, ia bekerja di sebuah perusahaan di Purwakarta, Jawa Barat, di mana tugasnya adalah membentuk tim riset untuk mengembangkan laboratorium.
Kevin menyadari bahwa pengetahuan teknisnya masih kurang untuk menyelesaikan proyek laboratorium. Ia memutuskan melanjutkan S2 dan memerlukan pemahaman mendalam tentang metalurgi serta aspek finansial industri. “Awalnya saya kira ini hanya soal riset. Ternyata ini tentang leadership,” ungkapnya, kutipan di laman LPDP Kemenkeu pada 25 Maret 2026.
Namun, proses mendapatkan beasiswa LPDP tidak semudah yang dipikirkan. Salah satu tantangan terbesar bagi Kevin adalah tes IELTS. Ia harus gagal tiga kali sebelum akhirnya berhasil. Ketika belajar IELTS, ia menghabiskan waktu dari jam 5 sore hingga 11 malam setelah pulang kerja.
Berikut kronologi kegagalannya: pada September 2022, Kevin gagal karena skor kurang 0,5; pada Desember 2022, ia mencoba lagi namun gagal; pada Januari 2023, ia mengalami kegagalan ketiga. Meski sudah melakukan recheck ke IELTS Australia untuk merekam speaking, hasilnya tetap tidak memuaskan. Hanya pada Februari 2024, ia memperoleh skor IELTS yang memenuhi syarat LPDP.
Kevin mengingat prosesnya: “Saya mulai belajar Juli 2022, tes pertama September gagal, Desember gagal lagi, Januari 2023 masih gagal. Baru Februari, tepat tiga hari sebelum deadline LPDP, saya lolos skor IELTS. Gagal tiga kali, setiap kali cuma kurang 0,5. Rasanya pahit banget,” ia bersamurai.
Setelah berhasil mendapatkan beasiswa, Kevin melanjutkan studi S2 di Imperial College London dengan double degree di bidang pertambangan dan bisnis. Di sana, ia menghadapi beban akademik yang jauh lebih berat, harus mengikuti 15 sub-modul ujian, sementara jurusan lain hanya 3–4 modul.
Selama menulis tesis, Kevin fokus pada topik nikel dan melakukan penelitian yang relevan dengan kondisi Indonesia. Ia menggunakan model statistik inovatif, yaitu mean reverting model, yang belum pernah diterapkan sebelumnya dalam evaluasi tambang. Model tersebut memerlukan ratusan ribu simulasi agar proyek yang diteliti dapat dinilai layak.
Hasil kerja kerasnya terakui dengan penghargaan Curry MSc Prize, sebuah penghargaan untuk tesis geologi paling berpengaruh di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Profesor pembimbingnya terkejut karena riset Kevin tidak ia daftarkan, namun akhirnya tesis tersebut menjadi yang terbaik di semua program master di sekolah pertambangan.
Pengalaman Kevin menyoroti pentingnya ketekunan dan kesiapan mental dalam menghadapi tantangan akademis. Ia menunjukkan bahwa kegagalan, bila dihadapi dengan tekad, dapat menjadi batu loncatan menuju kesuksesan. Keberhasilannya di Imperial College London juga menegaskan bahwa beasiswa LPDP mampu membuka peluang bagi mahasiswa Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
