Lumpia Naik RM2: Teka‑Teki Harga di Tengah Selat Hormuz
Gambar atau konten salah?
Pada 22 Maret 2024, seorang pembeli di Malaysia mengamati harga lumpia yang biasa ia beli naik RM2 atau sekitar Rp 7.000. Ia menulis pengalaman tersebut di Threads, lalu bertanya kepada penjual tentang alasan kenaikan.
Penjual menjawab bahwa kenaikan harga dipicu oleh situasi global, khususnya ketegangan di Selat Hormuz. Menurutnya, konflik tersebut membuat kapal‑kapal tidak dapat melintas dengan lancar, sehingga distribusi barang terhambat dan biaya meningkat.
Penjelasan ini langsung menimbulkan reaksi di media sosial. Banyak pengguna merasa alasan tersebut tidak relevan dengan harga lumpia yang dijual oleh pedagang kecil. Mereka bertanya apakah gangguan di jalur perdagangan internasional benar-benar dapat memengaruhi harga jajanan dalam waktu singkat.
Beberapa warganet berpendapat bahwa efek dari gangguan global biasanya memerlukan waktu yang cukup lama, terutama bagi usaha kecil yang menggunakan bahan baku lokal. Namun, Selat Hormuz memang dikenal sebagai salah satu rute perdagangan penting di dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut dapat memengaruhi distribusi dan biaya logistik secara global.
Debat ini memunculkan dua pandangan: satu kelompok menganggap penjelasan penjual masuk akal, sementara kelompok lain menilai itu hanya alasan untuk menutupi biaya tambahan. Diskusi ini terus berlanjut di berbagai platform online.
Di sisi lain, pemerintah Malaysia menegaskan bahwa pasokan pangan dalam negeri tetap stabil. Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan Datuk Seri Mohamad Sabu menyatakan bahwa stok pangan mencukupi setidaknya hingga Juli. Ia mengajak masyarakat agar tidak panik membeli, menambahkan bahwa kenaikan harga akibat faktor global mungkin baru akan terasa dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut Menteri, harga pasar saat ini masih didasarkan pada stok yang ada, dan perubahan apa pun akan membutuhkan waktu untuk terlihat. Ia menekankan pentingnya menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil keputusan pembelian.
Secara keseluruhan, kasus ini menyoroti bagaimana peristiwa geopolitik di satu titik dunia dapat memengaruhi harga barang konsumen di tempat lain, meskipun efeknya tidak selalu langsung terasa. Masyarakat diingatkan untuk tetap tenang dan menunggu data lebih lanjut sebelum menilai dampak harga secara berlebihan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kusuka Kembali di Jakarta Fair 2026, Hadir Tas Edisi Spesial
Warung Nasi Lemak di Sungai Bayor: 30 Tahun Harga Tetap 4 Ribu
Belong Coffee di Klungkung Viral Tanpa Influencer, Menjadi Destinasi Keluarga
Nasi Bakar Liwet Derajat Jadi Trend Ciledug Tangerang
Jamie Tan MasterChef: Roti Canai Metode Kontroversial
SU MA Jakarta Selenggarakan ‘Passage’ dengan Chef Baru
Berita Terbaru
Australia 1-0 Indonesia: U-19 Kalah, Raih Final AFF 2026
Mbappe Target Rekor Piala Dunia 2026: Gol Lima dan Sejarah
Insta360 Lepas Luna Ultra 10 Juni 2026, Tantang DJI
Inna Sri Sugiati: Asinan Niekting UMKM Ramah Lingkungan
PLN Tegaskan Listrik Jawa Beroperasi, Tidak Ada Blackout
Musi Banyuasin Jadi Pusat Koordinasi Pencegahan Karhutla 2026
Mitos Malam 1 Suro: Tradisi Jawa dan Pandangan Islam
Tri Hariadi Kembali Cita‑Cita Sekda Tulungagung Pemecatan
