Mahasiswa corpse paint sidang tugas akhir, viral
Gambar atau konten salah?
Sebuah momen sidang tugas akhir di Telkom University Purwokerto mendadak viral di media sosial. Bukan karena topik penelitiannya, melainkan penampilan sang mahasiswa yang menggunakan riasan corpse paint, ciri khas musik black metal. Potongan video dan foto yang beredar langsung membuat banyak netizen salah fokus.
Peristiwa ini pertama kali diunggah oleh akun Thread @adit505 tiga hari lalu. Ternyata, pengunggahnya adalah Aditya Tama Isdiarto, salah satu dosen penguji mahasiswa tersebut. Ia membagikan dokumentasi sidang mahasiswa bimbingannya dengan keterangan 'ujian dalam keadaan black metal'. Unggahan itu kemudian menyebar luas hingga ke platform Instagram.
Di balik penampilan yang mencolok itu, ternyata ada riset akademik yang serius. Mahasiswa tersebut bernama Ragatama Ar-Rauf Rahmaputra, atau akrab disapa Raga. Dalam sidang tugas akhirnya, ia mengangkat karya berjudul 'Perancangan Buku Komik Dokumenter Perjalanan Band Santet sebagai Artefak Visual'. Karya ini mendokumentasikan perjalanan Band Santet, sebuah band black metal legendaris asal Banyumas, ke dalam bentuk komik dokumenter. Tujuannya adalah merekam sejarah sekaligus perkembangan subkultur musik black metal di daerah tersebut.
Galih Putra Pamungkas, Kepala Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Telkom University Purwokerto, menjelaskan bahwa penampilan Raga bukan sekadar untuk menarik perhatian. Menurutnya, penggunaan kostum atau cosplay yang sesuai dengan objek penelitian sudah menjadi bagian dari metode pembelajaran di prodi tersebut selama sekitar tiga tahun terakhir.
"Cosplay itu memang kami wajibkan kepada mahasiswa ketika melakukan presentasi Tugas Akhir. Tujuannya bukan sekadar unik atau mencari perhatian, tetapi menjadi bagian dari proses akademik agar mahasiswa tidak memiliki jarak dengan objek yang ditelitinya. Dengan begitu mereka dapat lebih memahami, menginternalisasi, dan mengomunikasikan hasil penelitiannya secara lebih utuh," kata Galih dalam siaran persnya pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Galih menambahkan, sebagai disiplin ilmu yang berada di persimpangan seni dan komunikasi, DKV mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya yang orisinal, kreatif, dan memiliki karakter kuat. Mahasiswa diberi ruang untuk berekspresi, selama tetap sesuai norma dan mampu mempertanggungjawabkan konsep yang diangkat secara akademik.
Meski demikian, Galih menegaskan bahwa penampilan mahasiswa sama sekali tidak memengaruhi hasil sidang. "Penilaian tetap berfokus pada kualitas proses bimbingan, kedalaman riset, laporan ilmiah, hasil perancangan, serta kemampuan mahasiswa mempertahankan karya di hadapan dosen penguji," ujarnya.
Viralnya sidang tersebut terjadi di luar dugaan pihak kampus. Unggahan itu menyebar ke berbagai platform media sosial, dibagikan oleh akun-akun dengan jutaan pengikut, hingga akhirnya diberitakan oleh sejumlah media nasional. "Kami tentu senang karena karya mahasiswa akhirnya mendapat perhatian masyarakat. Artinya, upaya mahasiswa dalam mengomunikasikan objek risetnya berhasil tersampaikan kepada publik. Ini menunjukkan bahwa komunikasi visual yang mereka bangun dapat diterima oleh audiens yang lebih luas," tutur Galih.
Raga sendiri mengaku memilih Band Santet sebagai objek penelitian bukan tanpa alasan. Menurutnya, band asal Banyumas tersebut memiliki nilai historis dan budaya yang layak didokumentasikan sebagai bagian dari perkembangan subkultur musik di Indonesia. "Band Santet memiliki nilai historis dan budaya. Menurut saya, perjalanan mereka layak diangkat dalam sebuah dokumentasi," ujar Raga.
Ia memilih media komik dokumenter karena memiliki ketertarikan terhadap medium tersebut. Selama penyusunan tugas akhir, Raga menghabiskan sekitar tiga bulan untuk melakukan riset melalui observasi, pengumpulan data, dan wawancara langsung dengan personel Band Santet. Setelah itu, ia membutuhkan sekitar dua bulan untuk merancang buku komiknya.
Saat sidang berlangsung, Raga sengaja mengenakan corpse paint yang identik dengan penampilan Band Santet saat tampil di atas panggung. "Saya menggunakan corpse paint untuk merepresentasikan Band Santet yang memang identik dengan penampilan tersebut saat manggung," katanya.
Tak disangka, dokumentasi sidangnya justru viral dan ramai diperbincangkan warganet. Raga mengaku sama sekali tidak menyangka respons publik akan sebesar itu. "Saya kaget dan nggak nyangka karena tiba-tiba ramai. Rasanya seperti mimpi," ungkapnya.
Ia berharap masyarakat tidak hanya terpaku pada penampilannya saat sidang, tetapi juga melihat proses riset dan pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut.
Kejadian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang tidak biasa, seperti mewajibkan cosplay saat presentasi, bisa menjadi cara efektif bagi mahasiswa untuk mendalami objek penelitiannya. Meskipun penampilan Raga yang menggunakan corpse paint menjadi sorotan utama, substansi dari penelitiannya tentang sejarah Band Santet dan subkultur black metal di Banyumas tetaplah inti dari karya akademiknya. Respons publik yang besar justru membuktikan bahwa pesan yang ingin disampaikan Raga melalui komunikasi visual berhasil menjangkau audiens yang lebih luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rem Blong, Truk Minyak Tabrak 4 Motor-Mobil
KPK Segel Ruang Pemkab Sukoharjo Usai OTT Bupati
Galangan Kapal Majapahit Ditemukan di Rembang
Balita Tewas Digigit Ular Saat Tidur di Pekalongan
McLaren Andra ST Terbelah, Kecelakaan Tunggal di Sukoharjo
Ombudsman Selidiki Arah Beli Seragam di Toko Tertentu
Berita Terbaru
Rudi Margono Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Gantikan Febrie
Mahasiswa corpse paint sidang tugas akhir, viral
Tanggul Lapindo Porong Tersisa 45 Sentimeter
Petugas Samsat Datangi Rumah Warga yang Belum Bayar Pajak
Head to Head Inggris Vs Norwegia: Tiga Dekade Tanpa Kemenangan
Keyne Yamal, Adik Lamine, Curi Perhatian di Piala Dunia
Pemerintah Aktifkan SRUK, Pilih Registri Karbon Bebas
Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus, Rudi Margoni Jadi Plt