Mahasiswa Brawijaya Raih Juara Ketiga di Kompetisi Inovasi
Gambar atau konten salah?
Mahasiswa Universitas Brawijaya yang bernama Muhammad Alhafiz Arya Wardhana dari Program Studi Sistem Informasi di FILKOM berhasil meraih 3rd Winner di International Project Innovation Competition yang diadakan di Istanbul, Turki pada 13 Februari 2026.
Acara tersebut mengumpulkan peserta dari berbagai negara yang diminta mempresentasikan solusi atas masalah global. Arya bekerja sama dengan Malikha Haula Karimah dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Khikmatillo Nematov dari Uzbekistan. Bersama mereka, mereka menampilkan proyek PROBAPLAS yang akhirnya mendapatkan penghargaan.
"PROBAPLAS (Prosthetic from Plastic Waste) merupakan sebuah inovasi yang berfokus pada pemanfaatan limbah HDPE (High-Density Polyethylene) seperti tutup botol dan jerigen bekas sebagai bahan baku pembuatan socket prostetik sebagai komponen utama prostetik," jelas Arya dalam keterangan tertulis, 13 Maret 2026.
Proyek ini pertama kali digagas oleh Unit Kegiatan Mahasiswa PUSTENA yang berada di bawah Rumah Salman Institut Teknologi Bandung. Gagasan tersebut lahir dari dua masalah yang saling terkait. Pertama, akses alat bantu prostetik bagi penyandang disabilitas masih terbatas karena harganya relatif mahal dan pembuatannya bergantung pada bahan baku impor. Kedua, limbah plastik HDPE sangat melimpah dan membutuhkan waktu lama untuk terurai sehingga seringkali berakhir di tempat pembuangan akhir serta mencemari lingkungan.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Malikha, HDPE daur ulang yang digunakan memenuhi standar minimum material prostetik, yakni berkekuatan tarik 26‑33 Mpa. Penggunaan material daur ulang juga mampu menurunkan biaya bahan baku menjadi 2 dolar per unit atau Rp. 35 ribu. Dengan demikian, inovasi ini berhasil menjawab dua masalah besar sekaligus," tutur Arya.
Melihat dampak positif PROBAPLAS, tim kemudian merancang website terintegrasi berbasis gamifikasi serta program sosial bernama Eco Hero. Program ini ditujukan untuk mendorong kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan partisipasi dalam mewujudkan ekonomi sirkular. Arya memaparkan, selain pada aspek material dan manufaktur, PROBAPLAS juga mengintegrasikan pendekatan circular economy melalui pengembangan sistem bank sampah digital berbasis gamifikasi. Lewat sistem itu, masyarakat dapat menyetor limbah plastik HDPE ke unit sampah, memperoleh poin yang tercatat secara digital, lalu mengonversinya menjadi nilai ekonomi.
Hal terpenting, proyek ini tidak berhenti di tahap riset atau kompetisi. Tim mulai mengimplementasikan model produksi prostetik secara langsung melalui kolaborasi bersama mitra prostetik dan komunitas pemberdayaan disabilitas. Beberapa prostetik sudah disalurkan kepada pihak yang membutuhkan," tambahnya.
Dosen pembimbing Arya, Dr. Maurish Sofie Rahmi Batita, menilai ide yang dikembangkan tim tersebut cukup menjanjikan. Menurutnya, inovasi itu tidak hanya berpotensi menjadi produk unggulan bagi penyandang disabilitas, tetapi juga tetap memperhatikan aspek lingkungan. "Ide dan prototipe yang Arya dan tim kembangkan bisa menjadi produk unggulan bagi kaum disabilitas, namun juga masih tetap memperhatikan kesadaran lingkungan," ungkapnya.
Proyek PROBAPLAS menunjukkan bagaimana limbah plastik dapat diubah menjadi solusi kesehatan sekaligus penggerak ekonomi sirkular. Dengan biaya rendah dan proses yang dapat dipertahankan, inisiatif ini memberi contoh konkret bahwa inovasi dapat menyelesaikan dua masalah sekaligus: meningkatkan akses alat bantu bagi disabilitas dan mengurangi dampak lingkungan dari limbah plastik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
