Koperasi Merah Putih Viral di Stone Garden, Bantah di Atas Gunung

Nita W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Koperasi Merah Putih Viral di Stone Garden, Bantah di Atas Gunung

Gambar atau konten salah?

Sebuah bangunan di Kampung Girimulya, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, tiba-tiba menjadi perbincangan hangat. Bangunan itu adalah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Videonya viral di media sosial. Banyak yang terkejut melihat lokasinya.

Bangunan itu berdiri di kawasan Stone Garden. Tempatnya dikenal sebagai gunung purba. Pemandangannya unik. Di sekelilingnya ada semak belukar dan rumpun bambu. Dari video yang beredar, koperasi itu tampak terisolasi. Seolah tidak ada jalan masuk. Di belakangnya, bukit karst menjulang tinggi. Formasi batuan purba tersebar di sana. Saat musim kemarau, angin membawa debu halus. Debu itu berasal dari tanah kering dan aktivitas pengolahan kapur di sekitar lokasi.

Bangunan koperasi itu belum selesai dibangun. Ukurannya 20 x 30 meter. Progres pembangunannya masih kurang 10 persen. Yang tersisa adalah pemasangan rolling door dan furnitur. Furnitur itu nantinya untuk memajang produk yang akan dijual. Lokasi bangunan sebenarnya berada di area parkir objek wisata Indiana Camp dan Stone Garden. Jaraknya sekitar 500 meter dari Jalan Raya Cianjur-Padalarang. Aksesnya memang berbatu dan agak sulit. Tapi tidak terlalu jauh dari permukiman warga Kampung Girimulya.

Kepala Desa Gunungmasigit, Tarkopa, membantah kesan yang muncul di video viral. Menurutnya, gambaran di media sosial tidak sesuai dengan kenyataan. Ia mengakui bangunan itu berdiri di atas tanah carik desa. "Posisinya di atas gunung, sebenarnya tidak. Tapi di bawah Gunung Masigit bahkan itu di lapang, di lapang parkir Stone Garden. Dan juga pembangunan itu tidak mengganggu lapang parkir karena memang diatur lah jangan sampai posisinya ada di tengah-tengah," kata Tarkopa saat ditemui pada Senin, 07 Juli 2026.

Penentuan lokasi pembangunan KMP Gunungmasigit di kawasan Stone Garden tidak sembarangan. Awalnya, pemerintah desa memberikan rekomendasi beberapa titik ke PT. Agrinas Pangan Nusantara. Perusahaan itu menjadi kepanjangan tangan pemerintah untuk program Koperasi Merah Putih. Dari beberapa titik, kawasan Stone Garden dianggap paling ideal. PT. Agrinas kemudian mengecek lokasi dan aksesibilitasnya. Setelah itu, pembangunan dimulai. "Jadi pemerintah desa hanya sampai ke situ. Ya, secara jujur itu tidak di atas gunung. Di bawah gitu, di antara Gunung Masigit dan apa Stone Garden. Ke permukiman juga kan tidak terlalu jauh," ujar Tarkopa.

Keberadaan Koperasi Merah Putih di kawasan wisata alam Bandung Barat punya tujuan. Pemerintah desa berharap koperasi ini bisa menjadi jembatan pengembangan wisata. Selain itu, koperasi diharapkan bisa menunjang kebutuhan pangan. Juga menampung hasil bumi masyarakat sekitar. "Harapan saya nantinya bisa berkolaborasi dengan pihak Pokdarwis karena kan Stone Garden itu dikelola oleh Pokdarwis. Ya itu nanti bisa berkolaborasi ya. Nah, nanti dengan warung-warung itu kan nanti bisa disuplai oleh Kopdes di situ," kata Tarkopa. "Kemudian mudah-mudahan dengan adanya Kopdes ini nanti bisa mengangkat ketahanan pangan yang ada. Dan ke depannya juga Kopdes itu bisa menyuplai kepada MBG yang ada di Desa Gunung Masigit," imbuhnya.

Ternyata, tidak semua titik Koperasi Desa di Bandung Barat mudah diakses. Camat Cipatat, Herman Permadi, memberikan contoh. Ada Kopdes di Desa Cirawamekar yang dibangun di dekat perkebunan karet. Lalu Kopdes Desa Cipatat yang lokasinya tidak jauh dari galian pasir. "Kalau Cipatat berada di tepi jalan, meskipun dekat area galian pasir. Lalu yang Cirawamekar berada di dekat perkebunan karet, Desa Nyalindung juga lokasinya berada di dalam. Memang masing-masing punya lokasi sendiri, sesuai ketersediaan lahannya," kata Herman saat dikonfirmasi.

Ada syarat utama yang membuat lokasi bangunan kopdes tidak bisa sembarangan. Bangunan harus berdiri di atas lahan kas desa atau tanah carik. Selain itu, luas lahannya minimal 1.000 meter persegi. Syarat inilah yang menyulitkan. "Kami mencari lokasi yang memenuhi syarat, minimal luasnya 1.000 meter persegi, lalu melaporkannya. Setelah itu yang menilai kelayakan lokasi adalah PT. Agrinas, dan itu harus tanah kas desa," kata Herman.

Di Kecamatan Cipatat, rencananya akan dibangun 12 kopdes. Setiap desa mendapat satu kopdes. Namun kenyataannya, baru lima desa yang memiliki tanah carik. Desa-desa itu adalah Gunung Masigit, Kertajaya, Cipatat, Cirawamekar, dan Nyalindung. Sisanya masih kebingungan. "Kami memiliki 12 desa, rencananya setiap desa ada satu kopdes jadi total 12. Namun yang lahannya sudah tersedia baru Gunung Masigit, Kertajaya, Cipatat, Cirawamekar, dan Nyalindung, jadi baru lima desa. Yang lain masih terkendala karena tidak memiliki tanah kas desa. Misalnya Rajamandala sudah tidak punya tanah kas desa, begitu juga Mandalamukti. Jadi kami masih kebingungan mencari lahannya," kata Herman.

Dari fakta-fakta yang ada, viralnya lokasi Koperasi Merah Putih di Stone Garden lebih disebabkan oleh penampakan visualnya yang tidak biasa. Bangunan itu memang berada di kawasan wisata alam yang dikelilingi bukit karst dan semak belukar. Namun, pemerintah desa memastikan lokasinya tidak di puncak gunung dan masih dekat dengan permukiman. Tantangan utama pembangunan kopdes di Kecamatan Cipatat justru bukan soal lokasi yang terpencil, melainkan ketersediaan tanah kas desa yang memenuhi syarat luas minimal.

Koperasi Merah PutihStone GardenBandung Barattanah carik desaviralaksesibilitasketahanan pangan

Komentar

Memuat komentar...