Mahasiswa Biasa Raih Harvard: Nilai Tak Jadi Satu Kunci Jadi

Jaka M. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Mahasiswa Biasa Raih Harvard: Nilai Tak Jadi Satu Kunci Jadi

Gambar atau konten salah?

Selasa, 26 Mei 2026 – Seorang mahasiswa yang dulu tidak menonjol di bangku sekolah kini menempuh perjalanan panjang hingga masuk ke Harvard University. Kisahnya menunjukkan bahwa pintu ke perguruan tinggi dunia tidak selalu terbuka hanya bagi yang rapor paling tinggi.

Ariel Adhidevara, yang dulu merasa tidak cocok dengan suasana belajar yang kompetitif, mengakui, “Nilai aku juga dulu kurang bagus.” Ia menegaskan bahwa dirinya bukan tipe siswa yang unggul secara akademik saat sekolah. Meskipun begitu, ia berhasil melanjutkan studinya hingga akhirnya diterima di Harvard University setelah melewati proses seleksi yang berliku.

Perjalanan Ariel tidak instan. Ia pernah ditolak beberapa kali saat mendaftar kuliah S1. “Yang tidak kalian tahu juga proses setelah itu juga aku panjang. Dan sempat ditolak beberapa kali di kampus,” ujarnya. Menurutnya, lebih baik siswa tetap menjaga nilai sejak awal sambil mengembangkan minat yang dimiliki. “Kalau misalnya bisa nilai lebih bagus dari dulu dan bisa mulai belajar lebih dulu, itu jauh lebih bagus,” tambahnya.

Di Harvard University, Ariel menemukan bahwa institusi tersebut tidak hanya mencari angka tinggi. Ia menilai bahwa kampus ini menghargai perspektif, pengalaman, dan karakter yang kuat. Selama kuliah, ia merasa kesempatan paling berharga datang dari interaksi dengan banyak orang dari latar belakang berbeda. “Kalau bisa berinteraksi sama orang lain juga, kalau menurut aku itu yang penting,” ujarnya.

Lingkungan di Harvard University memungkinkan mahasiswa bertemu tokoh penting dan berdiskusi langsung dengan mereka. Karena itu, Ariel menyarankan mahasiswa tidak hanya fokus belajar sendiri, tetapi juga membangun relasi dan pengalaman baru. Ia menekankan pentingnya hubungan sosial dalam menjaga kesehatan mental.

Namun, Ariel juga mengakui masa sulit di awal kuliah. Ia berada di GSD (Graduate School of Design) yang memiliki hanya 18 orang. “Karena aku di GSD, nggak banyak orang Indonesia, dan program itu kecil banget, cuma 18 orang, aku cukup kena mental,” ungkapnya. Ia sempat mengambil cuti karena kesulitan beradaptasi. Salah satu hal yang paling membantunya adalah membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. “Make meaningful connections with people and be genuine (jalin hubungan yang bermakna dengan orang lain dan bersikap tulus),” katanya.

Menemukan “warna” diri sendiri menjadi kunci bagi Ariel. Ia belajar mengenali apa yang benar-benar ia sukai, lalu perlahan membangun arah dan pengalaman yang sesuai. “Coba kenali diri sendiri, coba kenali apa yang kita inginkan mungkin,” sarannya. Ia menegaskan bahwa setiap orang bisa memiliki jalur berbeda, asalkan dibuktikan lewat karya dan hasil nyata. “It’s okay to be different, but it has to be right,” lanjutnya.

Jika seseorang tidak unggul di akademik, tetapi tertarik pada musik, bisnis, desain, atau bidang lain, Ariel mencontohkan bahwa ketertarikan itu harus ditekuni. “Kalau misalnya kalian tidak di dunia akademis, ya sudah, di dunia apa? Musik? Oke, buktikan,” katanya.

Ariel menekankan pentingnya dukungan sosial dan relasi sehat untuk menjaga kesehatan mental selama kuliah. Ia berpesan agar siswa yang merasa nilainya biasa saja tidak langsung menyerah. “Kadang-kadang kita harus kita yang kompromis, kita tetap harus ikuti jalur mainnya, tapi kita nanti bisa pakai jalur kita sendiri sebagai additional,” pungkasnya.

Melalui pengalaman Ariel, terlihat bahwa perjalanan menuju perguruan tinggi elit lebih kompleks dari sekadar nilai rapor. Keterlibatan sosial, penemuan diri, dan ketekunan dalam menghadapi penolakan menjadi faktor penting yang dapat membuka pintu bagi siapa saja yang berani mencoba.

Harvard Universitymahasiswanilairelasi sosialkesehatan mentalpenemuan diri

Komentar

Memuat komentar...